Tujuh Hari Bersama Senja

Tujuh Hari Bersama Senja
Episode 21 Hari ke Empat (2)


__ADS_3

Indahnya suasana pantai menjadi pemandangan mereka saat ini. Duduk dibawah payung menikmati deburan ombak dan indahnya pasir menghiasi pantai.


“Cantik ya”


“Iya cantik kayak kamu”


“Apasih kak” pipi Kenanga berubah memerah, dia malu dibilang cantik oleh Bhuana.


“Cieee pipinya merah nih” tawa Bhuana meledek Kenanga


“Ihhh nggak ya kak, udah ihh malu aku” Kenanga malu menutup wajahnya dengan tangan.


Bhuana masih tertawa melihat tingkah Kenanga yang masih malu-malu denganya. Imut sekali pikir Bhuana.


Mereka menikmati indahnya pantai ditemani buah kelapa yang mereka pesan tadi.


“Kenapa suka pantai?”


“Pantai itu menenangkan, menyejukkan dan membuat nyaman”


“Kalau aku buat nyaman gak?”


“Apasih kak, gak usah gombal lagi”


Bhuana terkekeh pelan melihat tingkah gadis di sampingnya ini.


“Kalau aku suka pantai karena perginya sama kamu, kalian sama-sama membuat damai dan sejuk. Tempat berpulang yang sama ketika penat”


Kenanga menoleh ke arah Bhuana, kata-kata Bhuana berhasil membuat Kenanga terbang. Dia tersenyum sangat manis ketika Bhuana mengatakan bahwa dia salah satu tujuan Bhuana untuk pulang.


“Liat sunsetnya, bagus ya”


“Aku selalu suka sunset kak, dia hadir dengan indahnya lalu pergi membawa kenangan. Tapi dia tak pernah berkhianat, dia selalu menepati janji untuk datang walaupun hanya sebentar.”


Bhuana merasa tersindir dengan kalimat Kenanga, namun dia sadar dia juga pernah menorehkan kecewa pada gadis disampingnya.

__ADS_1


Lama mereka terdiam sambil melihat hilangnya sunset secara perlahan.


“Udah empat hari kita sama-sama apa yang kamu rasain?”


Kenanga menghela nafas sejenak, jujur saja dia merasa bahagia namun ada rasa kecewa yang dia rasakan. “Bahagia kak”


Bhuana menoleh ke arah Kenanga, dia heran kenapa kata bahagia yang gadisnya katakan.


“Bener bahagia?”


“Bener” yakin Kenanga


“Makasih udah bahagia selama 4 hari ini”


Sedang menikmati indahnya sunset tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka.


“Bhuanaaaa”


Mereka menoleh “Amanda” lirih Bhuana pelan


“Ngapain lo disini?”


“Aku lagi main ketemu kamu, aku samperin deh” jawab Amanda dengan senyum cerahnya


“Yaudah pergi sana udah ketemu gue kan”


“Ihh Bhuana gak boleh gitu, aku mau nebeng kamu aja”


“Gak ya gue kesini sama Kenanga”


“Tapi mobil aku mogok Bhuana, plisss” Amanda memelas pada Bhuana


“Gak”


Tiba-tiba telepon Amanda berdering tertera nama mamanya di ponsel itu.

__ADS_1


“Ya hallo ma?”


“Aku lagi kejebak di pantai mobilku mati”


“Gak tau ada Bhuana disini ma”


“Mama ngomong sama dia aja nih”


“Mama mau ngomong sama kamu” ucap amanda menyerahkan ponselnya pada Bhuana


Kenanga yang berada disana terdiam melihat interaksi Amanda dan Bhuana. Dia bingung apa yang sebenarnya terjadi dengan dua manusia di depannya ini. Apalagi saat melihat wajah Bhuana yang berubah ketika menerima panggilan.


Bhuana melihat kerah Kenanga, dia merasa bersalah lagi dengan Kenanga. Dia tak bisa menolak permintaan mama Amanda, dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.


“Kenanga, hmmm kamu bisa pulang sendiri aja gak?”


Seperti tersambar petir, kata-kata Bhuana membuat dia terdiam. Apa katanya dia disuruh pulang sendiri dimalam seperti ini. Mata Kenanga sudah berkaca-kaca, dia berusaha menahan agar air matanya tidak terjatuh.


“Oh iya kak gak apa-apa kok”


“Maaf Kenanga” ucap Bhuana penuh sesal


Bhuana meninggalkan Kenangan dan berlalu berjalan bersama Amanda.


Amanda melihat kebelakang menatap Kenanga dengan senyum meremehkan seolah berkata gue menang.


Kenanga terdiam menatap kepergian Bhuana, laki-laki itu benar-benar pergi meninggalkan dia sendiri disana. Air mata Kenanga jatuh, dia tak tahan lagi. Dia berlari menuju mobil dengan air mata menetes deras di pipinya.


“Arghhhhhh jahat”


Dadanya sesak, dia meninggalkan pantai dengan sejuta kekecewaan.


🌸🌸🌸


Jangan lupa like dan komennya 🙏🙏 terimaksih sudah membaca cerita ini, tolong berikan kritik agar cerita saya lebih menarik ☺️

__ADS_1


__ADS_2