
"Ana kidung rumeksa ing wengi,
teguh ayu luputa ing lelara,
luputa bilahi kabeh,
jin setan datan purun,
peneluhan tan ana wani,
miwah panggawe ala,
gunaning wong luput,
geni atemahan tirta,
maling adoh tan ana ngarah mring mami,
guna duduk pan sirna."
Malam menerpaku dalam tembang kidung, semilir angin menerpa wajahku dengan lembut. Kusesapi puntung rokok yang menyala, menghangatan jiwa yang rusak.
Semakin malam semakin dingin dan gelap, aroma malam yang khas mampu menenggelamkan aku pada setiap liriknya.
"*Sakabehing lara pan samya bali,
kehing ama pan sami miruda,
welas asih pandulune,
sakehing braja luput,
kadi kapuk tibaning wesi,
sakehing wisa tawa,
sato galak lulut,
kayu aeng lemah sangar,
songing landhak guwaning mong lemah miring,
myang pakiponing merak.
Pagupakaning warak sakalir,
nadyan arka myang segara asat,
temahan rahayu kabeh,
apan sarira ayu,
__ADS_1
ingideran mring widadari,
rineksa malaikat,
sakathahing rasul,
pan dadi sarira tunggal,
ati Adam uteku Baginda Esis,
pangucapku ya Musa*."
Lantunan tembang ini semakin lama semakin bergelayutan di kepalaku, seolah menghinoptis. Aku yang sedari tadi hanya berdiri di samping jendela, mulai merasakan lelah dan mengantuk.
Kumatikan rokok yang telah habis kuhisap, kutekan di dalam asbak. Sedikit guregangkan badanku, melemaskan badan yang kaku. Tembang yang kudengarkan kini telah berhenti, seketika itu juga aroma dupa mulai menyebar ke ruangan kamarku.
Sekarang tepat tengah malam, hanya ada aku di kamar ini. Tidak sedikit pun ada rasa takut, yang ada justru rasa heran. Aku ingat, penyewa kamar 203 memiliki dupa dan semacamnya. Aku berniat mendatanginya, untuk menegur sekaligus bertanya apa maksud dia.
Sebelum aku benar-benar pergi, pintu kamarku sudah diketuk oleh seseorang dari luar, ini menarik. Ada seorang tamu yang tahu di mana letak kamarku dari resort ini, selain Kaisar dan Sandra.
Aku mendekat pada pintu, berjalan perlahan dan mengintipnya dari tempat pengintip kaca kecil yang ada di pintu. Aku terkejut, dia malah menantapku dengan aura dingin dan mencekam.
Aku berusaha tenang dan tidak peduli kepadanya, kupikir dia hanya bermain-main. Namun, sekali lagi dia mengetuk pintu kamarku dengan sedikit kasar, tidak ada suara dari mulutnya. Aku benar-benar hanya diam di balik pintu, tidak menggubris keinginannya.
Aku melangkahkan kakiku mendekat ke kasur, satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Dia mulai memangil namaku, benarkah dia mengenalku, lalu siapa dia. Masih saja aku mematung, memikirkan banyak pikirian yang menjerumuskanku kepada ketakutan.
"Tuan, Simon. Saya tahu anda di dalam. Tolong bukakakan pintunya, segera," bisiknya sedikit, yang masih bisa kudengar dari dalam.
"Jika Tuan tidak bersedia, biarkan saya yang mendobraknya sendiri."
"Masuklah, kita bicara di dalam," ucapku lirih kepadanya yang telah membukakan pintu kamar.
Kupersilahkan dia masuk di kamarku, dia mulai berjalan dan mendekat di kasurku. Dia mulai duduk di ujungnya, sambil mengusap-ngusap telapak tangannya. Aku yang heran dengan tingkahnya hanya diam membisu, aku tidak tahu maksudnya.
"Tuan, Simon ... , apakah anda tahu sesuatu yang telah terjadi di sini?"
"Maksud anda?"
"Apakah Tuan ingat saya?"
"Tentu, anda adalah penyewa kamar 203. Lalu, apa tujuan anda kemari. Bukankah ini tidak sopan?"
"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya mengikuti arah aroma dupa yang berhenti di kamar Tuan."
"Maksud anda, aroma dupa yang membawa anda kemari?"
"Benar, saya merasakan sesuatu yang akan terjadi pada Tuan."
"Maaf, saya tidak tertarik untuk diramal. Bahkan saya tidak percaya dengan hal-hal semacam itu."
"Baiklah, saya hanya akan mengingatkan Tuan. Bahwa akan ada sesuatu yang membawa Tuan kepada hal besar."
__ADS_1
"Terima kasih, tapi ... ."
"Tapi apa, Tuan?"
"Kamu siapa, kenapa kamu bersedia mengingatkan saya?"
"Saya adalah Laras, seorang gadis yang mencintai hal klenik dan semacamnya. Saya datang kemari bukan sekadar liburan semata, namun akan melakukan ritual di pantai. Apakah Tuan ingin pergi bersamaa saya malam ini, menari dipinggiran pantai, diterangi oleh sinar rembulan."
"Tidak, saya lelah. Saya mau istirahat."
"Tuan, mandilah dengan air garam yang ditaburi kembang. Karena itu akan menjaga Tuan dari makhluk jahat."
"Ha ha ha ha ... . Terima kasih, tapi sekali lagi saya tidak akan pernah mau melakukan hal itu." gelegar tawaku yang membisingkan ruangan hening.
"Tuan, mohon maaf. Saya undur diri dan sepertinya sudah waktunya saya melakukan ritual ini."
"Baiklah, have a nice dream ladies."
Aku mengantarnya sampai pintu kamar, sambil tersenyum sinis dia meninggalkanku. Seolah ada pesan yang tersirat di dalamnya, sedangkan aku enggan menduganya.
Aku mengunci pintu dan memastikan aman, aku pergi mencuci muka dan tangan bersiap untuk tidur. Selesai dari kamar mandi, aku kembali mengecek jendela. Memastikan tidak akan terbuka karena angin, dan di sana aku melihat. Wanita gila itu sudah menari-nari, meliuk-liuk, dan benar-benar cantik.
Menggunakan pakaian tradisional penari, lalu dia melambaikan tangannya padaku.
Sedangkan jarak kita teramat jauh, namun dia mampu menjangkauku.
Bulan begitu terang bersinar, ombak kecil sesekali ikut menari bersamanya. Selain itu ada dupa serta kemenyan yang dia letakan tidak jauh dari dia menari, dia begitu menikmati setiap gerakan, seolah memiliki arti dari tariannya.
Perlahan dia masuk ke dalam air lalu membasuh diri dan mengusap-mengusap tubuhnya, setelah puas dari mandinya dia kembali ke pinggir pantai. Lalu menutup kegiatannya dengan sungkem lautan, dan dia menghilang begitu saja bersamaan dengan asap dupa yang mengepul.
Aku yang melihat kejadian tersebut sedikit terkejut, lalu menutup jendela beserta tirainya. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, melepaskan semua pikiran yang tidak karuan serta mengabaikan kejadian yang baru saja terjadi.
Semoga malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak dan mimpi indah, tidak ada kejadian yang mengejutkan lagi setelah ini.
Sebelum tidur aku membaca doa, agar terlindungi dari makhluk jahat maupun niat jahat seseorang kepadaku.
Simon telah terlelap dalam tidurnya, apa yang dia lihat dan apa yang dia alami malam ini adalah nyata. Tidak ada lagi mimpi buruk yang dia lalui setelah kejadian sore tadi, namun apakah Simon akan tersadar apa yang selanjutnya terjadi. Mungkin, dia akan terus bertanya-tanya atau mungkin dia akan terus mengabaikan apa yang orang lain katakan.
Malam yang panjang untuk Simon, dia bertemu banyak hal yang terduga. Bahkan bertemu dengan seorang penari yang mungkin asal usulnya tidak begitu jelas, tiba-tiba datang ke kamar Simon tengah malam dan berbicara kepadanya seolah-olah wanita itu tahu segalanya tentang Simon. Bahkan wanita tersebut mampu menemukan kamar Simon serta mampu melihat Simon dari jarak yang lumayan jauh, apakah ini masuk akal.
Jika saja mampu dijelaskan dengan cepat, mungkin tidak akan ada lagi misteri-misteri yang bergelayutan.
Halo Readers...
Selamat hari raya idulfitri, mohon maaf lahir dan batin. 1441H.
Setelah kian lama tidak up, akhirnya up juga. karena Author sibuk kemarin, maafkan ya.
Jangan lupa tinggalkan jejak, karena itu sumber energi buat Author. Terima kasih banyak.
Salam Author,
__ADS_1
@beeh_nda