
Arga tersenyum simpul lalu berucap. "Tak papa, maklum saja dia kan masih baru di sini Kaula."
Kaula memonyongkan bibir tak suka akan kehadiran Leha yang menjadi pelayan. Kaula kemudian merampas totebag yang ada ditangan Leha lalu menyeretnya dengan sekuat tenaga menuju dapur. Layaknya anak kecil, menggemaskan!
Leha tekekeh kecil lalu berbalik badan menghampiri Kaula.
"Biar aku bantu "
"Nggak usah " balas Kaula cepat yang sudah ngos-ngosan menyeret totebag berisikan botol air mineral, yang ia seret dari jarak 9 cm dari posisi awalnya.
Arga mengembus nafas pelan lalu melangkah masuk mengikuti langkah mereka berdua, Leha- Kaula yang lebih dulu masuk.
...▪️▪️▪️...
Zayn meletakkan sendok- garpu yang ia pakai di samping piring putih polos. Makannya tak terlalu habis hari ini.
Zayn terdiam beberapa detik menatap lauk- pauk miliknya diatas piring, lalu menatap bekas luka di telapak tangan kirinya. Tiba-tiba saja pikirannya terbawa jauh kembali ke masa lalu.
🔳🔳
Seorang pelayan datang menghampiri Zayn yang saat itu tengah terngkurap di halaman rumah, dengan buku gambar dan pensil warna yang bercecer.
"Tuan Zayn, waktunya makan." ucap pelayan itu.
*Zayn yang saat itu masih berusia 10 tahun itu pun bangkit dari posisi terngkurapnya. Ia kemudian mengangkat sebilah kertas yang sudah ia gambar, menunjukkannya pada Wira yang merupakan pelayan di kediaman Liam.
"Iha,iha, baus ak? "
(Lihat,lihat bagus gak? ) Tanya Zayn.
Pelayan itu mengambil secarik kertas yang disodorkan oleh Zayn. Ia tersenyum simpul lalu mengangguk pelan, mengiyakan ucapan Zayn.
"Bagus sekali Tuan muda. Tuan punya bakat dibidang melukis " ucapnya membuat Zayn langsung sumringah mendengar pujian itu.
"Kalau boleh tau yang Tuan gambar itu siapa? "
"Mamma "
"Mama? " Tanya Wida mencoba menyakinkan.
Zayn mengangguk-angguk. Bakat lukisnya diturunkan oleh Bunda kandungnya. Wida kemudian mengusap pelan puncak kepala Zayn lalu merangkul tuan mudanya itu menyuruh untuk lekas masuk kedalam rumah.
Disana sudah ada Diana-Liam, dan juga Azkas. Zayn berlari kecil menghampiri bangku kosong yang ada disebelah Azkas. Matanya langsung tertuju pada makanan lezat yang tertata rapi di atas meja, sampai-sampai Zayn yang kecil itu tanpa sadar menitihkan air liur. Ngiler.
"Zayn " tegur Diana, membuat Zayn tersadar dan lekas mengusap bekas air liurnya.
Makanan terakhir pun sudah siap di sajikan diatas meja, sebuah masakkan ayam kecap yang masih menggempul asapnya, dihiasi daun bawang dan bawang goreng atasnya. sungguh menggugah selera.
Itu adalah makanan Favorit Zayn kecil.
__ADS_1
Karena letakkan cukup jauh, Zayn berniat untuk meminta pertolongan Azkas yang duduk disebelah.
"Hang-hang "
(Bang-bang) panggil Zayn seraya menarik ujung baju Azkas. Ia menunjuk kearah ayam kecap yang baru diletakkan.
Umur mereka terpaut 2 tahun, oleh sebab itu Zayn memanggil Azkas dengan sebutan Abang.
Azkas menggerakan minik hazelnya kearah lengan Zayn yang sedang menarik ujung bajunya.
"Lepas " Azkas menepis lengan Zayn. "Kalau mau ambil sendiri " ucapnya.
"Azkas " Seru Liam atas tindakkan Azkas yang tak sopan. "Tolong ambilin adik kamu itu " sambungnya.
Azkas memutar malas kedua matanya. Ia bangkit dan mengambil beberapa potong ayam dan menaruhnya secara kasar diatas piring Zayn.
"Tuh makan! Dasar manja! " Azkas beranjak pergi dari meja makan. meninggalkan makanan yang belum sempat ia sentuh.
Semua yang ada disana terdiam atas perilaku Azkas barusan, ini bukan pertama kalinya Azkas melontarkan kata-kata kasar kepada Zayn. Tapi, tidak separah ini.
Zayn menolehkan kepalanya menatap punggung Azkas yang menjauh pergi menaikki lantai atas, tangan Azkas tampak mengepal kuat seakan ia sedang menahan emosi.
"Kenapa Abang Azkas marah sama Zayn? " Ucap Zayn dalam hatinya.
Zayn kembali merotasikan kepalanya menghadap meja makan, pandangannya menunduk menatap piring yang sudah kotor karena polesan ayam kecap yang ditaruh sembarangan. Berantakan!
"Pelayan, tolong ganti piring Zayn dengan yang baru " titah Liam.
Diana mengeryitkan mata kearah Zayn, dengan tatapan tak suka dengan anak bungsunya itu.
Zayn melambai kemudian tersenyum kearah Diana, Zayn mengangkat kertas yang waktu itu ia tunjukkan kepada pelayan Wida.
"ma.ma. " Panggil Zayn seraya menyerahkan kertas tersebut dengan kedua lengan mungilnya.
Satu alis Diana terangkat, ia diam beberapa detik menatap gambaran itu lalu menggerakkan mata hazelnya kearah Zayn yang seakan menunggu ucapan pujian dari mamahnya.
"Minggir, mamah sibuk mau nemenin Azkas " ucap Diana melewati Zayn dan melanjutkan menaikki anak tangga satunya.
Zayn berbalik menyusul langkah Diana, "Mma,ma. Ambaan zaen baus ak ma? "
(Mamah, Mah. gambaran Zayn bagus gak mah?) Tanya Zayn, anak kecil itu menunggu jawaban dari Diana.
"Hhmm "
"Zaen ambai mamma lo."
(Zaen gambar mamah, Loh.) ucap Zayn tersenyum simpul. Zayn terus mengoceh tanpa henti mengikuti setiap langkah kaki dari Diana. Banyak hal yang Zayn ucapkan dengan mulutnya yang indah. Tapi, tak ada satupun yang disahuti oleh Diana dengan sungguh-sungguh. Seolah Diana sudah bosan mendengar setiap kataan Zayn yang menurutnya berisik.
Diana pun tiba didepan pintu kamar Azkas, dengan Zayn yang juga berdiri disebelah Diana.
Tok tok tok
"Azkas, ini mamah. "
__ADS_1
Azkas yang saat itu tengah duduk dimeja belajar pun menoleh kearah pintu. Ia menutup buku Diary hijaunya dan menyimpannya dibawah laci meja belajar. Lalu, Azkas berjalan mendekati pintu.
"Ada apa, Mah? " Tanya Azkas. Ia kemudian melirik kearah samping Diana.
Ada Zayn mungil yang berdiri disana sambil menyapa.
"Ha, ang Az,as "
(Hai bang Azkas)
Azkas memutar malas matanya.
"Ini mamah bawain makanan buat kamu, kasian kamu kan belum makan tadi siang " ucap Diana seraya menunjukkan isi di atas piring.
Azkas menghela napas panjang lalu menggelengkan kepala. Ia tak mau makan hari ini.
"Kenapa? Kasian perut kamu kalau gak makan. Mau mamah suapin? " Tawar Diana supaya anak lelakinya itu mau untuk makan. Ia mengusap pelan puncak kepala Azkas perlahan membujuk anaknya itu supaya makan walaupun cuma sesuap.
"Makan sayang, ya? " Bujuk Diana kembali.
Zayn yang sedari tadi disitu pun mencoba untuk ikut membujuk Azkas supaya makan. Zayn menarik jari kelingking Azkas, lalu menggerakkan kepalanya berulang kali menghadap piring yang dibawakan oleh Diana.
"Aho maam ang "
(Ayo makan bang) ajak Zayn sambil melompat-lombat dengan jari yang menunjuk kearah piring.
"Ho Ayen uapin "
(Ayo Zayn suapin ) ucap Zayn merebut piring yang dibawakan oleh Diana. Karena lengan Zayn yang masih kecil saat dan terlebih lagi ia masih memegang kertas yang ia bawa. Tiba-tiba saja piring yang ia pegang terjatuh ke lantai.
Brang!!
Seketika piring itu pecah menjadi beberapa serpihan yang tececer, bahkan ada yang mengenai ujung kaki Azkas. Hingga Azkas merintih.
"Aww.."
"ZAYN! " Sentak Diana saat melihat darah segar keluar dari ibu jempol kaki Azkas.
Diana mendorong tubuh Zayn supaya menjauh dari Azkas. "Minggir " ujarnya.
"Sini sayang mamah gendong " Diana menggotong tubuh Azkas untuk dibawa diatas tempat tidur.
Sedangkan Zayn, dia masih membatu di ambang pintu sambil netra hazel memperhatikan serpihan piring.
"Pelayan!! Pelayan!! " Diana memekik keras hingga menggema di dalam kamar. ia tampak khawatir akan keadaan Azkas.
Diana segera mengambil segumpal tisu yang ada diatas nakas lalu menempelkan kertas itu ke ibu jempol Azkas yang terluka.
Lukanya tak terlalu parah, dan tak juga terlalu dalam. Ada serpihan kecil yang menempel disana. Diana takut jika mencabutnya akan membuat pendarahan Azkas semakin terluka.
"Ini semua gara-gara kamu! " Bentak Diana.
......▪️▪️▪️▪️......
__ADS_1
^^^^^^Sisa baterai 59% dan ini hari Rabu ^^^^^^