
Disisi lain, ditengah lapangan sekolah terdapat kumpulan siswa laki-laki sedang bermain basket bersama. Inilah yang biasa mereka lakukan ketika jam istirahat pertama berbunyi. Mereka memilih menghabiskan waktu dilapangan daripada harus berdesakkan di kantin sekolah. Salah satu laki-laki disana yang mempunyai senyum yang paling menawan sedang mendribble bola dengan peluh yang menghiasi pelipisnya.
Setelah berhasil melakukan shot, dia berlari ke sisi lapangan menghampiri temannya dan mengambil minuman. Saat sedang minum, tak sengaja matanya melihat ke arah seberang lapangan. Dia melihat seseorang yang dia kagumin selama ini dengan senyum yang terpancar dari bibirnya. Lama menatap kearah sana, tepukan tangan menyadarkanya dari lamunan.
“Bro kalau suka deketin, ungkapin. Gak enak bro memendam perasaan gini” ucap salah satu teman laki-lakinya bernama Samuel atau biasa disapa El.
“Susah bro, rasanya dia susah untuk didekati dan juga dia kayaknya gak tertarik sama gue bro.
Disaat perempuan lainnya berebut mencari perhatian gue, dia setiap ketemu gue selalu diam dan malahan milih menghindar. Mungkin gue bukan tipenya, jadi gue cukup diam menganggumi aja.” Ucapnya sambil membersihkan keringat didahinya.
“Tapi lo kan belum nyobak bro, darimana lo tau kalau dia gak suka sama lo?” ucap teman satunya sambil duduk disebelah Bhuana.
Ya laki-laki itu adalah Bhuana, sang ketua OSIS yang dikagumi banyak siswa perempuan. Namun entah mengapa Bhuana hanya menganggumi satu wanita yang dia temui tidak sengaja saat MOS di taman belakang sedang menikmati suasana dengan buku ditangannya. Mungkin terlihat aneh seorang Bhuana yang dikagumi banyak orang karena ketampanannya dan prestasinya, namun sulit mengungkapkan perasaan pada salah satu siswa yang notabennya adik kelasnya sendiri.
__ADS_1
“Belum nyobak rasanya gue udah ditolak bro. Natap gue aja rasanya dia jijik bro, selalu mengalihkan pandangan.” Ucapnya sambil menghela napas panjang.
“Itu hanya saran dari kami aja bro sebagai sahabat lo, kalau emang lo nyamannya kayak gini kita dukung aja bro. Cuma lo harus siap bro sama konsekuensinya, jika suatu saat dia sama orang lain.” Ucap El kembali sambil menepuk pundak Bhuana dan berlalu untuk bermain basket kembali.
Ucapan El tadi membuat Bhuana terdiam dan memikirkan kata-kata itu. Dia menatap kembali kearah gadis itu, sanggupkah dia jika mendapat kabar jika gadisnya bersama orang lain. Dia tersenyum menyebut kata gadisnya, apakah pantas dia mengatakan hal tersebut tapi pada kenyataannya dia hanya berani menganggumi gadis itu dari kejauhan. Bhuana kembali berpikir bagaimana jika dia melihat gadis itu tertawa dengan orang lain, rasanya Bhuana tidak akan sanggup. Namun Bhuana lebih tidak sanggup lagi jika dia tidak bisa melihat senyum wanita itu dan wanita itu menjauh dari pandangannya jika dia mengungkapkan perasaanya. Lama berpikir bel berbunyi menyadarkan Bhuana dari lamunannya.
“Bro bel udah bunyi tuh ayoo kembali ke kelas gak usah ngelamun terus.” panggil Galih pada Bhuana.
***
“Tuhkan apa gue bilang, dia itu seperti enggan menatap gue. Jangankan natap berpapasan aja kayaknya ogah” ucapnya dengan raut wajah kecewa.
Melihat kekecewaan diwajah sang sahabat, Galih menepuk pelan bahu Bhuana. “Udahlah bro mungkin tadi Kenanga kebelet ketoilet, itu kan arah ketoilet. Lo gak usah pesimis gitu jadi orang.
__ADS_1
“Udahlah bro kita pulang aja, gue udah janji sama mama pulang awal.” Ucap Bhuana sambil berlalu menuju parkiran sekolah.
Di lorong tadi, Kenanga kebingungan kemana arah lorong ini akan membawanya. Dia pun melihat kebelang, dia merasa sudah jauh dari ujung lorong tadi lalu dia memutuskan untuk berhenti dan mengatur napas dalam. “Uh untung aku belok kesini, kalau tadi papasan sama Kak Bhuana bisa ketahuan aku kalau suka sama dia.” Ucapnya smabil mengusap peluh dipelipinya. Lama Kenanga menunggu disana, hingga dering ponselnya mengagetkan Kenanga. Dia menatap layar ponselnya dan ternyata sang kakak yang menelepon Kenanga. “Halo bang… iya Kenanga masih di dalam sekolah, sekarang Kenanga ke luar gerbang.” Ucapnya lalu memutuskan sambungan teleponnya dan meletakkan kembali ponselnya dalam saku.
Setelah itu kenanga memutuskan untuk kembali kelorong yang tadi dan menuju gerbang sekolah untuk menemui sang kakak.
“Dek sini” panggil laki-laki yang bersadar disebuah mobil berwarna hitam yang ternyata adalah kakak Kenanga bernama Satrio atau sering dipanggil Rio.
“Uhhh… maaf kak nunggu Kenanga lama, tadi Kenanga habis dari toilet.” Ucapnya dengan nada tergesa-gesa.
Melihat sang adik berkeringan dan ngos-ngosan, Rio pun mengelap dahi sang adik dan menuntun sang adik masuk kedalam mobil. “Jangan lari ih, nanti jatoh lo mana keringetan gini lagi!”
🌸🌸🌸
__ADS_1
*** Terimakasih sudah membaca cerita '7 Hari Bersama Senja' semoga ceritanya menarik untuk kalian baca. Jangan lupa tekan tombol like dan kasi saran pada kolom komentar yang, biat saya tambah semangat menulis.
Terimakasih 🌸🌸***