
"Apa tuan Zayn akan marah jika tau jarimu terluka? "
Juna menggeleng tersenyum lalu beralih melirik langit-langit gudang.
"Tuan Zayn itu seperti anak kecil. Tidak, maksudku hatinya seperti anak kecil yang mudah terluka "
Kening Leha mengerut tak paham maksud dari pernyataan Juna.
"Dulu, ada pelayan yang tidak sengaja kakinya luka dan berdarah karena pecahan piring yang mengenai kakinya. Dan tuan Zayn tahu akan hal itu. "
"Lalu? "
"Tuan Zayn menangis, air mata tuan Zayn tumpah. Dia terisak layaknya anak kecil melihat sebuah tragedi kelam. "
🔲🔲
"Arga, ada apa? "
Arga membalikkan badan setelah Zayn menepuk pundaknya.
"Tuan Zayn, " Arga berseru dan menepis beberapa pelayan lain yang saat itu tengah berkerumun membereskan pecahan kaca.
Supaya Zayn leluasa melihat pelayan yang terluka itu.
Pelayan bersurai hitam itu merintih kesakitan, memegangi pergelangan kaki kanannya yang terluka goresan kecil. Namun tetap saja sakit.
Zayn menghela nafas panjang dan mendekati pelayan itu, melaraskan tingginya. Tiba-tiba Zayn mengusap darah yang ada di kaki hingga pelayan yang lain tersentak.
"Jangan tuan, tangan tuan bisa kotor " ucap pelayan itu menahan lengan Zayn.
"Maafkan aku " Zayn tiba-tiba terisak, air matanya jatuh begitu saja membasahi pipinya.
Aneh, ini kali pertama bagi Juna melihat Zayn menangis seperti itu. Padahal itu hanya luka kecil yang tak seberapa, namun Zayn menangis seolah pelayan itu habis mengalami kecelakaan hebat.
Kaula menyikut lengan Juna, menyuruh lelaki berkacamata itu untuk lekas keluar menyelesaikan pekerjaannya.
Juna pun menuruti titah Kaula, ia keluar dari sana menuju halaman rumah setelah mengambil sebotol air mineral yang ada didapur.
......▪️▪️▪️......
Tok, tok, tok
"Permisi "
Leha-Juna sentak menoleh kearah bingkai pintu gudang. Mendapati sosok Kaula bersama Glen yang merupakan perawat rumah sakit.
Glen sendiri memang sering dipanggil dikediaman Zayn untuk mengobati Zayn maupun para pelayan yang lain, tapi tidak sepengetahuan Zayn.
Glen melangkah mendekati kasur, meletakkan tas hitam yang ia bawa diatas lantai samping kasur.
"Apakah parah? " tanya Glen sembari duduk di bangku yang disiapkan oleh Leha.
__ADS_1
Juna mendudukan tubuhnya, menunjukkan luka yang ia dapat pagi tadi kepada Glen. Kapas putih ditangannya kini benar-benar berubah menjadi warna kuning bercampur merah akibat darah.
"Tidak terlalu parah " balas Juna.
Kaula yang berkacak pinggang itu pun langsung memukul pelan kepala Juna.
"Tidak parah apanya, jari kamu itu robek " decak Kaula merapikan rambut Juna yang berantakan.
Leha tertawa kecil melihat reaksi Kaula barusan, seperti kakak kecil yang sedang memarahi adek besarnya.
"Sudah Kaula " Leha mencoba menenangkan Kaula.
Setelah mengamati luka Juna, Glen pun mulai membuka handsplas yang melilit jari kelingking Juna. Membersihkan kapas, darah dan mengoleskan alkohol rendah di sekitar luka Juna.
Glen meraih tas hitam yang ia bawa, mengeluarkan beberapa alat dari dalam sana. Memakai kaus tangan di kedua tangan, jarum, gunting dan benang sudah dikeluarkan. Tak lupa juga jarum suntik.
Perlahan bulir-bulir keringat mulai keluar dari kening Glen saat menjahit jari kelingking Juna. Dengan sigap pula Leha mengusap bulir keringat itu.
Jahitan di jari kelingking Juna pun selesai. Juna masih tertidur pulas di atas kasur karena efek suntikkan bius yang diberikan Glen.
"Sukurlah sudah selesai " Glen menghela nafas, tak lupa ia juga berterima kasih kepada Leha yang ikut membantunya.
"Tidak, Glen. Aku cuma membantu mengusap keringatmu saja, jadi tidak perlu berterima kasih. " ujar Leha seraya melempar senyuman.
...▪️▪️▪️...
Semua pelayan berkumpul di ruang makan kecuali Leha yang masih berada di gudang bersama Juna dan Glen disana.
Zayn meraih tisu mengusap bibirnya, menghapus noda makanan yang menempel disekitar mulut, seraya minik hazelnya menyapu setiap pelayan yang berdiri disana. Tak menjumpai dua sosok perempuan bersurai sebahu, dan perempuan berkuncir.
"Mana Leha dan Kaula? "
Arga terdiam sejenak, melirik kearah Bella yang kebetulan berada disana. Karena hanya mereka berdua yang paham bahasa isyarat Zayn saat itu.
Bella maju satu langkah mendekati meja makan, tak lupa ia memberikan tunduk hormat.
"Kaula sedang berada di kamarnya, mengganti seragamnya yang terkena noda lumpur tuan. "
"Leha? "
Kaula berdehem setelah tiba disana. Menarik perhatian Zayn dan juga Bella.
"Maafkan saya terlambat tuan " ucap Kaula setelah mengganti pakaiannya yang baru karena terkena darah Juna.
Zayn melirik kearah Kaula yang baru tiba lalu mengangguk.
Disaat Zayn hendak menanyakan keadaan Leha kepada Kaula, tiba tiba saja ponsel miliknya berdenting disaku celana. Zayn merogoh ponselnya menatap nama yang terpampang dilayar. Jenita.
Dentingan panggilan itu mati sebelum Zayn sempat mengangkat panggilan itu. Tak berselang lama, notif pesan WhatsApp dari Jenita muncul.
Jenita : "Tuan Zayn, beberapa klaen sudah tiba diperusahaan "
__ADS_1
^^^Zayn : "Hm, aku akan segera kesana bersama Arga "^^^
......▪️▪️▪️......
Kaula mengintip dari jendela gorden, mengamati mobil hitam Zayn yang sudah bergerak keluar halaman menuju perusahaan. Waktu yang tepat bagi Kaula sekarang untuk ke halaman belakang, gudang.
Kaula pun berjalan kehalaman belakang menuju gudang, tak lupa ia membawakan jus alpukat untuk menyambut kehadiran Glen saat itu.
Tok, tok, tok
Glen menoleh mendengar suara ketukkan dari pintu.
"Kaula " Glen berseru. Kemudian Kaula masuk kedalam ruangan.
Kaula menyerahkan minuman jus alpukat itu kepada Glen, lalu memeluk erat nampan dikedua tangannya sembari melihat wajah Juna yang tertidur pulas di kasur.
"Apa Juna masih hidup? " tanya Kaula polos.
"Iya Kaula, dia hanya tertidur sebentar karena pengaruh obat bius " sahut Leha menjelaskan.
Glen menenguk jus alpukat tersebut hingga menjadi separuh, lalu menyerahkan gelas itu kepada Leha yang ada disebelahnya.
Glen melirik kearah jam dipergelangan kiri yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat tigamenit. Sekarang waktunya Glen kembali.
Glen menepuk kedua tangannya membersihkan debu, lalu menyalami satu persatu lengan Leha dan juga Kaula untuk pamit segera pamit.
"Aku pergi dulu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan di rumah sakit " ucap Glen yang sudah berdiri diambang pintu gudang.
"Iya Glen, terima kasih atas bantuannya " sahut Leha.
"Untuk bayarannya, aku akan menyuruh tuan Arga untuk membayarnya ke rekeningmu " ujar Kaula berjalan mendekati Leha yang berdiri dibingkai pintu masuk.
"Iya "
Serentak Leha dan Kaula membungkukkan badan, menyambut kepergian Glen saat itu. Setelah Glen sudah jauh dari pandangan mereka berdua. Leha menoleh kearah Kaula yang tersenyum malu.
Pipi Kaula memerah, tidak bisa dipungkiri. Pasti perempuan berkuncir itu malu.
"Glen tampan kan, dan juga pintar. " Kaula menghela nafas seraya mendekap dada menatap jauh didepan sana.
"Tapi dia sudah punya tunangan " Nada bicara Kaula nampak merendah.
Merasa iba Leha mengusap punggung Kaula lembut. "Kasian ya kamu Kaula, cintamu bertepuk sebelah tangan " gumam Leha.
Plak!
Kaula menampar pipinya sendiri cukup keras. "Aku bicara apa sih! Padahal masih tampanan tuan Arga! berwibawa, pinter, baik lagi "
"Kaula, Kaula, kamu ini gimana sih."
Leha seketika terdiam melihat Kaula yang bicara sendiri. Tersenyum sendiri tanpa sebab. Mungkin perempuan itu sakit.
__ADS_1
...▪️▪️▪️▪️...
^^^|11.19| PM. Langit terbelah dengan dentuman dan tabuhan keras diatas awan.^^^