Tuan Zayn

Tuan Zayn
Uang Terakhir


__ADS_3

Pagi sebelum matahari menyising, Leha sudah pergi keluar rumah untuk mencari pekerjaan.


ia tak tau harus pergi kemana, yang pasti ia harus pergi ke tempat yang menyediakan lowongan pekerjaan.



...◾◾◾...


"Capek banget, aku udah keliling-keliling cari lowongan pekerjaan tetep juga gak ada yang mau nerima " ucap Leha duduk di bangku taman.


Sudah 5 tempat yang Leha datangi, tapi tetap saja tak ada yang mau memperkerjakan dirinya. Padahal Leha pandai dalam memasak, bersih-bersih, dan ia juga lihai bahasa isyrat, yang Leha tekuni hampir 2 tahun di sekolah asalnya mengajar.


Netra hitam Leha tiba-tiba terfokus pada kedai kue yang ada diseberang sana, perutnya terasa lapar lantaran sejak pagi ia tidak sempat sarapan.


Leha merogoh uang di saku jaketnya, "Mungkin beli satu cukup kalinya " ujarnya memandangi uang lembaran merah tersebut.


Leha lantas bangkit dan berjalan menuju kedai kue yang ada disana. Aroma kue bakarnya bisa tercium beberapa meter dari tempat Leha berdiri, harum.


"Ada kue bakar rasa apa, Pak? "


"Stoberi, cokelat, susu kental manis, durian, dan nanas " sahut pemilik kedai.


"Hhmm,, cokelat deh pak satu " Leha mengangkat telunjuk jarinya seraya tersenyum simpul.


"Oke, oke, ditunggu ya. "


Leha kemudian duduk dibangku yang sudah disediakan, matanya liar melirik kiri-kanan jalan, mengamati sekitarnya yang ramai akan anak-anak muda yang bermain di taman.


"Le, ha? " seru seseorang menepuk pundak Leha tiba-tiba dari belakang.


"Siapa " sentak Leha memutar kepalanya, matanya seketika membulat setelah melihat sosok laki-laki berkemeja hitam tersenyum kepadanya.


"Arga."


◾◾


"Ini pesanannya "


"terimakasih " sahut Leha, setelah makanan yang dipesankan oleh Arga tersaji diatas meja.


"Arga, apa makanan ini gak terlalu banyak. Padahal sebelumnya aku udah mesen roti bakar juga loh " ucap Leha pada Arga yang duduk dihadapannya.


Arga menggeleng lalu menarik sudut bibirnya keatas hingga terlihat senyuman manis.


"Gak papa, makan saja. Anggap saja ini sebagai hadiah karena kita udah gak lama bertemu " sahut Arga.


Yah~ mereka berdua sudah lama tidak bertemu, dan terakhir kali Leha ingat, ia terakhir kali bertemu Arga waktu saat ia pertama kali mengajar di sekolah anak berkebutuhan khusus. Dan itupun Leha tidak sengaja bertemu Arga di toko buku.


"Jadi, gimana kabar kamu Arga? sehat? "


"Aku sehat, kondisimu bagaimana? "


"Syukur kamu sehat, aku juga sehat " balas Leha diiringi tawa yang terdengar sendu.


"Kenapa? " tanya Arga penasaran atas tawa dari Leha. "Suara tawamu terdengar aneh " ujarnya.


Arga dan Leha sudah cukup lama berteman, mereka pertama kali bertemu saat Leha berusia 6 tahun, dan Arga 7 tahun. Jadi jangan heran bila Arga tahu sifat Leha.


Leha menarik nafas dalam lalu menyeruput secangkir teh yang sedari tadi ia pegang.


"Begini.." Leha meletakkan cangkirnya. "Aku baru saja dipecat dari pekerjaan ku. Dan aku belum mendapatkan pekerjaan baru untuk membiayai hidupku. " jelas Leha menunduk dalam memandangi permukaan air teh dalam cangkirnya.


Satu alis Arga terangkat, "Kenapa kamu bisa dipecat? bukannya kamu termasuk orang yang tekun? "

__ADS_1


"Aku juga gak tau kenapa aku bisa dipecat. Tiba-tiba saja aku diberikan surat pengunduran diri oleh kepala sekolah " jawab Leha, wajahnya terlihat masam.


Arga melirik kearah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul delapan lewat seperempat. Tidak terasa hampir setengah jam mereka berdua menghabiskan waktu.


"Leha " panggil Arga menarik perhatian Leha yangterpaku menatap cangkir teh.


kepala Leha terangkat.


"Kalau kamu mau, aku bisa Carikan pekerjaan untukmu- "


"Sungguh! " sentak Leha tanpa sadar lengannya mebrak meja kedai.


Arga mengangguk sebagai jawaban.


"Sekarang aku pamit pergi dulu. Ada yang harus aku kerjakan "


"Dan, oh ya! Boleh ku pinta nomor ponselnya mu, karena ponselku yang dulu rusak " ucap Arga bangkit dari duduknya, seraya menyodorkan ponselnya yang berlogo apel.


Leha tersenyum simpul lalu menerima ponsel Arga, memasukkan nomor ponselnya disana.


"Kalau sudah ada pekerjaan, akan ku hubungi kamu nanti " kata Arga kemudian beranjak pergi dari kedai.


"Iya, terimakasih Arga " sahut Leha.



.


...◾◾◾...


Arga melangkah masuk kedalam mobil, memutar kunci lalu menginjak pedal gas menuju ke tempat kantor Zayn berada.


Jauh disana, terlihat seorang lelaki bertubuh jangkung tengah berdiri ditepi jalan raya, lengkap dengan jas hitam. Seperti sedang menunggu seseorang.


Setelah jarak mobil yang ia naikki mendekati lelaki bertubuh jangkung itu, Arga pun dapat mengenali orang itu.


"Zayn. "


"Kenapa dia nunggu disini? " gumam Arga seraya menghentikan mobilnya di bahu jalan, menurunkan kaca mobil hingga tampak dirinya yang duduk di kursi kemudi.


"Zayn, kenapa kamu nunggu disini? " tanya Arga sembari keluar dari dalam mobil.


Zayn hanya diam, lalu menarik pintu mobil duduk dibangku belakang.


Arga terdiam beberapa detik, memikirkan apa yang terjadi pada Zayn, hingga tuannya itu rela menunggu dirinya ditepi jalan.


Ayolah, Zayn Agnibrata bukan orang yang seperti itu.


Tok tok tok.


Zayn mengetuk kaca mobil, mengangkat jari telunjuknya seolah berkata, Ayo jalan.


"Ah! iya aku lupa " sentak Arga bergegas masuk kedalam mobil



...◾◾◾...


Dreett! Dreet!


"Papah! " Seru Leha membaca nama yang terpampang dilayar ponselnya.


Lelaki paruh baya itu menelpon Leha pasti untuk menanyakan dimana keberadaan anak itu!

__ADS_1


Leha meneguk liur sendiri, lalu menggeser gambar telpon kesisi hijau.


"ha-halo? "


"Leha kamu dimana!? Papah sudah didepan rumah kamu! " tukas Bram penuh nada emosi.


Dari suaranya, bisa ditebak bahwa lelaki separuh botak itu tengah mabuk.


"Aku lagi diluar, Pah- "


"Buruan pulang! papah perlu uang! " Titah Bram kemudian mematikan panggilan itu secara sepihak.


Leha menerunkan lengannya yang masih mengenggam ponsel, diringi dengan embusan nafas panjang.


Dring!


Bram: ' Papah tunggu! '


Leha menghela nafas berat setelah membaca notifikasi whatsapp yang timbul di atas layar ponselnya. Lalu membalas pesan itu.


^^^Leha : ' Iya, aku pulang pah '^^^


◾◾◾


Bram segera berlari menghampiri Leha yang baru saja tiba, memegangi kedua pundak anaknya.


Sungguh! Dia tidak sabaran untuk memalak duit anaknya!


"Mana uang kamu!? " tanya Bram tidak sabaran, menggelagap tas selempang yang Leha gunakan.


Leha menepis tangan dan mundur beberapa langkah.


"Uang aku udah habis, Pah " pekik Leha. "Aku baru aja kemaren dipecat dari pekerjaan aku. "


Kening Bram mengerut, "Terus? apa urusannya sama papah! " ujarnya menarik paksa tas Leha hingga bisa ia rebut.


Bram mulai mengacak-acak isi dalam tas Leha, mengeluarkan barang pribadi Leha dari sana.


"Pah, jangan Pah " lirih Leha memohon.


"INI APA! " Sarkas Bram setelah menemukan uang sisa milik Leha.


Itu adalah uang terakhir Leha yang ia punya.


Leha mengeleng-geleng mencoba mengambil uang miliknya dari tangan Bram, tapi ditepis dan didorong oleh Bram hingga perempuan berusia 20 tahun itu tersungkur ke tanah.


"Aaa" jerit Leha, setelah lututnya mengenai bidang kasar tanah.


"Udah berani bohong kamu, sama papah kamu sediri! " Bentak Bram, matanya membulat hingga tampak urat-urat dikeningnya.


Mengerikan, terlihat mengerikan! seolah Leha dibawa kembali ke masa lalu.


"Maafin Leha, Pah. itu uang terakhir Leh- "


Plak!


"Papah gak perduli! " Ujar Bram dengan nada penuh emosi, Bram lantas beranjak pergi dari sana sambil memasukkan uang milik Leha dalam saku celananya.


Leha terdiam sembari tangan kanannya memegangi pipinya yang terasa perih. Tanpa sadar sebulir air matanya mulai keluar disudut mata.


......▪️▪️▪️▪️......


^^^^^^Part ini selesai di tulis pada pukul 10.40 AM.^^^^^^

__ADS_1


__ADS_2