
Kini air mataku jatuh bebas, melihat dua orang yang sekaligus sedang memagut rindu. Setelah ini, aku akan menjaga jarak di antara mereka, aku hanya ingin tenang.
"Kenapa, Sayang?" Ucap Simon padaku.
"Pergilah, selesaikan berdua dengannya."
Simon hanya mematung melihatku, lalu dia melihat handphone yang kuberikan.
Aku menangis, sesenggukan di dalam mobil, aku tidak peduli lagi apa yang mereka bicarakan. Aku hanya ingin segera pulang, sedetik yang lalu dia mampu membuatku tersenyum bahagia, sedetik kemudian dia luluh lantakan hati ini dengan sedalam-dalamnya.
***
"Kamu lagi. Ada apa hah, maumu apa! Suka sekali menggangguku dengan Sandra, kita sudah memiliki kehidupan semasing, jadi tolong saling menghargai pasangan masing-masing."
"Kok kamu marah-marah, bisa tidak bicara yang sopan denganku. Aku wanita, aku pikir kamu memperlakukan wanita masih sama."
"Berhenti bicara yang tidak-tidak. Aku muak denganmu. Sekali lagi berhenti menghubungiku. Mengerti!"
"Simon, aku rindu. Bisa tidak kita bertemu untuk yang terkahir kalinya?"
"Buat apa, aku sibuk."
Aku mematikan video call dari Salsa begitu saja tanpa peduli lagi dengan ucapan yang merayu.
Aku yakin, setelah ini akan ada ledakan yang siap menghantamku dari Sandra. S*al, semua ini karena Salsa yang tidak pernah jera melibatkanku dalam masalahnya.
Aku berusaha untuk tenang dalam menghadapi emosiku, karena pasti aku akan menghadapi emosi Sandra.
"Sayang, kenapa kamu angkat tadi?"
"Aku mau pulang, Simon. Sekarang."
Sandra yang enggan menolehku, hanya ucapan yang menyakitkan darinya, air matanya yang mengalir tidak bisa ditutupi lagi, sesenggukan yang dia tahan semakin sesak aku dibuatnya.
"Maaf, aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi aku mohon jangan ungkit masalah ini."
"Apa? Aku tidak pernah mengungkit sama sekali. Sedari dulu waktu kita di apartemen surabaya, lalu di rumahku. Aku tidak pernah memperdebatnya denganmu, aku menahannya sendirian, aku bungkam. Karena aku ingin melihatmu sejauh mana kalian mempermainkan perasaanku."
"Sandra, tenanglah. Semuanya bisa aku jelaskan."
"Sudah jelas, Simon. Apanya yang mau dijelaskan. Pernahkah kamu berniat mengganti ataupun menghapus nomor. Kurasa tidak, dari awal pun kamu tidak pernah mau mengganti nomor, bahkan enggan. Aku capek, aku capek dengan drama kalian. Aku muak."
__ADS_1
"Sandra, hentikan. Aku tahu perasaanmu. Tolong dengarkan dulu."
"Apa, apa, hah Apa! Kamu sudah berjanji tidak akan melukaiku. Nyatanya semua hanya omong kosong belaka. Sempat aku mempercayaimu, akhirnya berakhir tragis. Sama, semuanya sama saja."
Sandra begitu kalut, dia semakin menjadi dengan amarahnya. Aku akan membiarkan dia mengeluarkan semuanya, agar aku menemukan di titik mana dia akan berterus terang.
"Sandra, tenanglah. Aku mohon jangan menangis, ini membuatku sakit."
"Sakit? Iya, sakit? Mana yang sakit, aku atau kamu. Aku nggak habis pikir, selama ini kamu masih suka menghubungi dia diam-diam di belakangku, masih suka jemput dia di tempat biasa kalian bertemu, serta kamu masih suka melakukan video call dengannya. Pantas saja kamu tidak memiliki banyak waktu untukku. Aku tahu, aku sadar, aku di sini bukan siapa-siapa, sekadar pelarian semata dan pelampiasanmu."
"Sandra! Hentikan. Semuanya tidak benar."
"Berhenti, aku mau pulang. Cepat antar aku pulang sekarang!"
"Tidak, aku tidak akan mengantarkanmu pulang. Berhenti menangis dan tenangkan dirimu. Baru aku antar pulang."
"Tidak masalah, aku akan minta jemput sama Kak kisar."
"Kamu lebih memilih dia daripada aku, iya?"
"Sudah kubilang, antar aku pulang sekarang!"
"Hentikan, Simon. Aku muak dengan kalian."
"Apa yang kamu mau sekarang, kamu mau pulang iya, oke. Aku antar, setelah ini jangan pernah hubungi aku lagi. Karena kamu lebih memilih Kaisar dibanding aku kekasihmu."
"Apanya yang kekasih, jika nyatanya aku masih suka ditusuk dari belakang. Apa, hah. Apa?"
"Terserah kamu, aku capek. Aku banyak pikiran dan banyak beban, sekarang kamu malah menambahi bebanku."
"Baiklah, jika aku beban. Kita sudahi saja, silahkan berbahagia dengan SALSA YANG MASIH KAU CINTAI ITU!"
"Sandra!"
Kini dia telah keluar dari mobilku, dia pergi meninggalkanku begitu saja. Semakin pusing aku dibuat oleh para wanita ini, aku semakin gila dibuatnya. Harus apa yang aku lakukan, jika Kaisar tahu perihal Sandra, pasti aku yang akan kehilangan dia.
"Sandra, aku minta maaf. Semua ini tidak seperti yang kamu lihat, aku janji aku akan mengganti nomornya."
Tidak ada jawaban dari Sandra sama sekali. Dia hanya duduk di kursi, berdiam diri dan tak bergeming. Aku sempat putus asa dengan semua ini.
"Sandra, ayo pulang. Jangan seperti anak kecil."
__ADS_1
"Siapa yang anak kecil, aku sedang menunggu Kaisar di sini. Pulanglah."
"Kamu tidak butuh aku lagi?"
"Tidak."
"Sandra, ayolah. Aku sudah meminta maaf padamu. Kita pulang, aku akan antar kamu dan membeli nomor baru."
"Kenapa sekarang? Apa kamu suka menimbulkan perpecahan yang selalu kau tutupi sendiri. Sedangkan aku sebagai kekasihmu tidak kau anggap?"
"Bukan begitu, buat apa aku harus bilang. Yang ada nanti semakin runyam."
"Begitu cara berpikirmu rupanya."
"Sandra, ayolah pulang. Aku mohon jangan membuatku semakin khawatir."
"Berhentilah merengek, aku akan pulang. Dengan satu syarat."
"Apa?"
"Berhentikan mobilnya nanti di toko pulsa. Biar aku yang mengganti nomormu, jika dia tahu nomormu yang baru, aku akan perhitungkan ulang."
"Baiklah, baiklah. Ayo, aku akan turuti."
Keadaan kini sudah sedikit baik, namun masih tegang. Aku menuruti apa yang Sandra mau, sesuai dengan permintaannya aku berhenti di salah satu toko pulsa. Aku mengantarnya di sana dan memilih nomor yang dia sukai. Setelah puas dari sana aku dan Sandra pun pulang.
***
Aku harap, setelah apa yang terjadi hari ini semua akan baik-baik saja. Karena aku lelah, harus terus-terusan bermain dengan cinta. Aku harap Simon dan Salsa mengakhiri drama mereka, di sini aku yang terluka. Tidak bisakah mereka menyelesaikan masalah yang ada hanya berdua, tanpa melibatkan aku.
Liburanku kali ini sekali lagi hancur, karena Salsa. Semakin lama aku membenci dia, mengutuk dia. Dan Simon, tidak pernah tegas dalam menghadapi dia. Aku lelah ketika harus bertengkar dan bertengkar, sedangkan masalahnya selalu sama, yaitu Salsa.
Sepulang dari liburan, Simon menghubungiku dengan nomor barunya. Namun hanya kurespon biasa saja, masih ada rasa yang pedih di sini. Sedangkan Kak Kaisar tidak tahu masalah ini, jika tahu mungkin aku akan dilarang bertemu dengan Simon. Oleh sebab itu aku hanya mampu memendamnya sendirian, sepi sekali rasanya di sini, hening dan hampa.
Kubiarkan diri ini terbaring di atas kasur, sambil kupegangi kepalaku karena terasa berdenyut-denyut. Hanya harapan kecil, semoga kelak tidak ada lagi luka yang terus-terusan hinggap pada diriku.
***
Aku mengehal napas lega, setelah menghubungi Sandra dengan nomor baruku.
Rasanya tuntas dengan segala penyesalan ini, aku hanya bisa menyesapi rokok di balik jendela. Aku tahu Sandra terluka, memang benar kata Sandra, aku kurang bersikap tegas dalam masalah Salsa ini. Bukan karena apa, hanya aku enggan meladeninya yang akan terus-terusan melunjak. Nyatanya jika seperti ini terus, yang ada Sandra semakin terluka dengan sikap Salsa.
__ADS_1