
Leha menoleh kiri-kanan halaman rumah sambil berharap ada Arga disana. Namun tak dijumpainya.
Meski sudah malam, halaman rumah milik Zayn seolah masih pagi. Banyak lampu taman yang menghiasi, sekiranya ada 4 buah lampu.
Leha berjalan menyusuri halaman rumah Zayn yang terang, halamannya cukup luas hingga seorang anak kecil pun bisa bermain petak umpet disini.
"Arga, Arga " Leha memanggil pelan sembari menengok kiri dan kanan.
"Ah nona Leha "
Leha menengok kebelakang keasal suara yang familiar ditelinganya.
"Juna "
"Nona lagi apa disini? " tanya Juna yang saat itu baru selesai membersihkan peralatan di gudang belakang.
"Jangan panggil aku nona, panggil aja Leha " balas Leha yang dibalas kekehan kecil oleh Juna.
"Iya, maafkan saya non- maksudnya Leha "
"Ngomong-ngomong kamu liat Arga gak? Dari tadi gak keliatan batang hidungnya " tanya Leha.
Juna berfikir sejenak, mengingat kemana tuan Arganya pergi tadi.
"Oh iya! " Juna berseru. "Beliau tadi pergi keluar, katanya sih mau jemput Kaula, karena mobilnya mogok."
"Ternyata Arga pergi " keluh Leha tak bisa membawa Arga untuk tuan zaynnya.
...▪️▪️▪️...
Arga pun tiba di tempat Kaula berada, terlihat perempuan itu tengah jongkok ditepi jalan dengan mobil yang ia pesan mogok.
"Masih lama? " Tanya Kaula pada supir berkumis tebal itu.
"Iya " balas Sang supir yang sedari tadi membuka bagasi mobil depan.
Kaula membuang nafas sembari tangannya yang memegang erat dua buah kantung kresek berisikan buah dan sayuran. Matanya tiba-tiba mengeryit setelah melihat mobil yang tak asing menepi di bahu jalan.
Lelaki yang duduk di bangku kemudi pun keluar.
"Maaf aku lama " ucap Arga menghampiri Kaula yang mulai berdiri.
Kaula mengibaskan rok belakangnya. "Tak apa-apa, Tuan. Dan seharusnya tak layak bagi Tuan untuk mengatakan hal itu " sahut Kaula diringi senyuman simpul.
"Ini kan tugasku untuk menjaga setiap pelayannya Tuan Zayn." Arga mengambil satu tas totebag besar berisikan botol air mineral disebelah Kaula.
"Kalau begitu ayo kita pulang " Ajak Arga yang dibalas anggukkan cepat oleh Kaula.
Kaula mengekor dibelakang Arga dengan senyuman kecil diwajahnya, ia menengok kebelakang.
__ADS_1
"Pak saya duluan pulangnya " Kaula berseru pada supir yang masih asik memperbaiki mesin mobilnya.
"Iya-iya, hati-hati."
Arga mengambil kantuk kresek yang ada ditangan Kaula, menaruhnya di bagasi belakang mobil yang sudah ia taruh totebag. Setelah selesai Arga pun masuk kedalam mobil.
"Sudah pasang sabuk pengaman? "
"Sudah, Tuan Arga " balas Kaula.
Arga pun menginjak pedal gas mobil, memutarkan arah mobilnya menuju ke tempat kediaman Zayn.
...▪️▪️▪️...
Leha menghampiri Zayn yang sudah duduk di kursi makan. Zayn terlihat gagah dan menawan saat menarik pergelangan kemeja putihnya keatas.
"Tuan Zayn " panggil Leha membuat Zayn langsung menoleh ke samping. Kedua alis Zayn terangkat. seakan bertanya ada apa.
"Saya udah cari Arga diluar rumah juga gak ada tuan. Kata Juna, Arga pergi keluar buat jemput Kaula, mobilnya mogok di jalan." Jelas Leha.
Mata Zayn mengerjap sekali diiringi anggukkan kepala kecil, kemudian merotasikan kembali kepalanya menghadap meja makan persegi panjang. Ada banyak makanan disana.
Dari lauk hasil laut, darat, sayur dan juga pencuci mulut berupa buah apel dan pisang.
Zayn mengetuk meja makan menggunakan cari telunjuknya sebanyak 3 kali, membuat Sida yang saat itu berdiri jauh dari tempat meja makan pun mendekat menghampiri Zayn.
"Kenapa, Tuan? " tanya Sida seraya memberikan tunduk hormat.
Zayn mengangkat lengannya membuat bahasa israyat. Namun, Sida yang saat itu belum pandai bahasa pun hanya bisa mengerutkan kening. Sida belum lihai akan bahasa isyarat, karena selalu Arga yang menjadi penerjemah di saat-saat seperti ini.
"Maafkan saya lancang, Tuan. Tapi Saya tidak mengerti maksud dari Tuan Zayn." kata Sida.
Zayn menghela nafas pelan lalu merogoh saku kemejanya mencari kertas dan balpoin yang selalu ia kantongi, tapi tak ada. Zayn kemudian merogoh saku celananya mencari ponsel, tapi lagi-lagi tak dijumpainya.
Barulah Zayn ingat, beberapa menit yang lalu ia sempat meletakkan ponsel dan kertas serta balpoinnya diatas nakas saat hendak membersihkan diri.
Sekarang, ia bingung harus bagaimana menjelaskan kepada Sida.
"Tuan, saya bisa jadi Penerjemah kalau tuan mau " tawar Leha yang memiliki ahli dalam bidang bahasa tunawicara.
Zayn lantas menengok kearah Leha yang masih berdiri disana.
"Baiklah, tolong katakan kepada Sida, mana pelayan yang lain "
Leha mengangguk lalu beralih menatap Sida, "Kata tuan Zayn, mana pelayan yang lain? "
"Pelayan lain sedang berada di halaman belakang tuan " sahut Sida membuat Zayn seketika mengangguk paham.
Zayn kemudian menggerakkan lengannya mengusir Sida supaya menjauh dari meja makan.
__ADS_1
"Baik, Tuan " ucap Sida mundur beberapa langkah.
"Untung kau ada disini, jika tidak, aku akan kesuliatan berbicara dengan mereka."
"Tak masalah, Tuan. Memang tugas saya " Leha menjawab.
Ditengah perbincangan Leha, tiba-tiba terdengar bunyi bel rumah yang berbunyi, sepertinya mereka kedatangan tamu.
"Biar saya kesana dulu, Tuan " ucap Sida namun di tahan oleh Zayn yang sigap menampakkan telapak tangannya.
"Tugas kau sudah berakhir di jam ini, sekarang ini giliran Leha "
"Kata tuan Zayn, tugas kamu udah berakhir. Sekarang ini giliran aku, jadi aku saja yang buka pintunya " ucap Leha menjelaskan.
Karena didalam sistem kerja didalam rumah Zayn semua sudah diatur setata mungkin. Jadi, jika tugas Si A sudah selesai di bidang masak maka dia tak perlu melakukan pekerjaan lain. Tugas Si B yang harus melanjutkan pekerjaan rumah di pukul tertentu.
Bel rumah kembali berbunyi. Leha pun lantas pergi menuju pintu utama.
Ting..Nung.. Ting..Nung..
"Tunggu sebentar " Leha menarik gagang pintu rumah dan menemukan Arga - Kaula yang sudah berdiri di depan pintu. Kedua tangan mereka penuh akan kantung kresek.
"Kalian " seru Leha sumringah, "sini aku bantu." Leha mengambil satu kantung kresek di tangan Kaula dan tangan satunya mengambil totebag yang dibawa Arga.
"Si-siapa dia? " Tanya Kaula langsung menepis lengan Leha. Ia tampaknya tak senang akan kehadiran Leha saat itu.
Arga tiba-tiba tersentak, ia lupa untuk mengenalkan keduanya- satu sama lain.
"Kaula, dia ini Leha Syahila pelayan baru disini. Dan Leha dia Kaula yang saat itu kau tanyakan. "
Netra hitam Leha dan Kaula saling bertemu. Reaksi mereka sungguh berlawanan. Leha yang tersenyum manis menyambut kehadiran Kaula yang baru tiba, dan sebaliknya Kaula yang menunjukkan wajah bundanya yang ketus.
"Kenapa kalian diam? " Arga berseru membuat keduanya seketika tertawa canggung sambil menggaruk tengkuk kepala mereka masing-masing.
"Gak papa Arga " ucap Leha.
"Arga?! eh kamu! " Kaula mendorong bahu Leha seolah ada sesuatu yang salah akan ucapannya.
"Kaula " Arga mencoba melerai.
"Ke-kenapa? apa salah aku? " tanya Leha.
"Gak sopan tau manggil majikan dengan namanya, harusnya manggil Tuan Arga itu dengan sebutan Tuan Arga. " Kaula menjelaskan dengan penuh penekanan.
Sebab, semua pelayan yang di rumah Zayn sudah tahu betapa dekatnya Arga dengan Zayn. Bahkan Zayn sediri yang mengatakan lewat tulisan, bahwa Arga sudah ia anggap sebagai keluarga. Oleh sebab itu, pelayan yang disini harus memanggil Arga dengan sebutan Tuan layaknya Zayn.
"Apa? " Leha menoleh kearah Arga. Leha benar-benar tak tahu akan hal itu, lantaran ini adalah pertama kalinya ia bekerja disini. Jadi wajar kan?
...▪️▪️▪️▪️...
^^^Sinyal M3 disini agak gangguan sedikit, | 8.16 |^^^
__ADS_1