
"Sandra, kamu kenapa?"
"Nggak papa, Kak. Aku hanya menikmati cuaca pagi hari."
"Yakin?"
"Hemh, iya. Kak, sebenarnya dalam sebuah hubungan itu ... ." Aku tidak melanjutkannya lagi, bingung harus dimulai dari mana.
"Soal hubungan kalian?"
"Bukan, bukan begitu. Hanya saja, aku ada rasa mengganjal yang tidak berkesudahan. Aku selalu berpikiran yang tidak-tidak soal Simon dan Salsa, entahlah, sudah kutepis jauh namun masih saja terus-terusan mengganggu. Sebaik apa hubungan ini, jika masih ada orang lain yang mengharapkan."
"Sandra, kenapa kamu tidak mengutarakan apa yang kamu rasa ke Simon. Itu akan jauh lebih baik, karena, kalian bukan lagi anak kecil. Yang saling menutupi dan akhirnya meledak begitu saja lalu berantakan."
"Harusnya begitu, tapi aku belum memiliki waktu yang pas. Untuk membicarakan soal ini, aku takut nantinya akan semakin memperburuk keadaan."
"Well, hubungan kalian memang sudah rumit dari awal."
"Maksud Kakak?"
"Bukan begitu, maksud kakak-kenapa kamu bersedia menerima Simon. Yang jelas-jelas notabennya waktu itu sedang sekarat, mencari pelampiasan yang akan menyembuhkannya lalu kembali pada wanita itu."
"Tidak ada yang istimewa waktu itu, memang aku kenal dengannya sudah lama. Bahkan dia sempat bercerita tentang hubungannya dengan Salsa, sebagai seorang teman aku pasti akan memberikan nasihat yang terbaik buat mereka. Bahkan aku tidak menyuruh dia untuk berpisah, yang ada malah aku menyuruh Simon mempertahankannya."
"Apa kamu tahu hubungan Simon saat itu?"
"Aku tahu, sebuah perjodohan yang dilakukan oleh Salsa dengan pria lain."
"Benar, kakak rasa Simon laki-laki yang pengecut. Dia tidak mampu mempertahankan wanitanya, malah yang ada dia mengikhlaskan pria lain merebutnya."
"Sudah lama, yang jelas. Saat ini Salsa suka sekali menghubungi Simon diam-diam, tanpa sepengetahuanku. Atau mungkin mereka berdua ingin menjalin masa itu lagi, aku tidak tahu yang mana."
"Sandra, Salsa adalah mantan yang sangat dia cintai dulunya. Banyak pengorbanan yang dilakukan Simon, namun nyatanya kamu tahu sendiri. Mereka berpisah dengan kenyataan yang menyakitkan."
"Aku tidak pernah tahu sejauh itu, aku hanya dimintai saran oleh Simon. Meski kami terbilang cukup dekat, tidak dengan hal pribadi."
"Sebaiknya kamu bicarakan dengan Simon, karena kakak tidak ingin merusak hubungan kalian."
"Kakak tidak merusak, aku dan kita hanya mengobrol. Nantinya setiap ucapan yang kakak berikan akan aku saring kembali."
__ADS_1
"Kamu memang wanita yang baik, kakak percaya suatu hari nanti akan ada sosok yang mampu membersamaimu dengan apa adanya yang kamu miliki."
"Terima kasih, Kak. Aku harap kakak pun begitu."
"Harusnya, tapi soal hubungan. Kakak sedikit trauma, jadi sebisa mungkin kakak akan menjagamu lebih baik."
"Hehehe ... . Baiklah."
Memang benar apa yang dikatakan Kak Kaisar, harus ada konfirmasi dengan yang bersangkutan. Tapi, apakah Simon akan menerima ini semua dengan mudah atau sebaliknya. Karena aku tahu, sikap dia yang kasar dan keras serta masih suka terbawa emosi. Aku harus bersabar, pasti akan ada waktu yang pas untuk membicarakan masalah ini.
Hari ini adalah hari libur untuk tokoku, oleh sebab itu aku hanya berada di rumah saja dengan Kak Kaisar. Melakukan olah raga, bersih-bersih rumah, menonton televisi dan bersantai. Satu lagi; membaca buku, ini adalah kegiatan yang biasa aku kerjakan.
Meski terkadang jenuh juga, namun aku tetap bisa menikmatinya dengan santai. Aku dan Kak Kaisar bisa dibilang cocok, karena kami tidak terlalu berisik saling menghargai satu sama lain.
Sesekali kami saling bercerita, jalan-jalan dan makan-makan. Sifat dia yang jauh berbeda dengan Simon, kakak lebih kalem dan santai, tidak pernah tersinggung bahkan marah-marah ketika aku berbicara dengannya.
Entah itu sedikit dengan nada tinggi ataupun merajuk, dia bisa mengontrol itu semua, kadang aku berharap sifat yang kakak miliki bisa dimiliki juga oleh Simon. Sayangnya tidak akan pernah terjadi, meski mereka berdua bersahabat, namun tidak akan pernah berpengaruh kepada Simon.
Saat ini aku tidak berniat pergi ke mana-mana, begitupun kakakku. Aku hanya ingin tidur sepanjang hari, menghabiskan waktu hanya di rumah saja.
Sayangnya Simon terlalu mendadak menghubungi, bahwa dia akan mengajakku pergi keluar. Sungguh membuatku sedikit enggan, jika tidak dituruti maka dia akan marah, jadi aku iyakan saja.
"Halo, Sayang. Aku sudah ada di depan rumah."
"Oke."
Aku pergi keluar, untuk membukakan pintu gerbang. Dan Simon pun sudah berada di dalam rumah, berhubung kakakku tidak tahu jadi aku memanggilnya untuk menemui Simon. Karena aku akan bersiap-siap dulu, setelah kakak sudah duduk bersama Simon, aku tinggalkan mereka berdua.
Hanya butuh waktu 20 menit untuk aku bersiap-siap, lalu aku menuju ke bawah menemui mereka berdua.
"Aku sudah siap, apa kakak juga diajak?" Tanyaku pada Simon.
"Tidak perlu, biarkan kalian yang menikmatinya berdua," jawab kakak yang tiba-tiba.
"Tentu, aku akan membuat dia bahagia hari ini. Tenang saja Kaisar, aku akan menjaganya," ucap Simon yang tak ingin kalah dari kakak.
"Apa-apaan ini, kalian sedang berbicara masalah apa. Seolah-olah aku sedang diperebutkan," celetukku yang sesikit sebal.
"Tidak ada, Sayang. Kamu sangat cantik hari ini, ayo kita pergi sebelum harinya semakin memanas."
__ADS_1
"Kakak, aku pergi dulu. Aku akan segera pulang cepat, see you Kak."
Aku pun berpamitan dengan Kak Kaisar, namun wajahnya menunjukan sedikit tidak suka dengan Simon.
"Hati-hati, Sandra. Jangan lupa nanti ... ," kata Kak Kaisar sambil mengangkat kedua alisnya, mengisyaratkan konfirmasi kepada Simon. Aku hanya tersenyum membalasnya.
Setelah aku dan Simon berpamitan kini saatnya kita pergi meninggalkan rumah, dan aku tidak tahu mau diajak kemana.
"Sayang, kamu kenapa dari tadi melamun terus?" Tanya Simon padaku.
"Emm ... tidak ada. Oh ya, aku lupa. Kita sebenarnya mau ke mana?"
"Aku akan membawamu ke tempat yang istimewa, dan aku yakin kamu belum pernah ke sana."
"Ayolah, katakan saja kita mau ke mana. Karena aku takut jika salah memakai pakaian."
"Hahaha ... sudah cantik dan sudah pas. Tenang saja, kita akan menikmatinya bersama."
"Hih, awas saja jika aku tidak nyaman dengan lingkungannya."
"Tentu saja, aku sudah mempersiapkannya dengan matang."
"Hem, baiklah."
Telah sampailah pada tempat tujuan yang dimaksud oleh Simon, itu adalah taman nasional baluran. Aku sempat heran dengan sikapnya, kenapa tiba-tiba mengajakku ke sini tanpa ada pemberitahuan sama sekali.
Namun, aku sangat suka dengan tempatnya, ini adalah pertama kalinya aku datang ke mari. Sungguh indah dan menakjubkan, aku pun sangat menikmati suasana di sini.
"Sayang, apa kamu suka tempat ini?"
"Tentu saja, tempatnya bagus sekali. Aku baru tahu tempat ini ada di indonesia, aku jadi cinta tanah airku."
"Iya, ini adalah tempat yang dinamakan "little Africa in Java". Jadi kita tidak perlu jauh-jauh ke Africa, jika di negeri sendiri memiliki tempat yang hampir sama," jelas Simon padaku. Memang benar kata Simon, karena tempat wisata yang kita punya saja masih jarang diekspos.
"Terima kasih, sekali lagi. Kamu memberikan banyak kejutan padaku yang tak pernah terduga-duga, aku akan mengenangnya dengan baik."
"Sama-sama, Sayang. Di sini kita bisa menemui banyak satwa liar yang cantik-cantik, seperti banteng, kerbau, rusa, kera berekor panjang. Mereka semua masuk dalam daftar hewan yang dilindungi. Iya, seperti kamu."
"Aku, maksud kamu aku hewan juga?" Jelasku pada Simon yang sedikit sebal.
__ADS_1
"Bukan begitu, termasuk dalam daftar seseorang yang aku lidungi juga."
"Apaan sih, gombal terus," jawabku dengan tersipu malu.