
"Sandra, kok mukamu cemberut gitu?"
"Hai Kak, iya Sandra lelah. Mau istirahat dulu."
"Kamu baik-baik saja?"
"Tentu, Sandra selalu baik-baik saja."
"Jika ada masalah, jangan sungkan untuk bercerita."
"Oke, Kak."
Aku berlalu meninggalkan Kakak menuju kamar, lalu menghempaskan diri ke atas kasur.
Sepertinya aku salah mengambil hari untuk liburan bersama Simon, aku rasa dia sedang tidak dalam keadaan baik. Padahal kemarin malam kita baik-baik saja, atau mungkin selepas dia begadang jadi sedikit sensitif.
Rasanya begitu nyaman, ketika tubuh ini menyentuh permukaan kasur. Lembut dan wangi, memberikan arti lebih untuk tubuhku yang penat, sambil membenamkam wajahku ke dalam bantal. Aku mengeram gemas, bahwasannya hubungan ini terkadang masih seperti anak kecil.
Seperti kejadian tadi sore, Simon enggan makan bersama di tempat tadi. Dia ngotot untuk pulang, sedangkan perutku sudah begitu sakit.
Kembali kurebahkan tubuh ini setelah tengkurap yang cukup lama, aku melihat langit-langit kamar. Betapa indahnya di atas sana, warna-warni lampu berkelap-kelip.
"Sudah tidur?" Pesan masuk dari Simon yang membuyarkan pikiranku.
"Belum ... ."
"Istirahatlah, besok pagi aku akan mengantarmu pergi bekerja."
"Terima kasih,tapi besok aku akan ke surabaya."
"Dengan siapa?"
"Sendirian."
"Sandra, jangan membuatku khawatir. Ini tidak lucu, jika kamu marah harus pergi ke surabaya sendirian."
"Tapi ... ." Belum selesai aku mengirimkannya, tiba-tiba Simon menelpon.
"Halo, Sandra."
"Iya?"
"Apa kamu marah?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Ayolah, Simon. Apa yang kamu khawatirkan padaku?"
"Kamu gila? Aku pasanganmu. Tentu aku memiliki rasa khawatir, apa aku tidak boleh khawatir padamu?"
"Iya, boleh. Tapi, kamu besok juga kerja kan. Aku nggak mau menyulitkanmu bahkan merepotkanmu."
"Dengerin aku, Banyuwangi ke Surabaya itu perjalanannya tidak semata-mata seperti rumahmu menuju rumahku. Memakan waktu setengah harian bahkan lebih, bagaimana jika kamu kenapa-napa di jalan. Sedangkan aku, jauh darimu."
"Baiklah, aku di antar sopir."
"Tidak, aku tetap yang akan menemanimu besok. Istirahatlah, besok pagi-pagi sekali aku akan menjemputmu ke rumah."
"Simon, dengarkan aku dulu."
"Selamat malam, Sayang. Aku menyayangimu."
"Aku juga."
Obrolan kami berakhir begitu saja, seolah berat sebelah. Ini adalah sikap dan sifat Simon, dia selalu over protektif kepadaku. Dan terkadang aku merasa terkekang, namun hanya aku pendam sendirian.
Aku tidak pernah tahu, sebelum menjalin hubungan denganku apakah dia berlaku sama dengan mantan kekasihnya terdahulu atau hanya denganku saja.
Aku beranjak dari tempat tidur, membuka jendela membiarkan angin masuk. Malam ini begitu dingin, aku hanya bisa memeluk diri sendiri, menenangkan segala pikiran yang kacau.
__ADS_1
"Sandra?" Panggilan Kakak dari luar kamar membuatku begitu malas untuk membukanya.
"Sandra, apa kamu baik-baik saja?"
"Kakak, bagaimana bisa masuk?"
"Maaf, bukannya kamarmu tidak dikunci?"
"Iya, maaf. Pikiranku sedang kacau, besok aku akan pergi ke surabaya."
"Kenapa? Apa ada hubungannya dengan Simon?"
"Tidak, bukan itu."
"Lalu?"
"Aku akan pergi untuk melakukan beberapa pemotretan, Kak."
"Besok mau di antar sama siapa?"
"Aku masih ragu soal ini, Simon bilang dia akan mengantarku."
"Istirahatlah, jika memang Simon. Itu terdengar cukup bagus dong, kenapa masih ragu. Sudahlah, Kakak mau istirahat juga."
"Selamat malam, Kak."
"Jangan terlalu memikirkan banyak hal, nanti kamu bisa sakit."
Sambil mengingatkanku dia segera keluar kamar lalu menutup pintunya.
Apa yang dia katakan benar, mungkin aku lebih baik menerima tawaran Simon. Jika aku menolaknya, itu akan berakhir buruk.
Aku segera pergi mencuci muka dan mengganti piyama tidur, rutinitas setiap malamku selalu begitu. Lalu aku pergi tidur lebih awal, karena besok pagi Simon menjemputku.
*Pov Simon*
Apa yang sebenarnya terjadi pada Sandra, kenapa dia tiba-tiba ingin pergi ke surabaya. Apakah dia merencanakan ini, atau dia belum sempat memberi tahuku. Apa aku yang terlalu keterlaluan, memikirkan hal buruk tenrang Sandra. Malam ini benar-benar membuatku tak karuan, apa karena selepas liburan ini aku menjadi lebih sensitif. Tapi kenapa, apa yang telah terjadi di tempat tersebut.
Saat pikiranku mulai kotor, hal yang membuatku tenang adalah dengan minuman. Tentu saja itu berakohol, rumahku adalah istana bagiku. Oleh sebab itu aku selalu menyediakan minuman tersebut untuk diriku sendir, tanpa Ayah dan Ibu tahu bahkan Sandra sekaligus. Semua kusimpan rapih, hanya aku dan Bi Satiyah yang tahu.
Satu sloki telah tuntas kutelan terang-terangan, dengan wajah yang sedikit berekspresi masam. Betapa leganya ketika setiap tegukan itu mengibaratkan pikiran kotor, sudah kulumat habis di dalamnya. Malamku kini telah berwarna biru, sebiru langit malam yang berhiaskan rembulan dan bintang.
"Tuan,Tuan Simon?"
"Emh, kenapa?"
"Maaf, Tuan. Apakah Tuan ada janji dengan Nona Sandra?"
"Hah! Apa!. Oh tidak. Ini pukul berapa Bi?"
"Ini jam 6 pagi, Tuan."
"Oh tidak, Sandra pasti marah besar padaku."
*Pov Sandra*
"Sandra, Sandra?"
"Hem ... ."
"Kamu tidak jadi pergi hari ini?"
"Hah, ini jam berapa Kak?"
"Kamu hampir terlambat, ini jam 5 pagi."
"Oh tidak, aku harus segera mandi. Apakah Simon sudah menjemputku?"
"Dia ada di bawah."
"Suruh dia menungguku 5 menit lagi, Kak."
__ADS_1
Harusnya aku tidur lebih awal lagi, jika jam 5 aku tidak segera pergi aku akan terlambat.
30 menit kemudia.
"Kak, mana Simon?"
"Dia di jalan."
"Hah?"
"Dia di depan, sudah menunggumu dari tadi."
"Baik, aku berangkat dulu Kak."
"Hati-hati di jalan, jangan berantem terus di jalan. Jangan lupa sarapan."
"Baik, Kak. See you."
***
"Hoam, huhm."
"Apa kamu masih mengantuk, Sayang?"
Aku terkejut, ketika Sandra kembali memanggilku 'Sayang'.
"Tentu saja."
"Jika kamu masih mengantuk, biar aku diantar sopir saja."
"Heh, sejak kapan kamu membatalkan perjanjian kita?"
"Tidak ada perjanjian, ya sudah. Ayo kita pergi."
"Baiklah."
Hari masih sedikit gelap, namun tak menyurutkanku untuk mengantar Sandra ke surabaya.
Begini saja, sudah membuatku tenang ketika bersanding dengannya. Aku merasa lebih baik, apakah aku terlalu berlebihan atau memang harus semestinya menjaga Sandra.
"If someday your feet can't touch the ground
If someday your arms can't feel my touch
If someday your eyes can't see my face
I'll carry you, be there for you anytime of day
Forever is a long time
But I keep my words that I say to you
Together we can go far
As long as I'm with you
'Cause I will fall for you
No matter what they say
I still love you, I still love you
You'll never be alone
Now look me in the eyes
I still love you, I still love you 'til forever."
Halo Readers, terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita Author.
Yuk tingalkan jejaknya, karena itu adalah energi untuk Author.
__ADS_1
Salam Author
@beeh_nda