
Simon, adalah nama panggilanku. Saat ini aku tinggal di kota Banyuwangi, kota yang identik dengan bau-bau klenik dan sejenisnya, yang paling terkenal adalah santetnya. Seperi itulah kotaku dikenal, bagiku tidak ada yang berbeda dengan kota lainnya. Jika kalian tanya pekerjaanku apa, maka jawabannya adalah seorang pebisnis. Ya, aku memiliki beberapa resort di sekitaran pulau merah, karena di sana adalah tempat wisata jadi cocok untuk para pengunjung yang ingin menginap.
Tidak ada yang kurang satu pun dari hidupku, sempurna adalah kata yang tepat untukku, meski belum menikah setidaknya aku memiliki seorang kekasih. Hidupku lancar, bisnis lancar, liburan di mana saja juga lancar.
Hingga suatu ketika, di mana aku mulai merasakan sebuah perubahan yang sangat besar. Aku tidak tahu pasti itu apa, namun sempat membuat kekasihku khawatir dan takut. Bagiku, aku sama seperti yang dulu, masih Simon yang lemah lembut, perhatian, penuh kasih sayang dan selalu baik-baik saja.
Tepat tanggal 21 April tahun 2015 pada malam hari tepatnya, sekitar pukul 20:35 aku duduk di sudut kamar sambil memegang rambut dan menggigil. Sandra masuk ke kamarku dan memanggilku, dia mendekat perlahan saat itu juga aku mulai berteriak sambil berlari.
"Simon, kamu kenapa? Apa ada masalah hari ini?" tanya Sandra padaku.
"Arrkkkhhhhhhhhhhh," jawabku sambil berlari menjauhinya.
"Simon! Kamu kenapa?" bentak Sandra sekaligus terkejut melihatku.
"Hahahaha, Sayang. Kemarilah, biar kutunjukkan apa itu cinta dan kasih sayang," ucapku sambil ter-engah-engah.
"Sayang, aku mohon. Jangan sakiti dirimu, cerita padaku apa yang terjadi." sambil berjalan mendekatiku, suaranya payah dan penuh takut.
__ADS_1
"Ssstttt, kemarilah. Lihat, apa kau melihat bintang di sana?"
"Simon, tidak ada bintang di sana. Hanya mendung dan sebentar lagi akan hujan."
"Sandra, apa kau buta. Langit seterang itu kau bilang mendung? Mari biar aku perjelas lagi, langit di sana menyimpan bintang yang indah dan banyak!"
"Simon, tolong lepaskan aku. Ini sakit, tanganmu menekan tengkukku terlalu kasar."
"Ahhh, Sayangku sudah mulai pandai dalam merasakan sakit. Baik, mari kita mulai perjalanan malam ini." aku menariknya dan melemparnya di atas kasur, sangat kasar hingga dia kesakitan.
"Auw, Simon, Simon, tunggu. Apa yang kamu lakukan, aku akan pulang. Karena besok aku harus masuk pagi."
"Emhh, Simon, aku tidak bisa. Maaf, aku harus pergi." dia meronta-ronta, dan memohon kepadaku.
"Satu malam saja, tinggal lah bersamaku. Kumohon Sandra, kabulkan permintaanku." sambil memelas kepadanya.
"Simon, maaf. Besok aku harus masuk pagi."
__ADS_1
"Apa! Kau mulai membantahku, berani berpaling dariku. Baik, kau yang memintaku melakukan ini semua. Mari kita bermain kasar, agar kau bisa menghargaiku Sandra!"
Sandra terdiam sejenak dan kebingungan, seolah dia terkejut dan merasa sangat sakit.
"Si, Simon, apa yang akan kamu lakukan?"
"Diam! Aku, akan mengikatmu di atas ranjangku. Lalu, aku melakukan sesuatu yang kau rindukan selama ini."
"Simon, hentikan sekarang juga!"
"Sshhhhtttt, Sandra. Jangan membentakku, aku mulai bergairah sekarang. Cukup menurut saja padaku, apa kau paham!" bisikku menekan tepat di telinganya.
Aku mulai mengikat satu persatu tangannya, lalu kedua kakinya dan menutup mulutnya agar dia tidak banyak berteriak.
"Sayang, apa kau sudah siap bermain malam ini. Kita tidak sendirian, di sana banyak benda yang siap membelaimu. Tapi, aku tidak akan menyakitimu tenanglah sedikit."
"Emmmmm ... Emmmm ... Emmmmmm ... ."
__ADS_1
Suara Sandra kini tidak lagi terdengar, hanya rintihan yang tersumpal. Aku sangat bergairah dan semakin semangat melihat dia mulai keglinjangan ke sana ke mari, meronta-ronta bagaikan tikus yang siap di suntik.
Brughhh ... Saat itu juga aku ambruk dan tak sadarkan diri.