Tujuh Hari Bersama Senja

Tujuh Hari Bersama Senja
Episode 25 Hari ke Enam (2)


__ADS_3

Pulang sekolah Kenanga dan Bhuana sudah berjanji akan bertemu dengan papa Kenanga. Saat istirahat tadi tiba-tiba saja papa Kenanga meminta Kenanga untuk mengajak Bhuana ke rumah untuk bertemu dengan dirinya.


“Udah siap? Kita pulang yuk?”


“Yuk kak”


Bhuana menggandeng tangan Kenanga namun “Aduhh kak”


Mendengar Kenanga meringis Bhuana kaget dan melihat ke arah tangan Kemanga” loh ini kenapa kok merah gini?”


Kenanga menarik tangannya dan menyembunyikan tangannya di belakang badannya. “Gak apa-apa kok kak”


“Kalau gak apa-apa kenapa merah gitu”


Kenanga bingung apa yang harus dia katakan pada Bhuana saat ini. Dia hanya tak ingin membuat masalah semakin panjang.


“Tadi gak sengaja kejedot lemari buku di perpus kak”


“Kok bisa ceroboh gitu sih”


“Gak apa kok kak udah diobatin tadi”


“Beneran?”


“Bener”


“Yaudah sekarang kita pulang, nanti sampai rumah obati lagi ya”


Mereka menuju rumah Kenanga dalam diam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing


Sesampainya di sebuah rumah mewah dengan nuansa putih, ketika masuk beriringan dan bertemu dengan mama Kenanga di ruang keluarga.


“Loh kakak udah pulang”


“Udah ma”


“Siang tante”


“Oh hallo siang, ini Bhuana kan?”


“Iya tante”


“Silahkan duduk dulu tante buatkan minuman”


Kenanga pamit untuk mengganti pakaiannya sedangkan Bhuana duduk di ruang keluarga menunggu Kenanga.


“Ehhhh siang”

__ADS_1


Bhuana berdiri menyalami tangan papa Kenanga”Siang om”


“Duduk”


Aura mencengkam terasa disana, Bhuana menunduk melihat tatapan tak bersahabat dari papa Kenanga.


“Kamu yang namanya Bhuana?”


“Iya om saya Bhuana”


“Punya apa kamu berani deketin anak saya”


“Saya gak punya apa yang om punya untuk membahagiakan Kenanga. Namun saya punya hati saya untuk saya berikan ke Kenanga agar dia bahagia om.”


“Kamu pikir anak saya bisa makan hati kamu”


“Setelah lulus nanti saya akan kuliah sambil bekerja om”


“Kalau seandainya keluargamu tak menyukai Kenanga, kamu mau apa?”


“Itu tidak mungkin om, tapi saya akan memperjuangkan Kemanga”


“Papa” suara cempreng mencairkan suasana disana”


“Hallo princessnya papa”


“Enggak kok,”


“Bener?”


“Bener sayang”


Mereka bertiga saling terdiam, mama datang membawa minuman dan snack


“Loh kok pada diam, ini nak Bhuana diminum dulu”


“Makasih tante”


“Setelah ini kita makan malam ya”


Papa mengajak Kenanga untuk kemeja makan terlebih dahulu meninggalkan Bhuana sendiri dengan minuman ditangannya,


“Aduh pah jangan ditarik sakit”


“Loh ini kenapa? Kok merah”


“Gak kenapa-kenapa kok pag”

__ADS_1


“Kenanga jangan bohong sama papa” ucap papa tegas tak bisa dibantah lagi


Kenanga hanya menunduk sambil melihat pergelangan tangan nya


“Apa ini ada hubungannya sama laki-laki itu?”


“Nggak pa, ini bukan salah kak Bhuana aku tadi kepentok lemari perpus”


Bhuana yang baru saja datang tak mengerti dengan suasana disana. Tatapan tajam dari pap Kenanga membuatnya terdiam seribu bahasa


“Kamu bilang sayang dengan anak saya, baru saja saya mendengar itu tangan anak saya sudah lecet. Besok-besok apa lagi? Pipi anak saya lecet karena sayang kamu itu”


Bhuana masih terdiam tak menanggapi pmongan papa Kenanga. Sebenarnya dia pun penasaran kenapa dengan Kenanga namun saat ini sepertinya bukan waktu yang tepat untuk bertanya.


“Saya tidak akan membiarkan Kemanga dekat dengan kamu lagi, pulang kamu keluar dari rumah saya”


“Tapi om…”


“Gak ada tapi-tapian, keluarrr”


Bhuana keluar dari rumah Kenanga dengan perasaan kecewa. Kecewa kenapa papa Kenanga tidak menyukainya. Dan kebetulan sekali ada kejadian tangan Kenanga memerah menambah ketidak sukaan papa Kenanga dengan dirinya. Bhuana memutuskan untuk pulang ke rumahnya menenangkan diri.


“Papa jahat, aku mau kak Bhuana” teriak Kenanga


“Baru dekat aja kamu udah berani bentak papa Kenanga. Gimana kalau kamu jadi pacar dia”


Kenanga terisak mendengar penuturan papapnya


“Maaf pa”


“Papa gak mau kamu dekat sama dia”


“Pa… Kenanga mohon, sehari lagi aja pa. Setelah itu Kenanga akan menjauhi Bhuana”


“Sehari apa maksud kamu?”


“Kenanga punya janji dekat 7 hari sama Bhuana pa, besok hari terakhir ijinin Kenanga menyelesaikan semuanya pa. Setelah itu terserah papa mau apa, Kenanga turuti”


“Kamu janji besok terakhir?”


“Janji pa”


“Anak papa”


Papa memeluk Kenanga erat, sangat erat seolah tak ingin berpisah dari anak tercintanya.


Mereka melanjutkan acara makan malamnya dan langsung menuju kamar untuk istirahat sejenak.

__ADS_1


🌸🌸🌸


__ADS_2