Tuan Zayn

Tuan Zayn
Hujan


__ADS_3

Malam begitu senyap dan sepi, tak ada Kilauan bintang dan rembulan diatas sana. Hanya ada lautan kegelapan tanpa setitik terang.


Jam dinding yang ada diruang utama sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Namun Zayn dan Arga belum juga pulang dari kerjanya. Mungkin ada sesuatu yang mendesak seperti biasa.


Bella menutup sambungan telpon dan berjalan menghampiri pelayan lain yang sedang berkumpul di dalam ruangan Aula.


Bella berdeham menarik perhatian pelayan yang sedang berbincang.


"Tolong dengar baik-baik "


"Aku baru saja mendapat panggilan dari tuan Arga, katanya mereka sedang terjebak macet. Jadi kemungkinan mereka datang akan sedikit larut. Jadi kita bisa makan lebih dulu, karena tuan Zayn dan tuan Arga sudah makan malam diluar."


Semua pelayan mengangguk serentak.


Setelah mengatakan itu Bella kembali keluar ruangan. Menyiapkan makanan untuk mereka makan nanti disusul oleh beberapa pelayan yang ikut membantu.


◾◾


Makan malam mereka selesai dengan tenang, sambil diringi oleh dentuman dan kilat dari atas sana. Seolah hendak mencurahkan hujannya.


Leha mengangkut piring kotor, meletakkannya di tempat cuci piring. Sekarang tugasnya untuk membersihkan tumpukkan piring-gelas- sendok yang kotor tersebut.


"Ini, jangan lupa dicuci bersih " tutur Sida menaruh piring bekas ia makan.


Leha melempar senyuman tipis diringi anggukkan kecil.


"Iya "


Jarum pendek sudah bergerak menunjukkan pukul setengah sembilan. Dan para pelayan sudah ada yang kembali ke kamar mereka masing-masing.


"Leha, aku udah ngantuk banget nih, yuk ke kamar " ajak Kaula sudah tak tahan menahan rasa kantuk.


"Kamu duluan aja, pekerjaanku belum selesai "


Kaula menguap lebar hingga membentuk huruf O besar. "Beneran? " tanyanya.


Leha mengangkat tangannya yang penuh busa, mengibas-ngibaskannya kesembarang arah. Mendorong punggug Kaula untuk kembali saja lebih dulu.


"Iya, kamu tidur aja sana."


Leha melambai kearah Kaula yang berjalan sempoyongan didepan sana. Merasa perempuan berkuncir satu itu sudah jauh, Leha kembali melanjutkan pekerjaan cuci piringnya, membilas beberapa piring yang sudah ia baluri busa sabun.

__ADS_1


Waktu cepat berlalu, dan hujan sudah turun membasahi tanah yang penuh rumput di halaman rumah Zayn. Dingin dan sepi di ruang dapur.


Setelah mengering dan meletakkan piring di tempatnya, Leha kemudian menghela nafas pelan.


"Selesai juga." ucapnya sembari mengeringkan tangannya menggunakan lap tangan yang mengantung disisi kiri.


......▪️▪️▪️......


Belasan mobil tengah berjejer memenuhi jalan raya, sorot lampu dari masing-masing mobil seolah menjadi penerang malam itu.


Zayn menurunkan kaca mobil, melongak melihat keadaan langit yang gelap tanpa bintang.


"Tampaknya akan segera turun hujan " gumamnya kemudian memasukkan kembali kepalanya.


Zayn menepuk pundak Arga yang duduk di bangku kemudi.


"Ada apa tuan? "


"Apa masih lama? "


"Sepertinya begitu, saya dengar-dengar ada truk muatan yang ban-nya bocor." Jelas Arga.


"Lebih baik kabari Kepala pelayan, untuk makan lebih dulu. Kasian kalau mereka harus menunggu lama kehadiran kita. "


"Tuan yakin? " tanya Arga memastikan, dan dibalas anggukan oleh Zayn.


◾◾


Setelah mengabari Bella, tak berselang lama hujan gerimis turun ditengah-tengah kemacetan.


Zayn segera menekan tombol yang ada di sebelah tangan kanannya, menaikkan kaca hitam itu supaya tertutup, dari tempias hujan.


Hawa dingin seketika menyergap badan mereka berdua.


Arga menoleh kebelakang memastikan keadaan Zayn disana. Kelopak mata Zayn menurun, menahan kantuk.


"Kalau tuan ngantuk, tuan tidur saja " usul Arga namun dibalas gelengan kepala.


"Aku baik-baik saja, aku harap kita segera tiba di rumah."


...▪️▪️▪️...

__ADS_1


Ketika Leha melewati ruang utama, tiba-tiba saja ia mendengar suara ketukkan pintu, namun samar oleh suara hujan yang deras.


Leha menempelkan telinga kanannya di pintu, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


Tok, tok, tok.


"Bella, Bella " panggil suara dari luar, suara itu tampak familiar. Leha lantas memutar kunci, membuka pintu.


Ditemuinya Arga yang sedang memopoh Zayn yang terlihat lemah.


"Tuan Zayn kenapa? " tanya Leha sambil membantu memopoh tangan Zayn satunya.


"Nanti aku jelaskan, bantu aku bawa tuan Zayn ke atas."


◾◾


Arga meletakkan Zayn perlahan diatas kasur. Tubuh Zayn terasa panas dari biasanya. tampaknya ia demam saat berada didalam mobil, ditambah cuaca hujan yang cukup deras mengguyur hingga membuat hawa dingin lebih terasa.


Leha meletakkan mangkok yang sudah ia isi air hangat di atas nakas. Leha mengambil kain, menculupkannya kedalam wadah, memutar dan menelpon kain putih tersebut diatas jidat Zayn.


"Kasian tuan Zayn " ucapnya mengelus rambut Zayn yang basah karena terkena gerimis hujan saat turun dari mobil.


Leha kemudian menoleh kearah Arga yang bersender didinding sambil menutupkan mata. Ia bangkit dan berjalan mendekati Arga yang tetap pada posisinya.


Leha menyingkai beberapa anak rambut yang menutupi jidat Arga, hingga tampak sadar membuat Arga terbangun.


"Maaf, aku kira kamu demam juga "


"Maksudnya, saya kira anda demam " ucap Leha mengulang perkataannya.


"Aku baik-baik saja, kamu bisa kembali ke kamar mu "


"Anda mau minuman hangat? supaya saya seduhkan untuk anda " tawar Leha merasa kasian pada Arga tampak mengigil kedinginan.


"Tidak usah " tolak Arga lembut sambil menepuk pundak Leha.


"Kamu kembali saja ke kamarmu " ucap Arga.


Leha mengangguk dan melangkah keluar dari kamar Zayn. Mengikuti perkataan Arga.


......▪️▪️▪️▪️......

__ADS_1


^^^^^^|8.08| PM. Mendekati bulan ramadhan.^^^^^^


__ADS_2