
"Ini semua gara-gara kamu! " Bentak Diana. Ia kemudian bangkit menghampiri Zayn yang masih berdiri disana.
Diana mengambil pecahan piring yang tercecer di lantai, lalu menggoreskan pecahan itu tepat di telapak tangan kiri Zayn.
Zayn memberontak.
"Ahet ma, ahet "
(Sakit Mah, sakit ) lirih Zayn, ia terisak. Tangannya sudah terluka hingga menampakan luka yang cukup besar bagi telapak tangan mungilnya. Darah merah nan segar mulai mengalir turun mengotori lantai keramik yang putih.
Diana melempar pecahan itu kesembarang arah lalu mengambil kertas gambar Zayn.
"Anak sialan! " Diana merobek gambaran itu lalu melemparnya tepat mengenai wajah Zayn.
Zayn menangis sambil memegangi telapak tangannya yang terluka. Baru kali ini ia diperlakukan secara kasar oleh Diana. Sungguh.
"Hiks ... hiks ... " Zayn terduduk di lantai.
"Ada apa Nyonya? " Tanya Wida yang baru tiba setelah habis membersihkan teras rumah.
"Astaga tuan Zayn " Wida menghampiri Zayn yang menangis, namun langsung di tarik paksa oleh Diana untuk segera masuk ke dalam kamar untuk mengobati Azkas terlebih dahulu.
...▪️▪️▪️...
"Tuan Zayn, apakah benar anda tadi mencari saya? "
Zayn menoleh kearah Arga yang berdiri di samping. Ia kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan Arga.
"Sekarang sudah waktunya makan malam. "
"Iya, Tuan "
Zayn kemudian bangkit seraya merapikan lengan kemeja putihnya lalu beranjak pergi dari sana. Sebelum pergi dari sana, Zayn sempat menoleh kearah Leha yang sedang membantu Kaula menyusun sayur dan buah di dalam lemari pendingin.
"Ini taruh dimana? " tanya Leha seraya menunjukkan sayur kol yang ia pegang.
"Astaga kamu ini, sudah ku bilang pergi saja sana " sahut Kaula merebut Kol tersebut.
Zayn menghela napas pelan lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.
▪️▪️
Akhirnya setelah perdebatan singkat antara Kaula dan Leha, sayuran dan buah pun selesai di tata dilemari pendingin. Leha segera mencuci tangannya di keran, lalu meraih gelas kaca yang menggantung di atas.
Tiba-tiba saja tenggorakkannya terasa kering.
Leha lantas menampung air keran yang mengalir, di gelas yang baru saja ia ambil, ketika hendak meneguk air, tiba-tiba lengannya di cekal oleh Kaula.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain? " Tanya Kaula dengan ekspresi wajah tak biasa.
"Mau minum "
"Dari situ? " lanjut Kaula bertanya, yang langsung dibalas anggukan polos oleh Leha.
Kaula memutar malas kedua matanya. Ia kemudian berbalik badan mengambil air botol yang sudah ia beli di supermarket dan menyodorkannya kepada Leha.
"Jangan minum disitu, kotor. Nih minum " ucapnya.
Leha meletakkan gelas dan menyambut botol minuman yang diberikan Kaula.
"Kotor? " Kening Leha mengerut, ia teguk setengah air yang ada didalam botol.
"Aku liat air nya bersih kok, malah lebih bersih dari di rumah tempat tinggal ku dulu." ucap Leha menjelaskan.
Jujur, air keran tempat cuci piring benar-benar bersih dan jernih. Tak heran jika Leha menggangap air keran itu layak untuk diminum. Sebab ia sering meminum air keran sewaktu masih tinggal di rumah sewa.
"Gak semua bersih itu gak ada kumannya " sahut Kaula melangkah pergi dari dapur mendekati meja makan.
Leha tertegun, memang benar yang di katakan Kaula barusan. Sepertinya ia harus menghilangkan kebiasaan meminum air keran dari sekarang. Leha mengekor dibelakang Kaula hingga mereka berdua sampai di sebelah meja makan.
Semua pelayan telah berkumpul di tempat yang sama, termasuk kepala pelayan dan Juna yang berdiri di sebelah meja makan.
Semua berkumpul bukan tanpa alasan, melainkan karena sudah masuk waktunya bagi mereka untuk makan.
Arga mengangkat pandangan melihat sekitar, ia merasa tak enak lantaran gara-gara dirinya para pelayan akan telat untuk makan malam.
"Iya Tuan " serentak mereka membalas.
"Ayo makan bersama " ajak Arga mempersilakan.
"Tidak usah, Tuan. Tidak layak bagi pelayan seperti kami makan bersama dengan Tuan " ucap Pelayan Bella, kepala pelayan.
"Tidak papa, kan sudah waktunya jam makan kalian. Aku merasa tak enak jika kalian harus menunggu aku selesai makan terlebih dahulu, mungkin itu akan sedikit lebih lama. " Ujar Arga menyakinkan pelayan Bella.
"Jujur saja saya sudah lapar Tuan Arga " celetuk Kaula memecah keheningan yang membuat semua pasang mata tertuju padanya.
Mata pelayan Bella menajam kearah Kaula, "Kaula ... " ucapnya tanpa mengeluarkan suara.
Arga yang mendengar hal itu lantas terkekeh kecil, Arga mengangkat lengannya mengajak semua pelayan untuk makan satu meja bersama.
"Ayo-ayo " ajak Arga, membuat pelayan saling memandang satu sama lain, perlahan melangkah maju ke bangku masing-masing.
Leha duduk di sebelah Kaula, matanya sedikit terbelanak melihat makanan sebanyak dan selezat ini tersaji di atas meja. Leha melirik kearah Arga yang tersenyum simpul memerhatikan yang lain.
"Arga gak pernah berubah dari dulu " gumam Leha.
"Leha " seru Arga membuat Leha sedikit tersentak. "kenapa melamun, ayo makan "
__ADS_1
"Ha? i-iya, Tuan Arga " ucap Leha terbata-bata.
Ini adalah kali pertama dalam hidup Leha bisa makan bersama dengan orang lain setelah sekian lama, dulu seingat Leha, ia pernah makan terakhir kali bersama keluarga kecilnya sejak saat usianya 7 tahun. Itu adalah saat-saat yang Leha rindukan. Mungkin bekerja disini tak terlalu buruk baginya.
...▪️▪️▪️...
Sekarang jarum jam persegi di ruangan utama sudah menunjukkan pukul 10 lewat seperempat. Para pelayan mulai kembali keruangan mereka masing-masing, termasuk Leha dan juga Kaula. Leha berjalan mengikuti langkah para pelayan yang ada didepan. Mereka mulai berbincang satu sama lain.
"Masakkan kamu kayak biasa ya Sida, selalu enak "
Sida terkekeh, "Terimakasih, masakkan kamu juga enak Mel."
Kaula menyikut lengan Leha. "Eh! " tukasnya menarik perhatian Leha yang sedang menatap Sida dan Melia yang berjalan di depan.
"Kenapa? "
"Ngomong-ngomong kamu tidur di No berapa? " Tanya Kaula yang berjalan di samping Leha.
Kening Leha mengerut, ia lupa akan No yang tertempel didepan pintu kamarnya. "Lupa " balas Leha tak ingat.
Kaula mendengus kesal. "Astaga kamu ini, masa gitu aja lupa "
Leha menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal sembari terkekeh pelan, atas ucapannya barusan. Bukannya lupa, lebih tepatnya tak tahu.
Bella yang saat itu berjalan dibelakang Kaula dan Leha pun mulai teringat akan sesuatu, Bella kemudian menarik pergelangan lengan kaula hingga perempuan berkuncir itu menolah.
"Kaula " panggil Bella.
"Ada ada Nona Bella? "
"Juna sudah kamu antar makanan? " Tanya Bella, karena waktu makan malam tadi Juna tak terlihat batang hidungnya.
Kaula menepuk jidatnya sendiri. "Lupa " keluhnya.
Bella mendengus lalu menarik telinga kiri Kaula hingga perempuan berkuncir itu mengaduh kesakitan.
"Sakit,, sakit "
"Kamu ini, cepat antar makanan buat Juna sekaligus buat satpam penjaga " titah Bella melepaskan tangannya dari telinga Kaula, lalu menyelip mereka berdua, Leha-Kaula.
Kaula meringis, mengusap-mengusap telinga kirinya yang sedikit memerah akibat ditarik oleh Bella. Ia kemudian menghentakkan kaki kasar menuju kedapur. Ia merasa lelah akan pekerjaan hari ini.
"Padahalkan aku juga capek " keluh Kaula.
Saat Kaula hendak meletakkan lauk-pauk di atas piring, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya pelan. Spontan Kaula langsung berbalik badan dan menemui Leha yang sedang berdiri disana sambil menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
...▪️▪️▪️▪️...
^^^^^^**Kondisi aku saat ini kurang baik gara-gara bibir aku sariawan plus bibir aku pecah-pecah. ^^^^^^
__ADS_1
^^^[11:38] Awan putih yang sedang menyelimuti langit**^^^