Tuan Zayn

Tuan Zayn
Dipaksa Dan Dianiaya


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Juna? Apa dia sudah sadar? " tanya Bella pada Leha- Kaula yang baru tiba didapur.


Kaula mengangguk pelan, melangkah mendekati tempat cuci piring untuk menaruh nampan yang ia bawa.


Bella menghela nafas pelan "Sukurlah kalau begitu " ucapnya.


"Nona Bella, tugas apa yang akan kulakukan sekarang? " tanya Leha.


Lengan Bella terangkat naik merogoh saku kanan seragamnya, mencari secarik kertas yang sudah ia tulis untuk daftar kerja Leha nanti. Bella menyerahkan kertas itu.


"Ini tugas untukmu, kerjakan dengan Telaten, aku ada pekerjaan yang harus aku lakukan "


Leha menyambut kertas itu. Membuka satu lipatan yang menutupi goresan tinta hitam disana.


......▪️▪️▪️......


Zayn menyibak rambutnya kebelakang diiringi dengan hembusan nafas yang terdengar berat. Tapi syukurlah pertemuan dengan klien tadi berjalan lancar atas bantuan Arga yang ikut hadir menjadi juru bicara Zayn.


"Apa tuan haus? aku akan kebawah sebentar untuk mengambil minuman. Tuan mau apa? " tanya Arga yang sudah berdiri di ambang pintu bersiap untuk melangkah keluar.


"Seperti biasa saja "


"Baiklah tuan " Arga undur pamit dan menutup pintu. Membiarkan Zayn duduk sendiri di kursi sendirian.


Jari Zayn tampak lihai memutar balpoin di sela-sela jarinya. Dengan tatapan mata yang fokus pada layar monitor yang terbuka.


Tok, tok, tok.


"Ini aku Zayn " Jenita mendorong pintu dan melangkah masuk, tak lupa perempuan bersurai coklat itu membawa sebuket bunga seperti biasa.


Meletakkannya didekat Zayn.


"Gimana pertemuan tadi, lancar? "


Zayn berdehem mengiyakan pertanyaan Jenita.


Jenita menghela nafas berjalan mendekati jendela kantor, membuka sedikit tirai yang menghalangi sinar matahari yang ingin masuk kedalam.


Matanya terlihat kosong. Entah apa yang dilihatnya dari bangunan-bangunan menjulang di luar sana dari ruangan Zayn yang ada ditingkat dua.


🔲🔲


"Papah gak mau tau, kamu harus bisa menjadi calon istri Zayn nanti! "


"Tapi pa- "


Plak!


Belum selesai Jenita bicara, ia lebih dulu di tampar oleh papahnya sendiri, Tivo.


Pria bertubuh kekar dengan bekas goresen tipis dirahang wajahnya. Seolah melengkapi kebringasan wajah pria itu.


Tivo menarik pergelangan Jenita kasar, membuat wajah mereka berdua dekat beberapa centimeter.


"Deketin terus Zayn. rebut hatinya! " ucap Tivo penuh penekanan meremas pergelangan Jenita hingga perempuan bersurai coklat itu meringis kesakitan mencoba melepas cengkraman papahnya.

__ADS_1


"I-iya Pah " Jenita menjawab seadanya.


Dreet... Dreet...


Tivo lekas merogoh saku kemeja di balik jas hitam yang ia kenakan. Menatap tajam nama yang terpampang disana.


Liam.


Bibirnya seketika menyeringai, melepaskan tangan yang sedari tadi mengcengkram erat anak sulungnya itu.


...▪️▪️▪️...


"Ini minuman yang tuan Zayn minta "


"Terimakasih "


Netra hitam Arga seketika teralih setelah melihat sosok Jenita di dekat jendela seraya menatap luar.


"Sedang apa dia tuan? " tanya Arga menggerakkan bola matanya menunjuk kearah Jenita berada.


"Entahlah, dia tadi hanya bertanya tentang pertemuan tadi dan bunga ini " Zayn menunjuk buket bunga yang ia maksud, lalu mengangkat secangkir teh yang dibawakan oleh Arga.


Penasaran, Arga lantas mendekati Jenita disana, mencoba bertanya apa yang dilihatnya.


Lengan Arga terangkat naik menepuk pundak Jenita hingga perempuan itu sedikit menaikkan bahu, kaget.


Jenita menoleh kesamping kiri, mendapati Arga yang sudah berdiri disebelahnya.


"Kamu bikin kaget " sentaknya, menutup kembali tirai yang sempat ia Singkai.


"Ada apa? "


Karena Arga belum menganggap Jenita resmi sebagai kekasih Zayn.


"Apa kamu ada masalah? Sampai-sampai kamu melamun melihat banguan-bangunan yang ada disana? "


Netra hitam Jenita yang awalnya menunduk perlahan naik menatap pahatan wajah Arga, sembari memegangi pergelangan tangan kanannya yang masih sakit akibat cengkraman Tivo pagi tadi.


"Bukan urusan kamu " Jenita membalas ketus dan melangkah pergi dari sana.


Satu alis Arga terangkat naik, menyenderkan punggungnya pada sisi tembok sambil bersedekap dada melihat punggung Jenita yang keluar melewati pintu. Lalu beralih melirik kearah Zayn yang juga menatap dirinya. Hingga kedua netra hitam- hazel mereka saling bertemu. Bingung akan perempuan itu.


...▪️▪️▪️...


Brak!


Jenita membanting pintu toilet berjalan penuh emosi ke arah wastafel. Menyalakan keran dan menggosok tangannya kasar, membiarkan air terus mengalir membasahi kedua tangannya yang saling ia gosok.


Jenita terus menggosok kasar tangannya tanpa henti. Hingga kedua telapak tangannya terasa perih, barulah Jenita berhenti.


"Sakit " lirihnya. Mematikan keran air dan menatap bayangan dirinya di cermin persegi wastafel.


Jenita membuka mulutnya, melihat bibir bawahnya yang terasa nyeri dan terluka akibat tamparan keras Tivo pagi tadi.


Pandangan Jenita menunduk, air matanya jatuh diatas wastafel. Ia terisak disana.

__ADS_1


Disaat Jenita dalam keadaan terpuruk. Tiba-tiba dari arah luar toilet terdengar suara ketukkan pintu.


"Sekretaris, Jenita apa anda baik-baik saja? " tanya seseorang di balik pintu.


Tangis Jenita terhenti. Jenita kemudian menarik nafas dalam lalu mengembuskan nafasnya. Membasuh wajahnya, menghilangkan bekas air mata yang jatuh, hingga menyebabkan bedak yang ia pakai luntur


"Ya! Aku baik-baik saja. "


......▪️▪️▪️......


"Ya, ini adalah tugas baru untukku " Leha memutar gagang pintu kamar Zayn.


Tugas pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan kamar Zayn Agnibrata yang ada di lantai atas.


Tidak lupa dikedua tangannya penuh akan alat bersih-bersih berupa, kemoceng, Vacum Cleaner, CLING, dan lap meja yang menyangkut di pundak kiri Leha.


Netra hitam Leha terbelanak kaget melihat isi ruangan kamar Zayn. Megah dan luas. Semua benda tertata dengan rapi dan sempurna, seolah tidak ada celah bagi debu untuk hinggap.


Leha menaruh alat yang ia bawa di lantai. Tangan Leha terangkat naik mengoles atas nakas, lalu memainkan dua ujung jarinya, merasakan butiran debu.


"Gak terlalu kotor " gumam Leha.


Ia kemudian berjalan membuka gorden kamar, membiarkan biasan matahari masuk memberikan kehangatan. Leha kemudian berbalik melihat seluruh sudut kamar sembari mengacak pinggang.


"Ayo bersihkan lagi ruangan bersih ini Leha " Leha berseru didalam hati. Senyumnya mengembang berjalan mendekati alat pembersihnya.


◾◾


Leha mengembus nafas lelah. Ia langsung terduduk di belakang pintu. Leha membersihkan ruangan kamar ini dengan sungguh-sungguh, padahal ruangannya sudah bersih.


Dengan nafas yang sudah ngos-ngosan tiba-tiba netra hitamnya teralihkan pada foto bingkai yang mengantung di sisi kamar. Saking asik membersihkan kamar Zayn, Leha sampai tak perasa ada foto bingkai itu.


Dari jauh Leha melihat foto bingkai itu. Ada empat bingkai yang menggantung.


Sebuah foto keluarga, foto dua orang anak lelaki sebaya, foto perempuan bersurai coklat, dan sebuah lukisan anak perempuan berkuncir setengah.


Lukisan yang digores menggunakan pensil diatas kertas putih yang diberi bingkai.


Ketika Leha bangkit dari duduknya hendak melihat foto itu secara jelas, tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara ketukkan yang memanggil namanya.


"Leha apa kamu sudah selesai? " tanya Kaula mengintip.


Sontak Leha menoleh. "Sudah " jawabnya.


Kaula masuk kedalam, menarik pergelangan Leha untuk keluar dari kamar.


"Kamu belum makan kan? ayo kita berdua makan. Pagi tadi kita berdua tidak sempatkan? " ujar Kaula membawa Leha menuruni anak tangga.


"Iyasih, tapi aku belum menyelesaikan pekerjaan ku yang lain "


"Nanti saja kalau sudah makan "


"Baiklah kalau itu mau kamu " tutur Leha mengekor dibelakang Kaula.


......▪️▪️▪️▪️......

__ADS_1


^^^^^^|2.12| PM. ^^^^^^


^^^Hari yang cukup menyengat. Bersama derungan suara kipas angin yang berputar.^^^


__ADS_2