
Arga segera melangkah turun dari dalam mobil, masuk kedalam gedung perusahaan milik Zayn.
"Tuan Zayn ada dimana? " Tanya Arga pada seorang OB yang kebetulan tengah lewat.
"Mungkin masih diruangan, Pak. Soalnya saya gak liat beliau keluar dari tadi "
"Begitu " Arga melangkah pergi menuju ruangan Zayn. Tibanya disana, Arga mengetuk pintu, harap-harap bahwa Zayn masih disana.
"Tuan Zayn " panggil Arga.
Zayn yang saat itu tengah menatap luar jendela pun lantas menolehkan pandangan kearah asal suara yang memanggil.
Ia mendekat dan menarik gagang pintu.
"Maaf saya telat " ujar Arga setelah pintu dibuka.
Zayn menggeleng dan mengangkat lengan, "Tak papa."
Mereka berdua kemudian berangkat pulang menuju rumah, selama perjalanan ponsel milik Zayn terus bergetar karena ada notifikasi yang masuk.
Namun Zayn acuh akan hal itu, ia hanya fokus pada lembaran kertas-kertas yang ada diatas pangkuannya.
"Tuan Zayn "
Zayn berdeham.
"Leha sudah saya jemput tuan "
Zayn tersentak sampai mengangkat kepalanya yang awalnya menunduk.
"Eha? "
Leha
...▪️▪️▪️...
Setelah beberapa lama menunggu dibangku teras, akhirnya mobil hitam pun mulai terlihat memasukki halaman rumah. Mobil yang dikemudi oleh Arga sebelumnya.
Leha bangkit dari posisi duduknya sembari kedua tangan yang memegang erat tali tas yang ia bawa. Dalam lubuk hati, ia penasaran akan anak yang ia temui beberapa tahun yang lalu. Jadi seperti apakah ia sekarang.
Arga turun dan bergegas membuka pintu belakang mobil, untuk menyambut kehadiran Zayn.
Senyuman kecil terukir di bibir leha yang tipis, tak sabar akan melihat wajah majikannya setelah sekian lama.
"Silakan turun, Tuan " Arga menunduk seraya sebelah tangannya membukakan pintu.
Seorang lelaki bertubuh jangkung pun mulai terlihat disana,mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Terlihat bagai orang yang berwibawa.
__ADS_1
Zayn melangkah mendekati teras, tempat leha menunggu. Sedakan Arga mengekor dibelakangnya.
Bibir leha yang awalnya mengatup perlahan mulai mengnga-nga mohat sosok Zayn yang sudah berdiri dihadapannya. Alis yang tebal, mata yang tajam, pahatan wajah yang indah. Sungguh berbeda dengan yang dulu, namun raut wajahnya saja yang masih sama, datar.
"H-hai Zayn " sapa Leha terbata-bata, ada rasa gerogi dalam dirinya.
Zayn mengangkat lengannya, sama seperti ia lakukan pada waktu dulu, waktu berada ditaman.
"Tuan Zayn, ini Leha yang saya maksud waktu itu. Yang kata tuan akan diperkerjakan sebagai pelayan pribadi tuan " seru Arga memperkenalkan kehadiran Leha.
Zayn menatap Leha sesaat, mengamati perempuan yang sedang berdiri didepannya. Seorang perempuan dengan Rambut hitam yang diikat sebagian, postur tubuhnya yang pendek, serta lesung pipinya yang masih awet dipipi kiri.
Zayn kemudian mengangkat lengannya membuat bahasa isyarat. "Selamat bekerja ."
Leha yang sudah bahasa isyarat pun lantas tersenyum dengan diiringi anggukkan kepala kecil.
...▪️▪️▪️...
Zayn sudah masuk lebih dulu kedalam kamarnya yang ada dilantai atas, dan sekarang tugas Arga untuk memperkenalkan orang seisi rumah serta tugas Leha nanti.
Arga memandu Leha kedalam ruangan isi rumah, dari letak dapur, taman, kamar mandi, ruang utama dan ruang kamar Zayn yang ada dilantai atas. Arga memberitahukan, tak semua orang bisa naik ke lantai atas kecuali atas persetujuan dari Zayn.
"Dan ini kamarmu Leha " Arga membuka pintu menampilkan ruangan kamar Leha yang cukup luas untuk Leha seorang diri.
"Ayo masuk " ajak Arga, ia membawa barang-barang milik Leha kedalam menaruhnya di samping tempat tidur.
"Terimakasih Arga " ucap Leha, ia merasa ia bisa bekerja disini berkat bantuan Arga. Lelaki dengan dagu berbelah itu selalu membantunya.
"Kalau begitu aku keluar dulu " pamit Arga namun pergelangan tangannya dicekal oleh Leha.
"Bisa kamu kenalkan aku dengan pelayan lain? "
"Bukannya semua sudah ku kenalkan " sahut Arga heran.
"Pelayan kecil yang rambutnya dikuncir belum kamu kenalkan, yang kalau gak salah namanya Kara? " Ucap Leha sedikit tak yakin dengan nama perempuan yang ia sebutkan.
"Oh,, nama dia Kaula. Dia sedang pergi belanja, nanti kamu aku kenalkan dengannya dan juga teman akrabnya Juna "
"Terimakasih Arga " Leha melepaskan tangan yang sedari ia mengenggam lengan Arga.
Arga lantas beranjak keluar dari dalam kamar Leha. Setelah Arga sudah cukup jauh dengan kamarnya, Leha menutup pintu dan mulai merapikan barang-barang bawaannya di dalam sebuah lemari kayu berukir yang ada disana.
"Semoga aku betah disini " gumam Leha seraya menata baju-bajunya kedalam lemari.
...▪️▪️▪️...
__ADS_1
Malam pun sudah tiba mengantikan siang. Leha langsung bersiap-siap menuju ke dapur untuk sekadar membantu yang lain. Di rumah megah ini, terdapat 7 pelayan dan satu orang tukang kebun. Dan sekarang, Leha yang menjadi kedelapan.
Ia tak terlalu akrab dengan pelayan disini, Leha mencoba sebisanya untuk membantu di dapur.
Leha menghampiri Sida yang saat itu tengah menyiapkan makan malam.
"Permisi Sida,ada yang perlu ku bantu? " Tawar Leha,
Sida menoleh dan tak mengubris ucapan Leha, ia hanya fokus memindahkan makanan yang ada diatas meja kompor keatas meja makan.
"Sida " Leha mencoba memanggil, namun lagi-lagi tak ditanggapi.
Karena tak dihiraukan, Leha berinisiatif membantus Sida sendiri tanpa permintaan langsung dari Sida.
"Biar aku bantu "ujarnya, namun tangannya seketika ditepis oleh Sida.
"Jangan ganggu, ini bukan tugas kamu " ucap Sida penuh penekanan.
Kening Leha mengerut tanda tak paham akan maksud Sida barusan, lalu apa tugasnya. Merasa tak dihiraukan, Leha lantas menjauh mencari pekerjaan lain di ruang utama, sekiranya ada yang berantakan disana.
Tapi, lagi-lagi tak ada yang bisa Leha lakukan. Ruangan utama ini sudah bersih dan tertata dengan rapi.
Leha mendengus kesal, "Apa yang harus aku lakukan jika semuanya sudah bersih disini " ucapnya dengan bibir ia monyongkan sedikit.
Bugk,bugk,bugk.
Bunyi suara tangan Zayn yang memukul pembatas tangga, supaya Leha menoleh kearahnya. Dan benar saja, Leha yang mendengar suara gebukkan pagar bergetar itu menoleh.
"Zayn " Leha segera menghampiri Zayn yang berada di anak tangga.
"Ada apa Zayn? " Tanya Leha. "ada yang perlu aku bantu? "
Zayn terdiam beberapa detik dan mengangkat lengannya. "Panggil aku tuan Zayn, bicaranya lah sopan terhadap majikan. "
"Ah! Iya, maafkan aku za- tuan Zayn " sentak Leha sambil membungkukkan badan meminta maaf. Ia tak terbiasa akan panggilan tuan dan bahasa formal disini.
"Tuan Zayn, tolong maafkan saya. Saya benar-benar tak terbiasa akan hal itu " lanjut Leha.
Zayn kemudian menepuk puncak kepala Leha agar perempuan yang membungkuk dihadapannya itu segera mengangkat kepala.
"Arga mana? Dari tadi aku tidak melihatnya "
"Saya tidak tau tuan. Tapi, dengan senang hati saya akan mencarikan Arga " balas Leha ikut menggerakkan lengannya, membuat bahasa isyarat.
Leha pamit dan langsung menuruni tangga berjalan keluar rumah, berharap Arga sedang berada di teras ataupun halaman rumah.
...▪️▪️▪️▪️...
^^^Sisa baterai 77%^^^
__ADS_1