
" Apakah saya bisa sembuh dok? " tanya sofia setelah Angellia memeriksa kakinya.
" kemungkinan untuk sembuh sangat besar,, hanya perlu terapi saja. " ucap dokter cantik itu.
" mungkinkah dalam satu bulan saya bisa sembuh? " tanya sofia penuh harap.
" tidak ada yang tidak mungkin, jika tuhan sudah menghendaki. yang penting nona semangat dan tetap positif thinking jika nona pasti akan sembuh.. " ucap dokter Angellia memberi semangat.
" iya mudah mudahan saya bisa sembuh dan bisa berjalan kembali. " ucap sofia penuh harap.
" ia mudah mudah saja begitu,, baiklah, besok pagi terapinya akan saya mulai. dan besok pagi saya akan ke sini untuk melatih nona berjalan. " ucap Angellia yang di jawab senyuman oleh Sofia.
.
Keesokan harinya, Sofia mulai menjalani terapinya, mulai dari rangsangan terhadap kaki, dan lain lain.
dengan di bantu dokter Angellia, perlahan sofia mulai bisa menggerakkan kakinya, dan mulai bisa berdiri walaupun hanya beberapa detik.
selang dua minggu, perkembangan terhadap kaki sofia makin meningkat, bahkan sekarang dia sudah bisa berjalan walaupun hanya dua sampai tiga langkah.
perkembangan itu semakin membuat sofia semangat untuk terus berusaha berjalan. saat latihan berjalan, sesekali Maria menemani sofia, namun tidak sering karena Maria harus ikut les dan pemantapan untuk ujian akhir nanti.
" yess,, dokter, kau harus mencatatnya, aku sudah bisa berjalan sebanyak lima langkah. aku sangat bersemangat." ucap sofia dengan girang.
" iya itu adalah rekor yanga sangat baik untuk perkembangan kesembuhan kaki anda nona. " ucap dokter Angellia tak kalah semangat.
" aaa aku senang sekali,, ayo berlatih lagi!" ucap sofia yang hendak berdiri namun dokter Angellia menghentikan nya.
" nona, untuk hari ini sudah cukup. nona sudah berlatih mampir lima jam, terlalu di paksakan bisa membuat cidera. " ucap dokter Angellia mengingatkan.
" hah,, benar aku terlalu bersemangat untuk sembuh. " ucap sofia lesu.
" tidak usah khawatir nona, nona bisa berlatih besok. sekarang sudah sore, nona istirahat lah dulu. " ucap Dokter Angellia mengingatkan.
" hah,,, terima kasih untuk hari ini dokter,, kau tidak mau makan dulu? mumpung bibik inah sudah selesai masak?." tanya sofia menawarkan
" ah, saya rasa tidak nona, saya ada acara keluarga setelah ini. terima kasih atas tawarannya. " ucap Angellia lalu pamit pergi.
jadilah malam ini sofia hanya makan sendiri, lalu dimana Maria? maria tengah belajar kelompok untuk ulangan kelulusan nanti, jadilah akhir nya sofia hanya makan sendiri.
sehabis makan, sofia langsung ke kamarnya, setelah membersihkan diri, sofia pun merebahkan dirinya di kasur. tiba tiba dia teringat akan Austin.
ya sudah hampir tiga minggu sejak Austin keluar negeri dan mereka tak pernah telfonan untuk sekedar melepas rindu.
Sofia pun mengambil ponsel nya dan memencet kontak Austin, ia berencana akan mengabari Austin tentang perkembangan kakinya.
setelah beberapa detik, akhirnya Austin menjawab panggilan dari sofia.
" halo" sapa Austin dari belahan dunia lainnya
" hai, gimana kabar mu? " tanya sofia
" baik,, bagaimana? apa kau sudah melakukan mengobatan? " tanya Austin dengan suara serak.
" sudah,, eh suara mu kenapa? tunggu kalau di prancis kan sekarang sudah jam 2 pagi? kau bergadang lagi? " tanya sofia geram.
" iya,, he he he. "jawab Austin nyengir
__ADS_1
" aku kan sudah bilang, kau jangan sering sering bergadang. tapi kenapa kau tidak mendengarkan ku, dan tadi suara mu juga serak. kau makan apa saja di sana? dan kenapa bisa suara mu serak begitu? " omel Sofia.
Austin yang mendengar omelan Sofia seketika tersenyum
" kau cerewet sekali? dan apa tadi? kau sudah berani ya memarahi ku? mau aku hukum? hah? sepertinya bibir mu sudah lama tidak ku ***** ya? " tanya Austin dengan nada yang marah.
" mmm bu bukan begitu, aku mengatakan itu bukan berniat untuk memarahi mu, aku cuma ingin mengingatkan agar kau menjaga kesehatan mu sendiri. jangan bergadang." ucap sofia dengan suara lembut.
" sebenarnya aku sudah tidur tadi, tapi kau yang menelfon ku jadi ya aku terbangun. " ucap Austin
" eh jadi kau terbangun gara gara panggilan ku,,, maaf maaf, lanjutkan saja tidur mu, aku akan tutup sekarang. " ucap sofia berniat mengakhiri telfon tetapi suara Austin langsung menghentikan pergerakan tangan sofia.
" berani kau menutup telfon ini. pulang dari sini ku makan kau sampai habis. " ancam Austin dengan nada marah.
" kau ingin membunuh ku? " tanya sofia sedikit takut.
" ckk bukan! " ucap Austin
" trus apa? tadi kau bilang ingin memakan ku! kau kani***?" tanya sofia takut takut.
" aahkkk bukann,,, bukan itu maksud ku,, tapi ahh sudahlah. " ucap Austin frustasi
" kau aneh. " ucap sofia seketika membuat Austin kesal.
" kau mengataiku aneh? wah wah wah,, seperti nya aku memang harus memakan mu. " ucap Austin dengan suara dingin
" he he he maaf, aku cuma bercanda,, jangan begitu lah, jika kau memakan ku dimana lagi kau akan mendapatkan istri yang secantik aku? aku kan Limited Edition." ucap Sofia percaya diri sembari terkikik geli dengan ucapannya sendiri.
" Hei seperti nya saat aku pergi, kau sudah terkena virus narsis.. " ucap Austin
" yeee buka virus, tapi kan aku memang benar cantik. " ucap sofia percaya diri.
obrolan tak berfaedah itu masih terus berlanjut, mereka memanfaatkan waktu dengan mengobrol dan sesekali bercanda. kadang kadang saling mengejek. dan kadang kadang juga bertengkar. bahkan Austin bisa tertawa lepas saat mengobrol bersama sofia.
entah kenapa waktu sangat cepat sekali bergulir, dan tak terasa sofia dan Austin sudah mengobrol selama tiga jam lebih, tanpa mereka sadari.
merasa sudah sangat lama mengobrol, mereka pun akhirnya mengakhiri panggilan itu. walaupun sofia masih merindukan Austin, namun ia hanya bisa sabar menunggu sampai Austin pulang.
Karena sudah larut malam, sofia pun akhirnya tertidur.
sedangkan di belahan dunia lainnya, di waktu yang berbeda. Austin masih terjaga dengan memegang ponselnya.
jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, guratan senyum terlihat di wajah Austin.
tadinya mood Austin sangat buruk, di karenakan pekerjaan bawahannya yang tidak benar saat bekerja. namun entah kenapa saat menerima telfon dari sofia, seketika membuat mood nya langsung membaik.
jam di samping nakas nya pun berbunyi, memberitahu jika sudah jam lima pagi.
mendengar itu Austin pun menaruh ponselnya yang telah mati di nakas dan berlalu menuju kamar mandi.
setelah selesai mandi, Austin mengambil pakaian yang sudah di susun berdasarkan warna. bahkan pakaian Austin di siapkan seperti celana dengan jas dan lain lain yang harus di pakai Austin, hal itu di lakukan agar memudahkan Austin dalam mengambil pakaian nya.
sepanjang kegiatannya memakai pakaian, entah kenapa ingatannya terus teringat pada wanita yang selama tiga minggu ini tak ia temui.
ada rasa di hatinya yang tak bisa ia ungkapkan
apakan dia merindukan nya?
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambungg......