Tuan Zayn

Tuan Zayn
Keponakkan


__ADS_3

Leha masuk kedalam rumah setelah selesai mengantarkan makanan untuk Juna, ia menoleh kearah Kaula yang baru ingin memungut selang Vacum Cleaner.


"Hai Kaula " sapa Leha menghampiri Kaula.


Kaula menegakkan badannya. Dan membalas sapaan dari Leha.


"Itu tadi Glen kan? "


"Iya, tapi kira-kira ada apa ya dia kesini. Apa orang sakit, atau tuan Zayn? " ucap Kaula balik melempar pertanyaan. Karena sedari awal yang hanya mengetahui Zayn sakit hanya, Leha, Arga, Bella, dan Juna.


Leha mengangkat bahu, ia bingung harus berkata apa. Karena ia sudah diberi pesan oleh Arga dan juga Bella untuk tidak memberitahu orang lain, terlebih lagi keluarga Zayn, padahal Leha sendiri tidak tau siapa saja yang merupakan kerabat majikannya itu.


Kaula kemudian memberitahu kepada Leha kalau bel rumah rusak, dan menyuruh Leha untuk memberitahukan hal itu kepada Juna nanti.


"Iya, nanti aku sampaikan." Leha beranjak pergi dari sana membawa nampan yang ia pegang.


Fikirannya masih terbesit oleh kalimat Juna tadi saat mereka berdua berdiri serentak memandagi punggung Glen dari kejauhan.


"Apa menurut kamu Glen itu tampan? "


"Iya, emangnya kenapa? " ucap Leha balik bertanya.


"Apa menurut Kaula juga begitu? "


Leha sontak melirik kearah Juna yang berdiri disebelah kanan yang masih terpaku memandangi punggung Glen. Dari kejauhan pintu rumah sudah terbuka dan disambut oleh Kaula*.


Kedua netra hitam mereka bertemu. Tiba-tiba saja Juna meringis kesakitan di jari kelingkingnya, seolah ia memang ingin mengalihkan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.


...▪️▪️▪️...


Bella masuk kedalam ruangan kamar Zayn bersama dengan Glen, Zayn masih terpejam, dengan kain yang mengompres jidatnya.


Zayn tidur dengan indah, layaknya seorang pangeran yang sedang tertidur dalam singahsana.


"Zayn kenapa, apa dia sakit? " Glen meletakkan punggung tangannya diatas jidat Zayn, hingga kelopak Zayn terangkat. Merasa usik.


Zayn mengeryitkan mata, mencoba menangkap sosok samar yang sedang memegangi jidatnya sekarang.

__ADS_1


"Tuan Zayn " Bella berseru, mendekati Zayn yang mencoba mendudukan tubuhnya diatas kasur.


Nafas Zayn terasa panas dan sesak, ia dapat merasakan itu dari hembusan nafas yang keluar dari rongga mulutnya. Zayn menunduk sesaat kemudian berbicara menggunakan bahasa kepada Bella.


"Apa Glen sudah lama disini? "


"Tidak tuan, dia baru saja tiba. " Jawab Bella.


Glen kemudian duduk dibibir kasur sembari membuka tas hitam yang ia masih jenteng sedari tadi, meletakkannya dipangkuannya. Sebuah alat Stetoskop, Termometer. Glen keluarkan.


Glen mulai memeriksa detak jantung Zayn, kemudian beralih ke nadi. Lalu, mengecek suhu tubuh Zayn menggunakan Termometer.


"Cukup panas, sekarang kamu harus banyak istirahat sementara waktu Zayn. " Glen merogoh tas hitamnya, mengeluarkan balpoin dan secarik kertas. Menuliskan beberapa resep obat untuk menurunkan demam, menyerahkannya kepada Bella yang masih berdiri disana.


"Jangan lupa nona Bella " ucap Glen bangkit dari duduknya, ia kemudian berpamitan kepada Zayn untuk kembali pulang.


Bella menuntun Glen untuk keluar kamar. Tibanya di bingkai pintu Bella mengusap kembali puncak kepala Glen, keponakkan yang ia rawat sepenuh hati dari kecil kini menjadi seorang dokter yang ia cita-citakan dulu.


"Nona be- "


Belum sempat Glen bicara sepenuhnya, badannya lebih dulu di dekap oleh Bella yang mendekapnya begitu erat. Mengingatkannya sewaktu ia kecil dulu, dimana Bella lah yang selalu menjaganya, menyayangi, bahkan memenuhi kebutuhan dirinya saat orangtuanya sudah tak ada.


Bella tersenyum kecut, merenggangkan pelukkannya menatap netra coklat Glen yang sudah tampak berkaca-kaca.


"Bibi gak bisa, bibi ingin masih tinggal disini. Lagi pula kamu pasti bisa hidup tanpa bibi kan. " ucap Bella mengelus-elus puncak Kepala Glen yang lebih tinggi darinya sejengkal.


Ketika mulut Glen hendak terbuka, tiba-tiba saja ponsel di saku celananya berdenting, Glen merogoh saku celana, melihat nama yang terpampang dilayar.


Sebuah panggilan dari rumah sakit.


Glen tertegun sesaat mengangkat pandangan melihat wajah Bella. Belum sempat bibirnya terucap Kalimat, Bella sudah mempersilakan Glen untuk kembali pergi.


"Jangan khawatirin bibi, kamu pergi aja. Ada orang yang memerlukan bantuan kamu sekarang " ucap Bella sambil menepuk kedua pundak Glen.


Glen mengangguk mantap dan berpamitan untuk lekas segera pergi ke rumah sakit. Tempatnya bekerja.


Perlahan punggung Glen mulai terlihat samar oleh pandangan Bella, Jauh dan menghilang ditelan oleh mobil silver yang Glen naikki.

__ADS_1


Bella menghela nafas pelan seraya menghapus sebulir air mata yang hampir keluar di sudut matanya.


...▪️▪️▪️...


"Kamu ini yang benar dong "


Tuk!


Satu pukulan melayang mengenai puncak kepala Juna, bukan tanpa sebab Kaula melakukan itu. Melainkan ulah Juna sendiri yang sedari tadi tidak sungguh-sungguh memperbaiki Bel rumah.


Juna berdecih.


"Sakit tau " pekiknya, meraih obeng dari tangan Kaula.


"Siapa suruh bercanda mulu, di kira gak capek apa bolak-balik ke gudang cari obeng " keluh Kaula yang berdiri disebelah Juna, sambil menyenderkan punggungnya di dinding.


Juna melirik Kaula, kemudian tersenyum jahat.


Juna berdehem. "Ambilin air dong, haus nih "


Secepat kilat kepala Kaula menoleh, baru saja ia menghela nafas, malah disuruh kembali untuk mengambilkan minuman. Seketika itu pula perang mulut pun terjadi di antara mereka hingga terdengar oleh Leha yang saat itu berada di ruang tamu.


"Sudah-sudah, ada apa ini? " Leha melerai keduanya, sambil menutup mulut Kaula yang hendak memekik keras.


"Tau tuh Kaula disuruh ambilin air malah gak mau "


Kaula menepis lengan leha dari mulutnya, kemudian mendekat kearah Juna menggeplak kening Lelaki berkacamata itu hingga mengaduh.


"Aku capek tau dari tadi kamu suruh-suruh mulu, kamu kira jarak gudang sama teras dekat! Mana disuruh pula ngambilin air. "


"Cerewet! Dasar bebek! "


Mata Kaula seketika membulat diimbangi dengan mulutnya yang membentuk huruf O, bersiap hendak memarahi lelaki bersurai hitam itu. Namun berhasil ditahan oleh Leha yang masih disana.


Leha menghela nafa panjang. "Sudah-sudah, biar aku aja yang ambilin airnya. " Lalu menyeret Kaula masuk kedalam rumah yang masih mencibir Juna yang terus mengolok-ngolok dirinya.


...◾◾◾◾...

__ADS_1


^^^|3.14| PM. Langit jingga seakan menyambutnya bunyi bedug untuk menghilangkan dahaga.^^^


__ADS_2