Tuan Zayn

Tuan Zayn
Pekerjaan Baru


__ADS_3

Diatas tempat tidurnya Leha terbaring dengan sorot mata menatap langit-langit kamar. Dari matanya, bisa diilihat bahwa pikirannya sedang terbawa jauh entah kemana.


"Mah, Leha kangen mamah." lirihnya kemudian menurunkan kelopak matanya bersiap untuk tidur.



...◾◾◾...


"Berasku sisa sedikit lagi " keluh Leha melihat tempat penyimpanan berasnya yang sisa sedikit.


Leha meletakkan rice cookernya lalu berjalan mendekati meja nakas, membuka laci bagian bawah untuk mengambil selembar roti disana.


Leha mengeryitkan mata, membaca tanggal ex dari kemasan roti.


23/January/21


"Sudah tanggal berapa sekarang? " Leha menatap layar ponselnya, mecek apk kelender.


"25! udah lewat dua hari " serunya, sembari membuang nafas.


"Gak perduli, yang penting aku kenyang. " Leha bangkit, berjalan menuju kompor, berniat untuk memanggang roti tawar itu diatas taplon.


Leha mengendus aroma panggang roti tawar yang ia panggang, harum. Leha kemudian meletakkan roti tersebut kedalam piring dan berjalan menuju lemari atas. Mencari sisa selai cokelat kesukaannya.


"Ini aja udah syukur " ucapnya memandangi selai yang sisa sedikit.


Leha lantas mengoleskan selai itu diatas roti dengan wajah yang tersenyum kecut.


Entahlah, apakah itu senyuman bahagia atau bukan. Tapi, senyuman Leha begitu sendu.


Leha mengigit lembaran roti itu dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah roti itu ia teguk, barulah air mata yang ia tahan keluar.


"Hiks,, Mamah.. Leha kangen mamah " rintih Leha mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


🔳🔳


"Mah Leha laper " Leha mengusak-usak perutnya yang mungil lalu mendongak menatap Minah yang baru saja pulang *dari warung tetangga.


Padahal saat itu Minah berjanji kepada Leha bahwa akan membawakan makanan, tapi sayangnya pemilik warung tak mau memberikan bon*.


Kedua alis Minah menurun, "Mamah gak bawa makanan sayang " ujarnya, setelah melaraskan tinggi Leha yang saat itu berusia 6 tahun.


Minah mengusap pelan puncak kepala Leha. Hatinya terasa sakit melihat putri tunggalnya itu merintih kelaparan. Sedangkan suaminya Bram, lelaki itu belum pulang sampai sekarang.


"Lalu kita makan apa, Mah? " tanya Leha polos.


Minah tertegun sebentar, lalu bangkit dari posisinya berjalan menuju dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan.


Minah mengobrak-abrik isi laci nakas dan lemari. Namun, tidak dijumpainya sepeser pun makanan disana. Minah lalu membuka laci nakas paling bawah, ada satu buah jeruk yang sudah layu disana. *minah lantas meraih buah jeruk itu, mengusap-usap kulitnya.


Ia lantas membawa buah jeruk itu kedalam Leha yang berjongkok diruang tamu sambil menatap bayang-bayang dirinya.


"Leha, ini mamah bawain buah jeruk " ucap Minah tersenyum seraya jongkok disebelah Leha.


"Jeruk? Mamah? " tanya Leha, enggan rasanya bila ia makan sendiri buah itu.


"Mamah kenyang " elak Minah merangkul tubuh Leha yang saat itu masih kecil.


"Leha gak mau makan kalau mamah gak makan " ketus Leha mengupas kulit jeruk tersebut, lalu memberikan beberapa biji buah untuk Minah.

__ADS_1


"Makan ya, Mah " ucap Leha seraya memasukkan satu jeruk ke mulut Minah yang kering.


Minah mengusap matanya kasar, lalu memeluk erat tubuh Leha*.



...◾◾◾...


"Zayn " panggil Arga melangkah mendekati Zayn yang saat itu tengah berdiri di balkon kamar.


Zayn berdehem.


"Apa kamu punya pekerjaan lagi? " Tanya Arga sedikit tak enak.


Zayn sepontan langsung menoleh kearah Arga.


"Bukan untuk ku, tapi untuk temanku. Dia baru dipecat dari perkerjaannya. Jadi aku hanya ingin membantunya " jelas Arga.


Mendengar itu Zayn merasa lega, sebab ia tidak ingin kehilangan teman kecilnya itu. Zayn lantas mengangguk lalu beranjak pergi dari sana.


"Sungguh? Kapan? " tanya Arga pada Zayn yang sudah membelakanginya.


Zayn mengangkat jarinya, menampakkan jari telunjuk dan jari tengah.


"Dua hari? " Tanya Arga yang dibalas angukkkan kecil oleh Zayn. "Terimakasih, Zayn " sambungnya.


◾◾


Arga menatap layar ponselnya yang menampakkan nomor WhatsApp Leha disana. Dirinya terasa berat untuk memulai percakapan dengan perempuan bersurai sebahu itu.


Arga menarik nafas dalam dan menekan nomor Leha, hingga ia masuk kedalam Room Whatsapp



"Tuan, Arga " sapa Kaula sembari meletakkan secangkir teh diatas meja taman. Membuat Arga yang saat itu menatap ponselnya mengedikkan bahu.


"Kamu bikin kaget saja " kata Arga meletakkan ponselnya diatas meja.


Pipi Kaula Vandiara seketika bersemu. "Maaf, Tuan " ujarnya sembari terkekeh kecil.


"Apa tuan Zayn sudah kamu siapkan teh? " tanya Arga.


Kaula mengangguk dengan tangan yang memeluk erat nampan. "Sudah tuan, tapi kayaknya tuan Zayn tadi keliatan murung."


"Murung? "


"Iya, mungkin tuan Zayn ada masalah " sahut Kaula yakin. Sudah hampir dua tahun Kaula bekerja di kediaman rumah Zayn yang megah, mana mungkin ia tidak mengenali sifat majikkannya itu.


Dan, apabila Zayn sedang ada masalah. Ia tidak akan menyentuh teh yang sudah diseduh untuknya.


"Kamu benar." Arga menyeruput tehnya lalu beranjak pergi dari halaman taman.


Ia merasa ada yang aneh pada Zayn saat ia menjemput temannya itu ditepi jalan kemaren.



...◾◾◾...


Leha kembali keluar rumah selesai sarapan, ia harus mendapatkan pekerjaan hari ini.

__ADS_1


"Maaf, sudah penuh " ucap pemilik toko buku.


Sudah 3 toko yang Leha kunjungi hari ini, namun tidak ada satupun yang menerimanya. Leha terus berjalan tanpa arah, hingga Leha tiba didepan halte bus. Ia langsung terduduk disana, dibangku panjang halte.


"Aku harus kemana? " gumam Leha memegangi lututnya yang terasa penat.


Dreet, Dreet,


Ponsel milik Leha bergetar membuat Leha mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang tersimpan dalam saku jaket.


Ada satu buah notifikasi dilayar ponselnya. Pesan WhatsApp dari Arga.


Bibir tipis Leha terangkat, Leha lantas membalas pesan WhatsApp Arga dengan cepat.


^^^^^^Leha : Bisa, dimana? ^^^^^^


◾◾


Mereka berdua pun bertemu di tempat yang sudah dijanjikan di room WhatsApp. Disiang hari, tepatnya di taman yang dulu Leha datangi.


Dari jauh, terlihat Arga yang duduk dibangku merah taman seorang diri disana, sambil menyenderkan punggungnya di belakang bangku.


"Maaf aku lama " ucap Leha yang baru tiba.


Leha mengangitkan rambutnya di belakang telinga, lalu duduk disebelah Arga.


"Gimana? " tanyanya.


"Aku sudah menemukan pekerjaan untukmu- "


"Sungguh! " Pangkas Leha memegangi tangan Arga.


Arga mengangguk pelan, "Jadi kamu besok gak usah cari pekerjaan lagi. " Ucapnya.


Leha tersenyum bahagia hingga kedua matanya juga ikut terpejam. "Terimakasih Arga, terimakasih." ujarnya mengulang perkataan yang sama.


"Gak masalah " sahut Arga.


"Ngomong-ngomong, kapan aku bisa mulai kerja? " tanya Leha.


"2 hari atau 3 hari lagi."


Leha mengangguk-angguk sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Seakan ada yang ingin sesuatu yang ia katakan.


"Arga " panggilnya lirih.


Arga berdeham dan menoleh kearah Leha. "Kenapa? "


"Begini,, Aku boleh pinjam uangmu sebentar gak? soalnya aku kehabisan uang " ucap Leha. "Tapi! Aku janji bakalan balikin uang kamu kalau udah gajihan " sambungnya.


Arga terkekeh, lalu mengusap puncak kepala Leha lembut. Arga merogoh kantung kemeja dibalik jas hitam yang ia kenakan. Mengeluarkan beberapa jumlah uang dalam dompetnya.


"Nih, buat kamu " Arga menyodorkan uang tersebut.


"Arga, ini kebanyakkan, aku cuma mau minjem tiga ratu- "


"Gak papa, kalau ada sisanya baru kembaliin ke aku " pangkas Arga.


...◾◾◾◾...

__ADS_1


^^^Sore Hari Yang Dingin Disini. |5.38 PM|^^^


__ADS_2