Tuan Zayn

Tuan Zayn
Obat


__ADS_3

Vivi menyodorkan kresek putih yang berisikan obat-obatan kepada Leha yang sedang duduk di bibir kasur miliknya.


Obat itu ia beli di Apotek saat belanja keperluan dapur.


"Kenapa aku? " tanya Leha bingung.


"Kata nona Bella suruh ngasih ke kamu, ya aku kasih " balas Vivi ikut bingung dengan jawaban Leha.


Leha terkekeh kecil seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, hampir saja ia lupa bahwa hanya dirinya dan beberapa orang rumah saja yang tahu kalau Zayn sedang sakit di kamarnya.


Vivi beransur pergi keluar dari kamar Leha setelah memberikan kresek putih tersebut. Leha melongak, mengintip Vivi yang sedang berjalan melewati lorong menuju ruang kamarnya yang berada di No 7.


Setelah Vivi menjauh dari pandangannya, barulah Leha keluar dari kamar menuju kamar Zayn.


Tibanya di ruang utama, bel rumah tiba-tiba berbunyi. Leha menoleh kearah pintu lalu beralih kearah jam besar yang ada di sudut rumah.


Sudah menunjukkan pukul tujuh tepat.


Bel lagi-lagi berbunyi, Leha lantas mengubah arah kakinya menuju pintu. Pintu terbuka, menampakkan Arga yang baru pulang dari perusahaan menggantikan Zayn.


"Tuan Arga, selamat datang " sambut Leha ramah mempersilakan Arga untuk masuk kedalam.


Arga tersenyum kemudian melangkahkan kaki masuk. "Tuan Zayn dimana? " tanya Arga yang sudah menginjakkan satu kakinya ke anak tangga.


"Ada diatas tuan, saya juga mau kesana memberikan obat "


Arga merebut kresek putih berisi obat yang ada ditangan Leha. "Biar aku saja " ucapnya langsung menaikki tangga, tanpa mendengar jawaban dari Leha.


...▪️▪️▪️...


Arga mengetuk pintu menggunakan punggung tangan sebanyak tiga kali kemudian masuk kedalam. Zayn masih terbaring lemah diatas sana, terlihat Zayn menatap luar balkon yang ada disebelah kanannya. Mengamati beberapa bintang yang sudah muncul waktu itu.


Arga mendekat lalu meletakkan kresek putih yang ia bawa diatas nakas.

__ADS_1


"Tuan Zayn "


Zayn berdeham tanpa menoleh.


"Tuan Azkas tadi datang " tutur Arga membuat kepala Zayn langsung menoleh pada Arga yang berdiri disebelah kasurnya.


"Apa yang dia lakukan disana? "


"Cuma mengantar surat ini, kata beliau tolong serahkan surat ini kepada anda " Arga meletakkan surat yang ia maksud diatas nakas, disebelah kresek putih tadi.


"Buang surat itu, kalau perlu bakar "


"Tapi tuan " sentak Arga. Ia merasa setidaknya Zayn perlu membaca isi surat tersebut, walaupun Zayn tidak suka kepada Azkas.


"Kalau begitu kau keluar. Jangan menggangu "


Arga mematung untuk beberapa saat, kemudian mengangguk berbalik badan menuju pintu kamar. Sebelum Arga melangkahkan kaki keluar, ia memberitahukan bahwa ada obat diatas meja nakasnya dan juga Jenita yang mengharapkan agar Zayn menjawab pesan Whasapp nya.


"Saya permisi tuan " Arga menutup pintu kamar. Dan turun dari lantai atas.


Zayn meraih ponselnya yang ada diatas kasur, disebelahnya.



Zayn termenung melihat room WhatsApp yang penuh akan spam dari Jenita untuknya. Zayn tidak membalas pesan itu satu pun, setelah membuka semua pesan Jenita, Zayn kembali menonaktifkan ponselnya, melemparnya di sebelah kasur.


...▪️▪️▪️...


Tok tok tok


"Tuan Zayn, ini saya Leha, apa tuan sudah tid-"


belum selesai Leha berucap, pintu kamar sudah terbuka lebih dulu, menampakan diri Zayn yang sedang telanjang dada namun masih di selimuti oleh handuk.

__ADS_1


"Aaa tuan " Leha memekik berbalik badan, menyembunyikan wajah berlesung pipinya menggunakan sepuluh jari.


Zayn berdeham, sambil menoel-noel pundak Leha.


"Sudah tuan tutupi? "


"Hhmm..."


Mendengar dehaman dari Zayn, Leha lantas menolehkan kembali badannya melihat Zayn yang sudah duduk di bibir kasur diselimuti oleh selimut.


"Ada apa? "


"Obatnya sudah tuan minum? "


"Obat apa? " tanya Zayn kembali. Membuat Leha menepuk jidat sembari menggeleng-gelengkan kepala kecil.


Leha mengembus nafas pelan, "Saya kira obatnya sudah tuan minum." Leha kemudian berjalan mendekati kresek putih yang ada di atas nakas yang sama sekali tak tersentuh oleh Zayn.


Mengeluarkan beberapa obat dari dalam kresek, membuka bungkusnya, menaruh 3 obat di telapak tangan kanannya.


Leha lalu berjalan mendekati Dispenser mini yang ada disudut kamar, mengambil segelas air untuk Zayn.


"Ini tuan, silakan diminum " ucap Leha yang sudah duduk di bibir kasur, disebelah Zayn.


Zayn meraih obat yang ada di tangan Leha meneguk ketiganya sekaligus, lalu meminum air. Zayn lalu menghadapkan tubuh kearah Leha, menyangkutkan rambut Leha kebelakang telinga.


"Aa... tu-an Zayn " lirih Leha, pipinya bersemu seraya memeringkan tubuhnya, mundur. Karena jarak wajah mereka berdua terlalu dekat.


"Terima kasih." Zayn merebahkan tubuhnya diatas kasur, membelakangi Leha yang masih duduk disana dengan jantung yang berdegup kencang.


...▪️▪️▪️▪️...


^^^|10.40| AM. Bersama langit biru dan terik matahari.^^^

__ADS_1


^^^Maaf cerita bab ini pendek, karena kondisi badan aku kurang baik. ( ◜‿◝ )♡^^^


__ADS_2