
Di sebuah kamar yang baru saja terjadi pergumulan panas, kini kedua orang yang sudah menumpahkan keringat dan benih mereka tengah berbaring sembari saling memeluk.
sesekali sang pria mengecupi kepala wanita nya sambil bergumam tidak jelas.
sedangkan sang wanita hanya diam saja sembari memejamkan matanya.
kriiukkkkkkk!!
suara dari perut sofia terdengar nyaring di dalam kamar tersebut. Austin yang sedang tidur pun langsung membuka matanya setelah mendengar suara perut Sofia yang begitu nyaring di keheningan malam.
sedangkan sofia hanya meringis malu sembari membenamkan wajahnya di dada bidang Austin.
tanpa banyak bicara, Austin segera mengangkat tubuh Sofia dan berjalan ke kamar mandi.
dengan telaten, Austin memandikan Sofia dan menggosok punggung nya. sedangkan Sofia hanya menunduk malu saat melihat pedang yang membuatnya sakit sedang berdiri dengan gagahnya.
setelah selesai memandikan Sofia, Austin pun dengan telaten mengelap tubuhnya dan memakaikan pakaian.
setelahnya barulah ia mengurus dirinya sendiri, walaupun sofia masih membantunya mengancingkan baju.
setelah itu, mereka pun turun ke bawah dan menuju arah dapur dengan Austin yang terus menggendong tubuh ringan Sofia.
sampai di meja makan, Austin pun masih sibuk melayani Sofia bak tuan putri. namun begitu, sofia tetap melaksanakan tugasnya dengan mengambil kan makanan dan menaruhnya kepiring Austin.
setelahnya mereka pun makan dengan keheningan. setelah selesai makan, Austin kembali mengangkat tubuh Sofia dan berjalan menuju ruang tv.
Sedangkan meja makan mulai di bereskan oleh para pelayan mansion.
sampai di ruang tv, dengan perlahan Austin meletakan Sofia di sofa dan memberikan remot tv padanya.
" tontonlah acara kesukaan mu, aku akan mengerjakan pekerjaan ku. " ucap Austin datar dan beranjak pergi.
" bisakah kau menemani ku menonton? " ucap Sofia sambil menggenggam tangan Austin yang hendak pergi.
Saat mendengar ucapan Sofia seketika wajah Austin menjadi suram, dan seketika auranya semakin dingin.
" apa kau sedang berusaha untuk merendahkan ku? " tanya Austin dengan suara yang begitu tajam dan terdengar semakin menusuk.
" mmm bu bukan be begitu, aku hanya ingin menonton bersama mu." ucap Sofia sembari semakin mencengkeram pergelangan tangan Austin.
" jadi? maksudmu kau ingin menonton bersama orang buta? hah begitu?? " tanya Austin geram sembari mencengkeram dagu Sofia dengan wajah yang memerah karena marah.
karena cengkeraman Austin sangat keras, membuat dagu Sofia sakit dan meneteskan air mata.
" bu bukan be begitu, aku hanya ingin kita menonton bersama. aku ingin kekurangan kita tidak membuat kita kehilangan momen seperti pasangan pada umummya. aku tidak bermaksud untuk merendahkan mu, aku hanya ingin kau tidak hanya fokus pada pekerjaan aku ingin kau sesekali menikmati hiburan. bukankah selama di kantor kau sudah bekerja? aku ingin kau menikmati waktumu saat dirumah. " ucap Sofia jujur sambil meneteskan air matanya karena Austin tak juga melepaskan cengkeraman di dagunya.
Setelah mendengarkan ucapan Sofia seketika Austin melepaskan cengkeraman di dagu sofia dan langsung pergi meninggalkan Sofia tanpa berkata apa apa.
sedangkan sofia hanya diam sembari menatap punggung Austin dan menghilang menuju ruang kerjanya.
Sofia menghapus air matanya dan mematikan tv. sesekali dia menghela nafas.
" aku rasa ini memang salah ku, aku telah menyingung perasaan nya. dia pasti sakit hati dan sedih. ini salah ku, aku pantas mendapatkannya perlakuan kasar dari nya. " ucap Sofia sembari menghapus air matanya dan perlahan berjalan menuju lift ke lantai 3, ke kamarnya dan suaminya.
__ADS_1
.
3.00
tepat pukul tiga pagi namun Sofia belum juga tidur. dia masih berjaga sambil terus menunggu suaminya datang ke kamar.
walaupun sudah beberapa kali menguap, namun tak menyulitkan Sofia untuk tetap berjaga demi minta maaf pada suaminya.
karena sudah terlalu larut, akhirnya sofia pun memberanikan diri ke ruangan kerja suaminya.
tiba di depan pintu ruangan kerja suaminya, ragu ragu sofia mengetuk pintu tersebut. namun karena tak mendengar sahutan, akhirnya Sofia pun membukan pintu ruangan Kerja Austin.
pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah, seorang pria yang tengah duduk seraya mendengarkan rekaman dari Dokumen yang ia pegang, sesekali dia berbicara dan merekam nya lewat sebuah alat perekam.
" mmm suami? su sudah malam. a ayo ki kita tidur. " ucap Sofia yang berbicara dengan gugup mengingat pertengkaran mereka yang terjadi karena diri nya.
mendengar suara Sofia, sontak Austin langsung tersadar.
" Jam berapa ini? " tanya Austin dengan suara datar.
" jam 3 pagi. tidur lah ini sudah sangat larut. tidak baik bergadang terlalu malam. itu bisa mengganggu kesehatan. " nasihat Sofia sembari menghampiri suaminya itu.
" mmm, aku akan tidur nanti. lagi pula aku sudah biasa bergadang. "ucap Austin datar sembari merapikan dokumen yang sudah selesai di tanda tangani.
" tapi tetap saja itu tidak baik untuk kesehatan. tidurlah, bukan kah kau sangat kaya? apakah kau akan miskin jika tidur hanya beberapa jam? " tanya sofia berusaha menggenggam tangan Austin lembut. bahkan Austin pun sampai gugup karena bersentuhan langsung dengan kulit halus Sofia.
" mmm baiklah ." ucap Austin sembari melepaskan genggaman tangan sofia dan melangkah menuju pintu.
lalu menyusul Austin, saat masuk ke kamar ia melihat jika Austin sudah membaringkan tubuhnya di kasur dan nafasnya pun sudah teratur pertanda jika ia sudah terlelap dalam mimpi.
melihat itu Sofia pun tersenyum, sudah ia duga jika Austin pasti sangat kelelahan.
perlahan ia mulai naik ke kasur dengan susah payah. hingga akhirnya dia bisa berbaring tepat di samping Austin.
dipandangnya wajah lelap Austin yang seperti seorang bayi tanpa dosa. dengan perlahan dia mengelus wajah itu dan dengan perlahan mengecup kening nya dengan lembut.
" tidur lah yang nyenyak. semog mimpi indah. " bisik Sofia sebelum ikut tidur menuju mimpi.
namun setelah Sofia ikut terlelap, tiba tiba sebuah tangan langsung memeluknya dan membawa tubuhnya ke pelukan hangat.
" terima kasih sudah perhatian pada ku. " ucap Austin di sela sela tidurnya.
.
tak terasa pagi pun tiba, walaupun matahari sudah tinggi namun tetap saja tidur dua sejoli ini tak terganggu sama sekali.
tok tok tok...
namun ketukan pintu membuat Sofia terbangun. sesaat dia duduk dan mngumpulkan nyawanya sebelum akhirnya mulai melihat jam yang ada di samping nakasnya.
09.00
saat melihat jam tersebut, seketika Sofia langsung terbelalak .
__ADS_1
" astaga! ini sudah sangat siang!!." ucap Sofia sambil melihat pria yang masih tidur dengan anteng di sampingnya.
sementara pintu kamarnya masih saja terus di ketuk.
mau tidak mau, akhirnya sofia pun meraih kursi rodanya. namun karena baru bangun dan kepala nya masih sedikit sakit, membuat Sofia kesulitan mengambil kursi rodanya. hingga..
brukkk!!.......
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambungggg.....
__ADS_1