Two 2 Side

Two 2 Side
Who Are You#7 Pura-Pura


__ADS_3

Waktu telah berlalu sangat cepat, setelah kejadian satu bulan kemarin semua seperti biasa. Wanita penyewa kamarku telah pulang ke rumahnya, kini aku merasa baik-baik saja, tidak ada hal aneh yang terjadi lagi.


Sandra dan aku semakin dekat, meski terkadang masih ada konflik kecil-kecil yang membumbui hubungan ini. Di tengah-tengah hubunganku dan Sandra, masih ada Salsa--mantan kekasihku. Aku rasa dia masih belum rela jika aku memiliki wanita lain, sedangkan dia telah menikah waktu itu.


Mungkin Sandra mengetahui perihal Salsa, yang masih menghubungiku. Namun kenapa dia masih bungkam, atau memang iya dia tidak tahu sama sekali. Aku ingat waktu itu, ketika kami sedang di Surabaya. Menyewa apartemen, sepulang dari Surabaya aku membuka pesan-pesanku dari bawah ke atas.


Saat aku melihat-lihat semua pesan, ada satu nomor yang tidak memiliki nama. Langsung saja kubuka, namun pesan yang dia sampaikan terlihat familiar bagiku. Saat kubaca, benar--itu pesan pemiliknya adalah Salsa. Pantas saja saat itu Sandra ingin segera pulang dan gaya bahasa tubuhnya berbeda.


Aku tahu pasti, Sandra tidak sengaja membacanya. Malam itu juga aku membalas singkat dan sekadarnya ke Salsa, namun yang terjadi dia semakin melunjak dan manja.


Sedangkan aku di sisi lain tak tega juga kepadanya, karena jelas sisa kenangan itu terkadang selalu hadir. Sesekali kurespon dengan baik dan sesekali dia melakukan video call kepadaku, meski begitu aku tak mau berlama-lama dalam meladeninya.


Hubunganku dan dia sebatas itu saja, tidak berlanjut dan langsung saja kublock, karena ini adalah penyakit. Saat ini aku telah memiliki Sandra, aku akan membahagiakan dia bagaimanapun caranya. Aku telah nyaman dalam hubungan kami, aku telah berjanji juga pada diri sendiri sedari awal ketika bertemu dengan Sandra.


Entah mengapa Salsa masih saja sering menghubungiku, entah dengan nomor yang berbeda ataupun nomor pribadinya yang baru. Alasannya pun tidak pernah jelas, aku takut jika Sandra berpikiran buruk tentangku.


Padahal aku tahu, bahwa Sandra tidak akan pernah mempercayaiku dengan sepenuhnya. Bukan karena apa, namun rasa yang tertinggal dari masa lalunyalah yang membuat dia sedikit berjarak dengan sebuah kepercayaan.


Meski begitu, aku akan berusaha untuk terus membuktikan pada Sandra. Bahwa aku, laki-laki yang berbeda dari mantan kekasihnya yang dulu.


Selepas aku pulang dari rumah Sandra kemarin, aku kembali mengecek pesan-pesan yang masuk. Karena ketika aku bersama dengan Sandra, secara aotomatis aku akan mengabaikan handphone dan pesannya. Aku akan fokus dengan Sandra dan hanya dengan Sandra, waktuku akan kuhabiskan bersama dengannya.


Kutemui pesan masuk, video call dan telepon nomor masuk, yang telah diterima. Aku sedikit kecewa dengan diri sendiri, sebuah kepercayaan yang Sandra beri berangsur-angsur akan mematahkannya kembali. Itu semua dari Salsa, dan aku yakin past mereka telah memperdebatku di masa lalu. Tuhan, kenapa hal semacam ini hadir, aku ingin bahagia hanya bersama Sandra.


Saat kubaca semua pesannya, ini sangat menyakitkan hati bagi siapa saja yang membacanya. Aku mencoba tenang dan mengontrol emosi, aku di sini sebagai korban Salsa. Dia telah mengatakan hal yang tidak benar pada Sandra, dan Sandra pasti akan mencerna setiap ucapan dari Salsa.


Meski Sandra tidak mudah percaya, pasti dia akan memperhitungkan setiap masalah yang ada, giliranku nanti yang bersiap-siap menerima ledakan dari Sandra.


Kenapa harus pura-pura baik-baik saja, sedangkan kamu tidak begitu baik. Atau aku yang terlalu pengecut untuk berterus terang padamu, bukan maksudku menutupinya, hanya saja aku enggan mengulik masalah yang ada. Nantinya akan memperpecah kita dan dia--Salsa akan tertawa girang, melihat drama yang dia ciptakan.


Sebenarnya apa yang telah kalian bicarakan, hingga Sandra akhir-akhir ini menutup diri dariku. Terlihat begitu sensitif, dan banyak melamun ketika kuperhatikan. Haruskah aku menghubungi Salsa lagi, atau membiarkan dia.


"Hai, bagaimana kabarnya?" Tiba-tiba pesan masuk dari Salsa.


Aku tersenyum puas, ketika seseorang yang kupikirkan kini mencariku tanpa harus aku yang mengawalinya.


"Baik, ada apa lagi?" Jawabku sinis.

__ADS_1


"Nggak papa, cuma ingin tahu saja kabarmu."


"Buat apa?"


"Memang nggak boleh, ya?"


"Terserah."


Pesan yang masuk semuanya menggoda iman, seolah membutuhkanku, sedangkan dulu dia telah membuangku.


Tak lama dari kubalas pesannya, dia tiba-tiba video call. Yang entah tujuannya apa, namun selalu kutolak mentah-mentah. Sepertinya dia tidak menyerah begitu saja, berkali-kali dia video call terus meski sering kutolak.


Akhirnya kuangkat video callnya yang ke tujuh kali, namun kamera depan kualihkan ke kamera belakang dan kututup dengan jari.


"Halo ... . Sedang sibukkah?"tanyanya ramah dan menggoda, sambil senyum-senyum melihatku.


"Apa, mau ngapain?" Tanyaku balik, masih dengan kamera gelap.


"Wajahnya mana, kok ditutupi. Malu ya?"


"Apa! Sudahkan sekarang, jangan hubungi aku lagi," kubuka kameranya dan kuperlihatkan wajahku padanya.


"Ya buat apa, sekarang aku sudah memiliki seseorang. Jadi jangan ganggu, dan ini tidak penting."


"Kenapa, kalian sedang marahan? Hahaha ... ya maaf."


"Enggak. Mana ada."


"Oh ya sudah kalau gitu, kamu sibuk nggak?"


"Iya, kenapa?"


"Hanya ingin video call sama kamu saja."


"Ya sudah, aku sibuk. Jangan ganggu lagi, satu lagi jangan ngomong yang aneh-aneh sama Sandra tentangku."


"Kenapa, apa dia mengadu padamu dan menangis?" Ledeknya tidak suka.

__ADS_1


"Tidak, dia wanita baik-baik. Aku yang tahu sendiri."


"Jika dia wanita baik-baik, kenapa dia menggodamu dengan kencantikannya."


"Dia tidak menggodaku, aku yang memilihnya dan aku yang telah membuka hati. Jadi, sudahi dramamu."


"Baiklah, terserah kamu saja. Yang jelas Sandra itu bukan yang terbaik buat kamu."


"Tahu apa kamu tentang Sandra. Jangan pernah sebut-sebut dia dengan ucapan kotormu itu, aku tidak segan-segan."


"Kenapa, kamu tersinggung. Kan, sudah jelas begitu."


"Apanya yang jelas, aku sudah memiliki kehidupan baru. Jadi tolong saling menghargai pasangan masing-masing."


"Tentu, aku hanya menanyai kabarmu saja. Apa itu salah?"


"Salah. Karena kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Terima kasih." Tutup video call.


Langsung aku block sekali lagi dan kuberi nama "Null", hanya sembarang nama.


Agar kelak aku ingat nomor dia, jika suatu hari nanti tiba-tiba telepon lagi meski sudah kublock. Karena dia memang tidak pernah berhenti mengusikku dengan Sandra, terkadang setiap pertengkaranku dengan Sandra aku selalu dihubungi Salsa.


Aku tidak tahu kenapa, tapi nyatanya memang begitu, entah dia suka bermain belakang atau bagaimana. Aku tidak paham, meski aku tahu Ayahnya seseorang yang pandai dalam hal semacam itu. Namun, tidak masuk akal saja jika aku dan Sandra dibuat selalu bertengkar.


Aku harus berterang pada Sandra, namun akan menimbulkan pecah kembali. Jadi, kuputuskan untuk diam, lebih baik aku memendam semuanya sendiri dan menghapus jejak.


Tidak ingin melihat Sandra terluka kembali, aku akan menjaganya baik-baik. Terkadang aku marah pada diri sendiri, aku pun sempat menyesal mengenal Salsa.


Kenapa harus wanita seperti dia yang pernah kukagumi bahkan kusayang, aku merasa geli sendiri ketika mengingatnya.


Biarlah, masa lalu akan menjadi pelajaran, toh sekarang aku akan berusaha memperbaikinya.


Halo Readers,


Mohon maaf menunggu lama, karena masih direview.


Akhirnya Author bisa Up lagi. Jangan lupa, tinggalkan jejaknya. Terima kasih.

__ADS_1


Salam Author,


@beeh_nda


__ADS_2