
Tiga hari berlalu...
Hari yang dinanti pun tiba, Arga bergegas berangkat ke kediaman rumah Leha untuk menjemputnya ke tempatnya bekerja. Dimana lagi kalau bukan di rumah megah Zayn.
Setelah berdiskusi beberapa menit yang lalu dengan Zayn, diputuskanlah bahwa Leha akan diperkerjakan sebagai pelayan dirumah bercatkan pastel itu. Dan yang paling penting adalah, Leha dijadikan sebagai pelayan pribadi Zayn karena dia pandai dalam bahasa isyarat.
...◾◾◾...
Titt,, titt..
Bunyi klakson mobil yang terparkir didepan rumah Leha yang usang. Leha bergegas mengoleskan lipstik dibibirnya lalu mengambil koper dan tas yang sudah ia siapkan diatas tempat tidur pagi tadi.
Leha mengintip di balik jendela kamarnya, ia tersenyum simpul melihat kehadiran Arga yang sudah berdiri didepan pintu, Leha lalu membuka pintu kamar sembari tangan kirinya menarik tas koper yang beroda.
"Maaf lama " ucap Leha ngos-ngosan seraya memutar kunci rumahnya.
"Gak papa " balas Arga mengambil tas dan koper milik Leha, ia masukkan kedalam bagasi mobil.
"Ar... "
Arga menoleh setelah namanya disebut, "Ada apa? " tanyanya sambil menutup pintu bagasi.
"Kamu bilang di room WhatsApp, aku akan jadi pelayan kan? " tanya Leha menunduk.
"Iya. Kenapa? kamu gak su- "
"Bukan! Bukan begitu " pangkas Leha. "Tapi, kalau boleh tau? Aku kerja ditempat siapa? "
"Karena sebelumnya, kamu gak ngasih tau siapa yang akan jadi majikan aku nanti " lanjutnya.
Leha merasa was-was jika tak tau siapa yang akan menjadi majikannya lagi. Wajarkan jika seorang perempuan merasa waspada akan pekerjaannya nanti.
Terlebih lagi, majikkannya itu adalah tunawicara.
Arga menarik nafas panjang lalu mengembuskanya ke udara. "Zayn Agnibrata " tutur Arga, membuka pintu belakang mobil untuk mempersilakan Leha masuk.
"Zayn? " kening Leha mengerut. "Zayn yang itu! " serunya.
Sebelumnya. Tepatnya beberapa tahun yang lalu. Leha sempat bertemu dengan Zayn waktu umur Leha 8 tahun. Dan itupun, karena Arga yang memperkenalkan Zayn kepada Leha.
🔳🔳
"Leha.. " Pekik Arga berlari menghampiri Leha yang saat itu tengah bermain perosotan ditaman.
Dibelakang Arga, tampak seorang anak laki-laki tengah berlari mengikuti langkah Arga yang berjalan didepan.
Leha menunduk ke arah Arga yang berdiri di sebelah perosotan.
__ADS_1
"Kenapa Arga? " Leha lantas merosot menuruni perosotan itu.
"Aku mau kenalin teman aku sama kamu " Arga menarik lengan Zayn agar berdiri disebelahnya.
Kedua mata hazel Zayn membulat setelah bertatapan langsung dengan minik hitam Leha.
Zayn mengangkat lengannya malu, menyapa.
"Hai, salam kenal." Sapa Leha menarik lengan Zayn untuk berjabat tangan.
"Nama kamu siapa? " Tanya Leha, Zayn menarik lengannya, mundur beberapa langkah dari Leha.
Arga yang menyadari hal itu lantas terkekeh dan menyahut pertanyaan Leha. "Namanya Zayn Agnibrata, Kamu bisa panggil dia Zayn."
"Ohh,, Hai Zayn, nama aku Leha Syahila panggil aja Leha " Leha tersenyum simpul menatap Zayn yang bersembunyi di punggung Arga.
Yah, walaupun umur Zayn dan Arga sama. Tetap saja, tinggi badan mereka berbeda*.
Ditengah pembincangan mereka, tiba-tiba seorang pria paruh baya berkacamata berjalan menghampiri mereka bertiga, pria itu adalah Gan, Papa dari Arga.
"Tuan Zayn " panggil Gan. "Tuan dicari sama Tuan Liam " ujarnya menuntun lengan Zayn supaya mengikuti langkah Gan pergi.
"Cepet banget, Pah. Baru cuma sebentar " tutur Arga pada papahnya itu.
"Nanti kalau ada waktu main lagi " sahut Gan.
"Kenapa dia pendiam? " tanya Leha tiba-tiba.
"Ah,, itu... " Arga mengaruk kulit kepalanya. "Zayn itu tunawicara "
Leha meletakkan jari telunjuknya dibibir, dengan bola mata yang melirik keatas seolah sedang berfikir. "Tunawicara itu apa? " Tanya Leha polos. Anak berusia 8 tahun itu tahu apa tentang kelainan.
"Kata papah dan guruku, tunawicara itu dia gak bisa bicara " jelas Arga membuat Leha sedikit tersentak merasa iba.
"Begitu... " Leha menunduk dalam, "pantas saja dia tadi gak bicara " lanjutnya.
...◾◾◾...
Jenita menghirup aroma buket bunga mawar yang ia pegang, tercium aroma segar disana. Jenita lantas mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan kerja Zayn.
"Zayn, apa kabar? " sapa Jenita meletakkan buket bunga yang ia bawa diatas meja.
Zayn melirik kearah bunga tersebut lalu menipisnya, menjauhkan buket itu sedikit mundur dari jarang laptop.
"Kamu marah sama aku? " tanyanya atas kejadian beberapa hari yang lalu.
Kembali kebeberapa hari yang lalu, alasan Zayn berdiri ditepi jalan.
__ADS_1
Zayn menghela nafas panjang setelah membaca pesan singkat dari kakaknya, Azkas. Mengatakan bahwa dia akan mampir ke perusaan Zayn sebentar.
Hubungan keduanya memang tidak terlalu akrab, oleh sebab itu Zayn tak merasa senang akan kehadiran Azkas yang akan berkunjung.
Zayn menarik gagang telpon seluler yang terletak dipojok mejanya, menekan beberapa nomor disana untuk menghubungi seseorang.
"Zayn, ada apa? " Tanya Jenita yang berada dilantai bawah, sedang menyalin beberapa dokumen.
"emari "
Kemari.
Zayn menutup telponnya setelah menyuruh Jenita untuk datang ke ruangannya. Entah apa yang akan dilakukan Zayn nanti.
Selang beberapa menit, Jenita pun datang memenuhi panggilan dari Zayn. Seperti biasa, ia akan membawakan sebuket bunga dan senyuman jika masuk kedalam ruangan kerja Zayn.
Jangan tanya dapat dimana buket bunga itu, tentu saja ia menyuruh pegawai lain untuk membelikan buket bunga mawar itu. Karena toko bunga hanya berada diseberang jalan dengan perusahaan Zayn.
"Ini " Jenita meletakkan buket yang ia bawa diatas meja.
"Kenapa Zayn? " tanyanya.
Zayn mengambil bolpoin dan kertas putih yang ada diatas meja, menuliskan sesuatu disana.
Setelah selesai baru ia sodorkan kertas itu kearah Jenita yang berdiri didepannya.
🖊️𝓚𝓪𝓵𝓪𝓾 𝓪𝓭𝓪 𝓐𝔃𝓴𝓪𝓼 𝓭𝓪𝓽𝓪𝓷𝓰, 𝓫𝓲𝓵𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓪𝓳𝓪 𝓪𝓴𝓾 𝓽𝓲𝓭𝓪𝓴 𝓪𝓭𝓪 𝓭𝓲 𝓻𝓾𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷.
𝓐𝓴𝓾 𝓼𝓮𝓭𝓪𝓷𝓰 𝓹𝓾𝓼𝓲𝓷𝓰, 𝓳𝓪𝓭𝓲 𝓳𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓰𝓪𝓷𝓰𝓰𝓾 𝓪𝓴𝓾 🖊️
Jenita mengangguk paham, namun ada sesuatu yang ingin dikatakannya namun dijegat oleh lengan Zayn yang sudah terangkat, menyuruhnya untuk segera keluar dari ruangan.
"Permisi " Jenita menunduk memutar badannya untuk segera keluar dari dalam sana.
Jenita menoleh kebelakang menatap pintu ruangan Zayn yang sudah tertutup rapat. Ia menghela nafas pelan seraya menyibak rambut gelombangnya kebelakang kemudian beranjak pergi.
Tak menunggu waktu lama, mobil sedan putih sudah terparkir dihalaman perusahaan Zayn dengan plat kendaraan A355S. Siapa lagi kalau bukan Azkas yang datang.
Azkas melangkah turun dari dalam mobilnya. Tersenyum sinis masuk kedalam perusahaan adek bungsunya itu.
"Selamat datang, Tuan " Penjaga menarik pintu, mempersilakan Azkas untuk masuk kedalam.
Netra hazel Azkas gencar menyapu setiap sudut-sudut ruangan perusahaan dengan raut senyuman merendahkan.
"Lumayan juga anak itu " kata Azkas kemudian melangkah mendekati lift untuk naik lantai atas menemui Zayn.
......◾◾◾......
^^^^^^Malam hari, tepatnya di hari Senin pukul 10.30 PM^^^^^^
__ADS_1