
Matahari sudah menyingsing di balik awan, sudah terlihat sedikit terik meski malu-malu. Hanya alunan musik yang menemani kita, saling menikmati di setiap perjalanan.
Sesekali kulihat Sandra, hanya tertegun diam tanpa sekata patah pun, terlihat fokus pada hayalannya.
"Apakah tidurmu nyenyak malam tadi, Sandra?"
"Lumayan, bagaiman denganmu?"
"Hampir saja terlambat menjemputmu."
"Oh ya?"
"Beruntung saja Bibi membangunkanku, dia berbohong masalah jam."
"Kenapa?"
"Dia bilang jam 6 pagi, padahal itu masih jam 04.30."
"Hehehe, apakah ibumu membangunkanmu juga begitu?"
"Tentu, lebih parah. Yang terpenting aku tidak terlambat menjemputmu."
"Terima kasih, Simon."
"Segera habiskan makanannya, setelah ini kita akan lanjut."
"Baiklah, kamu juga."
Saat ini kita sarapan di rumah makan pinggiran Jember, waktu yang kita lalui begitu cepat. Bahkan gumitir pun telah tuntas kita lewati, sedangkan spot tersebut yang paling curam.
Aku senang ketika melihat Sandra, bisa tersenyum kembali. Rasanya, hati ini lebih tenang dan tentram. Tidak seperti malam tadi, membuatku gila tanpa sebab. Setidaknya aku tidak menampakan sisi burukku padanya, aku yakin dia akan ketakutan.
Selepas sarapan, aku kembali memacu gas mobil. Melewati jalanan yang penuh dengan pepohonan rindang, teduh dan sedikit suram. Namun, ini adalah hutan yang sebagian kita lewati.
Gerimis mampu membuat hatiku menghangat, titik-titik embun memburam di depan kaca mobil. Sandra yang begitu kedinginan sesekali mengosok telapak tangannya, memberikan isyarat bahwa dia butuh penghangat.
Aku mulai menggenggamnya dengan erat, lalu kutepuk-tepuk perlahan. Penghangat mobil kini telah aku setel, membiarkan Sandra menikmatinya. Sesampai tol Sidoarjo, hujan mulai reda. Namun, sisa-sisa dingin masih menusuk tulang persendian bahkan tembus ke dalam relung.
Sandra telah tertidur selama perjalanan, aku tahu dia lelah. Semoga dengan ini, dia memiliki energi yang cukup untuk pemotretannya.
Klakson-klakson mobil saling bersahutan, menandakan sudah mulai macet. Inilah surabaya, yang sambutannya riuh akan pengandara yang enggan mengalah. Aku hanya bisa menghela napas berat, tentunya juga tidak mau mengalah dalam jalur yang kulewati.
"Emh, apa sudah sampai?"
"Loh, sudah bangun."
"Sampai mana kita?"
"Sudah di surabaya, jadi ini langsung ke mana?"
"Jam berapa sekarang?"
"Jam 15.30."
"Loh, kok cepet?"
__ADS_1
"Minum dulu ini, semua pertanyaanku nggak kamu jawab."
"Maaf, iya tunggu aku cek telepon dulu." Sambil menenggak air minumnya, Sandra.
"Kita mau ke mana? Ini sudah di depan lampu merah Royal Plaza."
"Loh, kok nggak jadi fotonya."
"Jadi? Terus kita ngapain?"
"Tunggu, ini pesannya. Tadi malam jam 23.30, yaampun sayang ... ."
Sandra tertegun syok dengan pesan yang diterimanya tadi malam. Aku tak habis pikir, kita jauh-jauh ke surabaya untuk acara prank seperti ini.
"Jadi kita mau ke mana, sekarang?"
"Aku nggak tahu, kita harus ke mana."
"Kenapa nggak kamu hubungi lagi orangnya."
"Sudah, tapi belum di bales."
"Kamu dibohongi ini, nggak masuk akal. Kamu juga kenapa tadi malam nggak cek lagi pesanya."
"Aku capek, setelah menerima telepon darimu aku langsung tidur."
"Sia-sia kita pergi jauh, bayangkan berapa jam kita menghabiskan waktu di perjalanannya."
"Kenapa kamu marah-marah sama aku, ini juga aku baru baca."
"Kan, sudah kubilang. Biar sopir aku yang antar, karena kamu pasti ngeluh."
"Jelas aku ngeluh, karena kamu dibohongi. Aku merelakan waktu kerjaku buat kamu, dan hasilnya sia-sia."
"Simon, berhenti bilang sia-sia. Aku mendengar ucapan itu sudah 3 kali kamu ucapkan, bisa nggak kamu itu sedikit meredam masalah. Bukan malah nambah masalah."
"Aku, masalah? Yang benar saja, kamu itu masalah."
"Cukup, kalau aku masalah. Tinggalin aku di sini. Kamu sendiri yang menawarkan dirimu buat nganter aku. Nyatanya kamu malah sekarang marah-marah nggak jelas. Di sini aku harusnya yang marah, bukan kamu yang marah. Yang mau foto itu aku apa kamu? Mau sampai kapan kamu nggak bisa dewasa, setiap ada masalah kecil aku terus yang ngalah."
"Halah, dewasa. Kamu harusnya yang bercermin, bukan aku. Setiap ada maslaah pasti aku yang ngalah, sekarang lihat. Kita muter-muter nggak jelas di sini, terus mau kamu apa, hah!"
"Berhenti untuk mengintimidasi aku. Kalau kamu capai kamu bisa menginap di hotel, selagi kamu masih banyak teman kamu bebas."
"Maksud kamu?"
"Hentikan, kita berdebat masalah kecil nggak akan ada habisnya."
"Itu semua karena kamu, paham."
"Iya, semua karena aku. Puas."
Lagi dan lagi, aku dipermainkan oleh Sandra. Tidakkah dia puas sekarang, mempermainkan perasaanku. Bermain-main dengan alasan konyol seperti ini, harusnya dia bisa berterus terang ketika dia ingin menghindar dariku.
Sungguh bodoh, kenapa aku selemah ini. Setiap masalah selalu berakhir dengan amarah, sifat dia yang selalu kekanak-kanakan dan tidak bisa bersikap dewasa. Selalu aku yang terus-terusan meredam segala egois ini.
__ADS_1
Sekarang hanya ada dua pilihan, menginap di surabaya atau langsung lanjut pulang kembali. Sedangkan aku sedari tadi mengitari jalan surabaya, dan Sandra hanya diam membisu tanpa kata apapun. Membiarkanku melaju sesuka hati tanpa tujuan apapun, rasanya ini tidak adil.
15 menit sudah kita saling membungkam bibir, membiarkan sunyi menari-nari di kepala kita semasing. Lalu berakhir dengan pikiran buruk yang terus memacu emosi dan egois.
Jika begini terus, masalah tidak akan selesai. Akhirnya aku kembali yang mengalah, untuk membuka mulut.
"Maaf ... ," ucapku lirih sambil meliriknya.
"Kenapa?" jawabnya pun lirih.
"Tidak, apa kamu lapar?"
"Hemh."
"Mau makan apa?"
"Terserah, aku ikut."
"Jangan terserah, berhubung sudah di surabaya makan saja yang kamu inginkan."
"Emm ... aku mau makan lontong kupang."
"Heh, kenapa harus itu?"
"Karena aku ingin, kenapa,tidak boleh?"
"Bukan, itu kan hewan yang jorok. Baiklah, setelah kita mau jalan-jalan ke mana?"
"Kamu nggak boleh gitu, itu makanan yang enak. Aku mau kita ke TP mall, jalan-jalan, belanja dan nongkrong."
"Yakin ke sana, nanti ngeluh capai. Kamu, kan tahu TP mall itu banyak."
"Terus, kamu nggak mau?"
"Iya, iya aku mau. Setelah itu, kita mau pulang apa menginap?"
"Tentu saja menginap, aku ini capai sekali. Jadi mau istirahat."
"Heheh, baiklah. Kita pergi cari penginapan lalu baru pergi lagi jalan, bagaimana?"
"Boleh, aku juga minta maaf. Karena aku kita bertengkar, aku juga nggak baca ulang pesannya."
"Sudah, tidak papa. Toh ini pembelajaran buat kita lagi," ucapku meyakinkan Sandra.
keadaan kembali mencair, setelah apa yang kita lewati barusan. Semakin lama menjalin sebuah hubungan, itu tidaklah mudah. Akan banyak melewati pergejolakan batin, yang datang tiba-tiba tanpa ada aba-aba.
Harusnya ini sudah aku persiapkan lebih matang, karena yang kutahu ketika aku bersama dengan orang yang aku cintai maka hidupku akan jauh lebih bahagia. Nyatanya, lebih sering memperdebat hal konyol yang harusnya tidak perlu dipermasalahkan.
Halo readers, aku kembali.
Semoga dengan membaca ini kalian menyukainya. Perjalanan cinta Simon dan Sandra masih panjang. Belum bisa ditebak nih, yuk bantu Author terus up dengan cara tinggalkan jejak kalian.
Biar Aurhor semakin semangat. Terima Kasih.
Salam Author,
__ADS_1
@Beeh_nda