Two 2 Side

Two 2 Side
SALI#4 Hobi yang Menyebabkan Handphone Hilang


__ADS_3

Hujan mulai mengguyur sebagian kotaku, aku yang sedari tadi hanya di balik jendela mengamati setiap tetesannya. Mengembun dan buram, kini kaca jendelaku tak lagi terlihat bersih. Sejak malam tadi, aku tidak pulang ke rumah orang tuaku atau pun rumahku sendiri.


Setelah mengantar Sandra pulang, aku kembali ke resort karena ada beberapa pekerjaan yang belum selesai. Saat aku hendak kembali pulang, hujan pun mulai turun begitu deras, oleh sebab itu aku putuskan untuk tinggal. Dan sekarang, hujan masih setia membasahi bumi.


Aku yang masih menggunakan piayama tidur, bergegas mandi untuk bersiap bekerja. Mungkin, aku sudah terlambat, tapi di sini adalah tempatku.


Cras ... air mengalir dari shower yang kunyalakan, aku memutarnya ke arah air panas. Agar hari ini aku lebih bertenaga dan rileks, karena tadi malam aku lembur.


Kunikmati setiap tetesnya, mengalir disetiap kulit tubuhku. Sesekali aku memejamkan mata, merasakan lebih dalam hangatnynya air. 10 menit telah usai aku mandi, kuambil handuk untuk menyeka sisa air yang menempel di tubuhku, lalu kulilitkan di setengah badanku.


Aku memutuskan untuk bercermin terlebih dahulu, sebelum mengenakan pakaianku. Melihat otot-otot yang mulai kendur kurang olah raga, sepertinya hari ini aku akan pergi ke tempat fitnes. Karena ada Kaisar, bisa kuandalkan dia meski terkadang terlihat memalukan, tapi sosok pintar.


Setelah puas memilih pakaian olah raga, aku menyiapkan barang bawaanku seperti; botol minum, handuk kecil dan pakaian ganti. Setelah semua kurasa cukup, aku segera menuju parkiran mobil.


Di perjalanan menuju lift, aku bertemu dengan wanita penyewa kamar 203 kemarin. Ternyata kita sama-sama masuk lift dan akan turun di lantai yang sama. Hanya hening setelah sempat saling tersenyum, aku melihat jam tangan ternyata sudah pukul 09.30 wib.


"Permisi, Nona."


"Ya?"


"Sekarang pukul berapa, ya?"


"Tunggu, biar saya cek. Pukul 09.25, Tuan."


"Baiklah, terima kasih." jam tanganku lebih cepat 5 menit darinya, karena itu sengaja kulebihkan.


"Bukankah, anda memiliki jam tangan sendiri?"


"Saya hanya memastikan, bahwa jam tangan saya tidak rusak."


"Owh, baiklah."


Tidak buruk basa basiku ternyata.


Setelah pintu lift terbuka, segera aku menuju tepat di mana mobilku terparkir. Di pikiranku hanya ada kata fitnes, tidak ada pikiran lain.


Aku begitu peduli dengan kesehatan tubuh dan keidealan. Bukan karena untuk pamer tubuh ke wanita-wanita di luar sana bahkan lelaki pun, aku memang menyukainya.


Perjalanan cukup lenggang, jadi aku sampai tujuan hanya 15-20 menitan saja. Kuparkirkan mobil di depan tempat fitnes, dan langsung masuk ke dalam.


Setelah selesai mengisi daftar member, langsung aku memasang posisi pemanasan.


Treadmill, tempat pemanasanku. Itu adalah alat yang mampu membantu kita untuk berjalan, berlari, bahkan berjalan menanjak tanpa berpindah tempat. Telah 15 menit aku di atas alat tersebut, selanjutnya aku lanjutkan ke alat leg press machine, alat ini gunanya untuk membentuk otot paha dan otot betis, selanjutnya aku lanjutkan lagi ke angkat barbel. Agar otot-otot lenganku dan dada terlihat lebih kuat serta berisi.


Tak terasa waktu yang gunakan telah berlalu begitu cepat, sekarang sudah pukul 11.30 siang.


Aku istirahat sejenak untuk minum dan berganti baju, tapi setelah kupikir kembali aku tidak perlu ganti baju. Karena lebih baik langsung pulang, karena aku sudah tidak kuat lagi--cukup gerah dan lengket.


Saat aku mencari handphoneku ternyata tidak ada. Kurogoh-rogoh seisi tas, hasilnya nihil. Aku segera berlari menuju mobil, setiap tempat kujelajahi dan kembali lagi nihil.


Betapa sialnya aku hari ini, langsung kutancap gas sekencang mungkin agar cepat sampai di resortku.


Aku tergopoh-gopoh saat di parkiran, kupencet-pencet tombol lift agar segera sampai di lantai kamarku. Saat kubuka kamar, di sana sudah ada soerang wanita yang menungguku berdiri tepat di depan jendela.


Sandra, itu adalah dia. Belum hilang panikku karena handphone, sekarang dia juga yang membuatku kaget.

__ADS_1


"Sandra ... ," sapaku lirih, sambil menutup knop pintu.


Dia melihatku terdiam tanpa ada jawaban, lalu kembali pada kegiatan yang sedari tadi dia lakukan.


"Sayang, ada apa. Kok terlihat tidak baik?"


" ... ."


"Hei, kenapa? Kok diam saja."


"Dari mana saja?" nadanya begitu kesal dan kurasa dia sudah menungguku selama kepergianku dari tadi.


"Maaf, aku baru pulang dari tempat fitnes," jawabku sembari menaruh tas di atas meja.


"Hemh, dari tadi aku telpon kamu ... ."


"Iya, lalu?"


"Apanya yang lalu? Ya, kamu ke mana saja!"


"Hei, tenang Sayang. Biar aku jelasin dulu."


"Hanya 5 menit."


"Apa, oke. Jadi gini ... "


"Dan, harus masuk akal."


"Handphone aku hilang."


"Iya, hilang. Sudah kucari ke mana-mana, hasilnya nihil. Oleh sebab itu aku buru-buru pulang dan sekarang kamu ada di kamarku."


"Jadi?"


"Iya, aku kaget."


"Ini apa?" Sambil memegang handphoneku dia menunjukannya padaku.


"Loh, kok ada di kamu?"


"Aku yakin, tadi kamu buru-buru, kan, berangkatnya dan lupa bawa handphone karena gerimis."


"Iya, bener gitu." aku lega mendengarnya karena tidak jadi hilang.


"Humh, sudahlah. Cepat mandi sana, aku hari ini libur kerja."


"Jadi, sayangku sekarang nggak ngambek lagi, kan?"


"Masih kok, kenapa? 25 panggilan masuk tak terjawab, 115 pesan masuk tak terbalas."


"What? Apa kamu seniat itu padaku?"


"Pikir aja sendiri, aku capek."


"Baiklah, aku minta maaf. Setelah ini, kita sarapan ya," ajakku pada Sandra.

__ADS_1


"Nggak mau, ini sudah siang bukan pagi."


"Iya, iya. Jadi mau ke mana?"


"Mandi aja sana, cepetan. Nanti tempatnya aku kasih tahu, jangan bawel."


"Siap, komandan."


"Berisik."


***


Pov Sandra


Pukul 09.30 wib di rumah Sandra.


Hari ini adalah hari liburku, dan sepertinya cuaca setelah hujan akan cerah siang ini. Karena berita cuaca mengatakan hari ini tidak turun hujan lagi, aku putuskan untuk berlibur dengan Simon.


Aku mulai bersiap-siap untuk mengajaknya, sebelum itu aku sudah menyiapkan pakaian yang akan aku kenakan hari ini. Berhubung aku memilih tempat di luar ruangan maka aku, menggenakan pakaian yang tertutup dan simpel.


Aku padankan dengan sneaker berwarna biru navy, celana jeans dan kaos oblong berlengan panjang. Tak lupa aku membawa topi kebanggaan, aku yakin hari ini akan sedikit terik.


Tuutt ... tuuut ... tuuuttt ...


"Panggilan yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan, cobalah beberapa saat lagi."


Simon tidak menjawabku, sudah kuhubungi 25 kali telpon dan sudah kukirim 115 pesan pun tidak ada jawabannya. Begitu menyebalkan ketika seseorang yang kalian hubungi tidak ada jawaban, salahkah jika aku harus langsung menuju ke resortnya sekarang.


Aku putuskan untuk ke resortnya, karena pesan terakhir darinya dia tidak dapat pulang jadi menginap di sana. Untungnya juga aku memiliki kunci cadangannya, karena jika sewaktu-waktu Simon lupa maka kunci ini yang akan menjadi penggantinya, begitu kata Simon.


***


"Sayang, memangnya kita mau ke mana?"


"Ssttt, cepat ganti pakainmu. Jangan lupa bawa topi dan jaket, terus pakai sepatu yang nyaman oke," perintah Sandra padaku.


"Baiklah, Nona."


"Kok Nona?"


"Maaf, kita ulang. Baiklah, Tuan Putri."


"Hahaha, kita akan pergi ke Jawatan Benculuk, Sayang."


"Wow, tempat yang indah. Oke, Sayang aku akan segera membawamu ke sana."


Ini adalah tempatnya πŸ‘‡, kerenkanπŸ‘‰πŸ‘ˆ 😍



Halo readers, semoga kalian suka dengan tulisan Author. Maklum, author masih amatir buat nulis novel.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah, itu adalah sumber energi untuk Author. Terima kasih banyak.


Salam Author,

__ADS_1


@Beeh_nda πŸ’•


__ADS_2