Tujuh Hari Bersama Senja

Tujuh Hari Bersama Senja
Episode 23 Hari ke Lima (2)


__ADS_3

Kenanga berjalan dikoridor sekolah menuju kelasnya. Sebentar lagi bel masuk berbunyi, dia bergegas menuju kelasnya.


“Heii dari mana?”


“Ehh kak, dari taman belakang kak”


“Pantesan gak ke kantin”


“Lih itu mata kamu kenapa?”


Kenanga kaget ketika Bhuana menyadari matanya bengkak “ehh tadi kelilipan kak, aku kucek jadi berair gini”


“Beneran” selidik curiga Bhuana


“Bener kak”


“Yaudah, nanti pulang bareng ya kita ke rumahku mama mau ketemu kamu”


Kenanga kaget mendengar ucapan Bhuana, laki-laki itu mengatakan ingin mempertemukan dia dengan mamanya.


“Ehhh gimana kak?”


“Kerumahku ketemu mama”


“Tapi……”


“Tapi kenapa? Aku gak terima penolakan mama baik orangnya”


“Okeee kak, aku ke kelas dulu ya kak”


“Oke nanti aku tunggu di parkiran”


***


Bel pulang sekolah berbunyi, seluruh siswa berlomba menuju gerbang sekolah untuk pulang. Begitupun dengan Kenanga, dia bergegas menuju parkiran untuk bertemu Bhuana.


“Maaf kak lama”


“Gak apa-apa, yuk masuk”


Mereka memasuki mobil Bhuana dan berangkat menuju rumah Bhuana. Dalam perjalanan Kenanga hanya menatap ke arah jalan. Dia sangat takut saat ini, mengingat dia akan bertemu dengan orang tua Bhuana.


Melihat ke arah Kenanga, Bhuana menghela napas pelan. Dia sangat paham apa yang dirasakan Kenanga, namun dia menjamin jika sang mama akan menyukai Kenanga.

__ADS_1


“Kamu kenapa?”


Kenanga menoleh ke arah Bhuana lalu menggeleng pelan “Gak kenapa-kenapa kok”


Bhuana menggenggam tangan Kenanga “Don’t worry mama baik percaya sama aku”


Ada sedikit perasaan lega yang dirasakan Kenanga.


Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, hingga sampai di sebuah rumah yang ternyata adalah rumah Bhuana.


Kenanga yang tadi sudah tampak tenang, kembali menegang.


Mereka masuk bersama dengan tangan Bhuana menggenggam tangan Kenanga. Mereka berjalan beriringan memasuki rumah Bhuana.


“Siang ma, Bhuana datang nih bawa Kenanga”


“Bhuana kebiasaan deh teriak-teriak pulang”


Wanita paruh baya yang masih sangat tampak cantik menghampiri mereka.


“Ini Kenanga? Cantiknya”


Kenanga tersenyum kaku dan menyalami tangan mama Bhuana.


“Siang tante”


Mereka menuju meja makan dan sudah terlihat laki-laki yang ternyata papa Bhuana.


“Ini yang namanya Kenanga?”


“Iya om” ucap Kenanga sembari salim dengan papa Bhuana


“Yuk kita mulai makan aja”


Mereka makan dalam diam, setelah makan Kenanga duduk di ruang tamu menunggu Bhuana mengganti bajunya. Perasaan Kenanga lega, keluarga Bhuana menerimanya dengan senang hati. Kenanga melihat sekeliling ruang tamu Bhuana. Dia melihat foto-foto yang terpajang di ruang tamu itu. Sampai di pojok ruangan tak sengaja Kenanga mendengar suara seseorang. Dia mendekati suara itu dan melihat siapa yang berbicara.


“Bhuana dengerin mama, mama suka sama Kenanga dia anaknya baik dan rajin juga sepertinya. Tapi mama gak setuju kamu sama dia, kamu udah mama jodohin ya sama Amanda. Lagian dulu kalian berdua saling suka kan”


“Tapi itu dulu ma, aku sekarang maunya sama Kenanga”


Entah kenapa Bhuana sangat kesal dengan sang mama, mamanya memaksa Bhuana dengan Amanda yang sudah jelas Bhuana membawa Kenanga kerumahnya


“Mama tetep gak setuju, kalau berteman gak apa-apa. Mama tetep maunya kamu sama Akanda titik”

__ADS_1


“Mama gak bisa gitu dong, aku udah gede ya ma”


“Turuti kata-kata mama Bhuana, jangan jadi anak pembangkang. Mama masih berusaha baik ya sama Kenanga, jangan sampai mama berbuat yang gak baik sama teman kamu itu”


“Tapii ma…..”


Belum selesai Bhuana berbicara mama sudah meninggalkan Bhuana menuju lantai atas. Bhuana bingung saat ini “Arghhhhhh” dia menggeram kesal dan memilih menuju ruang tamu tempat Kenanga berada.


***


Kenanga kaget mendengar semua itu, ternyata mama Bhuana tak menyukainya. Beliau baik padanya karena beliau menghargai Kenanga tamu di rumah itu. Air mata Kenanga tiba-tiba menetes, rasa sakit menjalar di tubuhnya.


Dia terduduk menangis mendengar perdebatan Bhuana dengan mamanya. Akankah Kenanga menyerah saat ini atau Kenanga boleh egois untuk dua hari kedepan.


“Sakit” Kenanga menepuk dada pelan. Dia berusaha berdiri dan menghapus air matanya ketika dia mendengar langkah kaki mendekat. Dia kembali ke posisi semula pura-pura tidak mendengar apapun itu.


“Maaf ya lama”


“Gak apa kok, kak aku mau pulang udah sore tadi mama chat disuruh pulang”


Bhuana sedikit aneh melihat Kenanga, mata gadis itu seperti habis menangis dan suaranya sedikit serak.


“Kamu kenapa? Ada sesuatu”


“Enggak kok kak, aku mau pulang aja”


“Aku panggil mama papa bentar ya”


Bhuana memanggil kedua orang tuanya untuk Kenanga pamit.


“Loh udah mau pulang ini?”


“Iya tante udah sore”


“Dianter Bhuana ya?”


“Enggak kok tante, barusan sopir saya sudah jemput”


Bhuana menyerit bingung, kapan Kenanga menghubungi sopirnya.


“Kapan kamu telepon supirmu?”


“Tadi waktu mama telpon sekalian suruh jemput aku, itu sepertinya udah di depan. Permisi ya tante om” Kenanga salim dengan kedua orang tua Bhuana.

__ADS_1


Kenanga pergi meninggalkan rumah Bhuana dengan perasaan kecewa dan hancur. Dia menuju mobil dan menangis sesegukan di dalam mobil hingga di sampai dirumah dan berlari ke kamar untuk menumpahkan rasa sakitnya.


🌸🌸🌸


__ADS_2