
"Juna, ini aku bawakan teh buat kam- "
"JUNA "
Kaula segera meletakkan nampan diatas meja, menghampiri Juna yang tengah meringuk kesakitan dengan tangan yang sudah bersimbah darah merah segar.
Kulit jari kelingking Juna sobek, itu terjadi karena Juna tak sengaja melukai jarinya sendiri menggunakan alat pemotong rumput.
Alat mesin itu rusak beberapa saat, lalu dengan otak kecilnya Juna berniat untuk mecek keadaan mesin tajam yang ada dibawah alat pemotong rumput dan memasukkan lengannya disana, tiba-tiba saja mesin itu kembali menyala dan melukai jari kelingking Juna.
Kaula merobek kain taplak yang ia bawa ditangannya, dan segera menyumbat luka Juna supaya tak mengeluarkan banyak darah.
"Sebentar aku ambilkan kotak P3K dulu " Kaula bergegas masuk kedalam rumah mengambil kotak P3K yang tersimpan didalam laci nakas.
Kaula segera membuka kotak tersebut, meneteskam obat merah diatas kapas lalu meletakkannya di tempat jari kelingking Juna yang luka- direkatkan menunggunakan hansaplas.
"Aa.. perih "
"Kamu jangan ngagetin " seru Kaula menggeplak bahu Juna, raut wajah Kaula tampak khawatir.
Berbeda dengan Juna, ia masih sempat-sempatnya terkekeh kecil melihat reaksi Kaula yang menurutnya berlebihan.
Dan disaat yang seperti itu, tiba-tiba Bella datang karena hendak mencari Juna.
Mata Bella seketika membulat melihat Juna seperti menahan pedih diwajahnya. Bella lantas menghampiri Kaula dan Juna yang duduk tanpa alas diatas rumput hijau yang panjang sebagian.
"Kamu kenapa Juna "
Kaula menoleh, "Jari kelingking Juna terluka nona, robek, lukanya harus dijahit supaya tidak infeksi " usulnya seraya mengepal jari kelingking Juna.
"Kamu benar." Bella kembali masuk kedalam rumah untuk memanggil seorang dokter datang kemari.
...▪️▪️▪️...
Leha mengibas-ngibas seragamnya, menghilangkan sedikit noda debu yang masih menempel. Lalu merapikan kerah. Senyum Leha seketika mengembang melihat bayangan dirinya dari layar ponsel menggunakan kamera depan.
"Sama kayak seragam aku dulu " ucapnya kembali mengenang masa lalu.
Seragam warna pastel dengan rumbaian melingkar dari bahu kanan- kiri, serta kancing mutiara putih dari leher hingga pinggul, lengkap dengan dua buah kantung saku di sekitar pinggang untuk meletakkan benda kecil. Cantik, dan elegan.
Sekilas mirip dengan seragam Leha dulu saat ia masih menjadi seorang guru.
Leha keluar dari kamarnya untuk menemui Bella mengenai pekerjaan apa yang harus ia lakukan nanti. Kepalanya menoleh saat melihat Bella yang baru saja melintas didepannya menuju telpon seluler.
Ekspresi wajah Bella tak seperti biasanya.
"Nona Bella kenapa? " cicit Leha sembari mengamati Bella dari kejauhan.
Samar-samar Leha mendengarkan percakapan Bella dengan seseorang dibalik telpon.
__ADS_1
"Ada yang terluka "
"Cepat kesini "
Telpon itupun berakhir dengan hembusan berat Bella. Bella kemudian memijat keningnya perlahan, menghilangkan rasa pening yang mengganggu.
Penasaran, Leha pun mendekati Bella yang masih berdiri disana. Belum sempat Leha mendekati, Arga lebih dulu menyambar dirinya.
"Leha, bagaimana keadaan mu? " tanyanya menuruni anak tangga selepas sarapan pagi bersama Zayn di balkon kamar.
Bella lantas menoleh kebelakang, mendapati Leha yang sumringah menjawab pertanyaan Arga.
"Baik tuan " balasnya.
Arga tersenyum tipis lalu mengangguk, beralih melihat Bella yang masih dengan raut wajah gundah. *******-***** jari-jemarinya sendiri. Khawatir.
"Lalu, bagaimana keadaanmu nona Bella? raut wajahmu tampak tidak biasa "
"Iya tuan, saya baik-baik saja. Tapi tidak dengan Juna, jari kelingkingnya terluka akibat mesin pemotong rumput "
"Apa " sentak Leha yang mendengar penjelasan Bella.
Arga seketika mengedikkan bahu, ia mecepatkan langkahnya menuruni anak tangga mendekati posisi Bella.
"Dimana Juna sekarang? "
"Di halaman samping tuan, Kaula sudah memberikan pertolongan pertama." Jelas Bella.
◾◾
"Kayaknya aku bakalan mati deh "
Plak
Satu pukulan pelan melayang kearah bibir Juna setelah ia berucap kalimat itu. Kaula mendengus kesal lalu meraih jari kelingking Juna yang terluka.
"Jangan bercanda Juna " ujar Kaula mengamati jari kelingking Juna yang masih mengeluarkan darah dari sela-sela kapas.
Juna hanya terkekeh lalu menyenderkan punggung di pohon besar yang ada disitu. Cukup rindang dan teduh untuk dirinya bernaung dari sinar matahari pagi.
"Khawatir? "
Kaula melirik Juna dengan tatapan tajam dengan bibir yang ia monyongkan sedikit.
"Nggak " balas Kaula cepat bangkit dari posisi awalnya menuju meja.
Kaula berjalan, meraih cangkir teh yang ia siapkan sebelumnya dan menyerahkan teh hangat itu kepada Juna yang masih meriuk kesakitan.
"Diminum dulu " ucapnya seraya ikut memegangi cangkir teh yang Juna pegang untuk diteguk.
Tiga tegukkan teh sudah Juna minum, ia ber- Ah setelah meminum teh buatan Kaula yang selalu enak seperti biasa.
__ADS_1
"Enak " Juna memuji teh buatan Kaula.
"Jangan bicara yang aneh Juna, sekarang liat tuh luka kamu masih keluar darahnya. Aku harap sih jari kamu di amputasi "
"Uhug " Juna seketika tersedak mendengar kata terakhir dari Kaula.
"Kamu tuh ya, awalnya aja khawatir tapi ujung-ujungnya su- "
"Suttt! " cepat Kaula meletakkan jari telunjuknya dibibir Juna. Agar lelaki berkacamata itu lekas diam. Namun ditepis oleh Juna, tak suka.
Arga-Leha-Bella, pun tiba di tempat Juna dan juga Kaula berada. Mereka bertiga shock melihat baju serta celana Juna yang sudah bersimbah darah. Bukan hanya Juna, melainkan juga dengan seragam Kaula.
Kaula menoleh kebelakang, merapikan anak-anak rambutnya yang berantakan dan menghampiri Arga.
"Tuan Arga " lirih Kaula. Mengibaskan kuncirannya kebelakang.
Arga menyingsing lengan baju kemeja kiri dan kanannya. Melaraskan tingginya dengan Juna yang masih bersender di pohon besar yang rindang. Lalu menoleh kearah Kaula.
"Jangan sampai Tuan Zayn tau."
...▪️▪️▪️...
Juna mendudukan tubuhnya di bibir kasur. Setelah beberapa percakapan antara Arga, Kaula, serta Bella. Mereka pun sepakat memindahkan Juna ke gudang belakang, bersama Leha untuk ditemani.
Sedangkan Kaula akan merapikan alat pemotong rumput, Arga akan menemui Zayn, dan Bella akan bertugas seperti biasanya.
Juna perlahan membaringkan tubuhnya di kasur kapuk, syukurlah gudang itu masih menyediakan tempat tidur untuk seorang penjaga kebun seperti dirinya.
Leha menyeret bangku yang ada dekat bingkai pintu, menyeret bangku tersebut ke samping kasur Juna.
"Juna " panggil Leha mendudukan tubuhnya pelan.
Merasa terpanggil, Juna lantas menoleh kesamping kiri.
"Ada apa Leha? "
"Kamu perlu sesuatu? " tanya Leha.
Juna menggeleng pelan. Dari raut wajah Leha bisa dipastikan perempuan bersurai sebahu itu dibenaknya penuh akan tanda tanya. Juna pun mencoba menanyakan hal itu kepada Leha. Dan benar saja, Leha memang mempunyai pertanyaan dibenaknya.
"Kenapa kita tidak masuk saja kedalam rumah? Bukannya setauku ada tempat untuk istilah Urus jika ada yang sakit? "
Juna menghela nafas panjang, melepaskan kacamata putih yang sedari tadi menyengker dibatang hidung manjungnya. Meletakkan kacamata itu disamping tubuh.
"Hmm ... Bagaimana caraku menjelaskannya ya? " Juna berseru melirik kearah Leha yang sudah penasaran.
......▪️▪️▪️▪️......
^^^|9.04 PM| Ribuan bulir air gerimis jatuh mengenai genting. Dan kepalaku sedikit pening.^^^
...^^^Maaf ada paragraf yang tidak memakai pict, karena memory aku hampir penuh jadi di ganti kotak hitam kecil-kecil.^^^...
__ADS_1
...:)...