Two 2 Side

Two 2 Side
SALI#1 Kamar 203 Rose


__ADS_3

Simon Alexander Louis Ibrahim, itu adalah namaku. Saat ini aku berusia 28 tahun, dan tinggal di Indonesia tepatnya di Banyuwangi sebagai kota yang mistis. Aku keturunan Inggris dari Papaku sedangkan Mamaku asli orang Indonesia suku Jawa.


Aku adalah idola di lingkungan rumahku, di sekolah, di resort dan di mana pun aku berada. Tidak heran jika aku terlalu banyak di gandrungi para wanita, mungkin karena kolaborasi antara Papa dan Mama. Tubuh ateltis, berpawakan tinggi besar, wajah blesteran inggris dan indonesia, mata yang indah dan tentunya tampan. Sayangnya aku tidak bangga sama sekali dengan fisikku seperti ini, hanya bersyukur itu sudah cukup.


Jika terlalu bangga maka aku akan hancur karena kesombongan dan ketamakkan diri.


Aku lulusan dari universitas ternama di Jawa Timur, dengan nilai yang sangat memuaskan. S1-ku memang di indonesia karena itu keinginan sendiri, lalu melanjutkan S2-ku di inggris. Jurusan yang kuambil pastilah yang berkaitan dengan bisnisku saat ini, pertama jurusan menejemen bisnis pariwisata dan yang kedua adalah hubungan internasional.


Otakku memang encer selain wajah yang tampan aku juga harus cerdas dan pintar, karena fisik saja tidak cukup untuk membiaya hidupmu kecuali sebagai aktor atau model.


Aku adalah anak tunggal dari kedua orang tuaku, dibesarkan di indonesia dan lahir di indonesia juga tentunya. Meski sebagai anak tunggal, kedua orang tuaku tidak memanjakanku dengan materi dan dituruti apa inginku atau pun keinginan mereka.


Justru mereka mengajarkan kepadaku hidup hemat, mandiri, bertanggung jawab, disiplin dan sopan santun. Sebenarnya aku merasa sangat kesepian, karena tidak memilki saudara dan saudari. Aku pernah meminta pada Ibuku untuk memberiku seorang adik, namun Ibu tidak bisa memenuhinya saat itu.


Saat ini aku tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita, hubungan kami telah berjalan sekitar 2 tahun. Pertemuan kami terbilang tidak berkesan sama sekali, namun entah mengapa kami saling jatuh cinta pada saat itu. Dia adalah wanita yang mandiri dan tegas menurutku, selain memiliki wajah yang cantik dia juga pintar. Dia saat ini berusia 24 tahun, beda 4 tahun denganku namun dia begitu dewasa dan pandai membawa diri.


Sandra Alesia Karina, itu adalah namanya.


Cantik, anggun dan berkharisma serta menawan. Entah sejak kapan aku begitu mengaguminya, aku merasa sangat jatuh cinta. Hubungan kami begitu lancar, tidak ada drama-drama cinta yang berlebihan seperti pasangan lain. Lebih seperti hubungan yang jalani saja dulu, dan tidak terlalu mengekang satu sama lain. Lebih pada saling menghargai saja begitu, jadi tidak rumit dan tidak membosankan.


Untuk masalah pekerjaanku, memang memiliki usaha namun lebih kepada meneruskan bisnis Ayahku. Karena aku anak laki-laki satunya jadi aku lah yang diberi tanggung jawab penuh untuk mengelolanya, karena aku memang menyukai pariwisata oleh sebab itu aku tidak merasa keberatan sama sekali.


Aku memiliki tujuan dalam hidupku, itu sangat sederhana dan mampu mempengaruhi cara berpikirmu. Tergantung dari sudut mana kau memandang dan tergantung bagaimana karaktermu.


"Mampu berbagi kepada setiap orang yang sangat membutuhkan, mampu mendengarkan orang lain dengan baik dan memberikan semangat hidup." SALI_


Tidak ada hal lain yang aku sukai kecuali bekerja, karena setiap aku bekerja maka aku akan mendapatkan keuntungan. Seperti uang, bukan segalanya hanya saja aku mampu berbagi itu sudah cukup.


***


"Simon, mari sarapan bersama." Suaranya lembut dan ajakannya mampu membangkitkanku, itu adalah Ibu.


"Baik, Bu." Segera aku membututinya dari belakang.


"Kamu dari tadi ngapain saja, kok cuma duduk di ruang tengah sambil ngelamun?" Ucap Ibu padaku, sambil mengambilkan nasi di piringku.


"Nggak papa kok, Bu."


"Hei, Simon. Ibumu sedang bertanya, jawablah dengan jujur," jelas Ayah kepadaku tiba-tiba.


"Aku cuma menyadarkan diri saja, Yah. Hanya ingin duduk sendiri di sana."


"Ya sudah, ayo makan. Nanti keburu dingin nasinya," ajak Ibu pada kami.

__ADS_1


"Baik, Bu."


Hanya dentingan piring dan sendok yang saling bersahutan, sedangkan mulut tengah sibuk mengunyah makanan. Sesekali kusruput air yang di gelas, sekadar meluruskan kerongkongan yang serat.


"Simon, pagi ini kamu nggak pergi ke resort? Tanya Ayah, membuka kembali obrolan di meja makan.


"Sepertinya aku akan segera pergi, Yah. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus."


"Aduh, anak Ibu sudah semakin besar saja. Semakin sibuk dengan pekerjaannya."


"Hehehe, syukurlah Ibu. Ini semua juga berkat doa Ibu, semua lancar."


"Berkat kamu juga, karena kamu itu telaten dan sabar," balas Ibu padaku.


"Ya sudah, bergegaslah. Hati-hati di jalan, nanti Ayah akan menyusulmu."


Sarapan telah berakhir dan aku segera pergi menuju resort, karena sedari tadi asistenku mengirimi pesan tak henti-henti.


Mengendarai mobil pribadi dan menyetirnya sendirian, aku sangat menikmatinya. Kuputar radio musik agar tidak terlalu sunyi, membuatku lebih baik dan bersemangat.


Sesekali aku ikut bernyanyi, entah benar atau salah. Perjalanan ini tidak membutuhkan waktu lama hanya sekitar 30 menit dari rumah orang tuaku, sedangkan untuk rumahku sendiri letaknya sangat dekat dengan resort bahkan ada kamar khusus untukku tidur di sana. Jika aku malas pulang ke rumah maka aku akan tidur menginap, selain pemandangan yang indah aroma pantai mampu membuatku tenang.


"Halo, iya. Saya sudah di depan lobby, kamu di mana?"


"Sepertinya, kamu baik-baik saja."


"Apakah terlihat demikian, Tuanku?"


"Hei, berhenti berbicara seolah-olah aku adalah rajamu Kaisar."


"Baiklah, kenapa kau lama sekali. Dari tadi tidak ada jawaban darimu."


"Sudahlah, aku tadi di rumah orang tuaku. Cukup diam dan beri tahu aku apa ada masalah di sini?"


"Tidak ada yang penting, hanya saja ada kerusakan kecil di kamar mandi kamar 203 Rose."


"Bagaian apa?"


"Lantainya cuil dan berlubang."


"Urus saja, itu kan sangat mudah untuk seorang Kaisar."


"Hei, yang benar saja. Aku sedang laporan padamu, Simon."

__ADS_1


"Aku akan ke ruanganku, jika sudah selesai kau urus, datanglah ke ruanganku."


"Selalu saja begitu, baiklah."


"Jika kau tidak enak badan, tidurlah di kamar tersebut."


"Terserah saja apa maumu, akan aku urus masalah kamar itu."


"Lebih cepat lebih baik, K.A.I.S.A.R." kututup dengan senyum tipis yang licik, diikuti pintu lift yang menutup.


"Selamat pagi, Tuan Kaisar," sapa penjaga meja depan padaku.


"Pagi juga, Emilia." kubalas dengan senyum yang mempesona.


"A ... an ... anu ... Tuan, itu saya ... ."


"Apa, kenapa gagap begitu sih. Apa saya sangat menyeramkan untuk Emilia?"


"Ahh ... tidak, bukan begitu Tuan. Saya ijin ke toilet dulu, permisi."


"Hei, jangan lari, mukamu sangat merah apa kau sakit?" teriakku pada Emilia.


Aku tau, dia begitu gugup dan sangat malu terhadapku. Selain tampan aku juga sangat mempesona, wanita-wanita di sini sangat mengagumiku.


"Hei, jangan ganggu pegawaiku. Lihatlah si Emilia, dia akan masuk rumah sakit sebentar lagi." pesan Simon masuk padaku.


"Iya, aku akan segera menyembuhkannya," balasku padanya.


Dasar Simon si tukang rusuh, selalu saja dia tahu apa yang telah aku lakukan. Dia mata-mata yang hebat, beruntung aku bertemu dengannya.


Segera aku menuju kamar 203, aku mengecek setiap ruangan yang menurutku perlu untuk diperbaiki. Saat aku masuk kamar tersebut, bau kamarnya sangat menyengat dan membuatku berdegub kencang. Kutelurusi setiap sudutnya, dari mana bau ini. Seperti campuran mawar dan dupa, hanya seorang diri aku di sini. Bodohnya aku tidak mengajak tukang untuk ikut bersamaku, entah mengapa aku segera saja langsung masuk dan tanpa permisi.


Cklak ...


Aku menoleh ke arah suara tersebut, perlahan kuputar sambil merapal doa.


"Hei, apa yang kamu lakukan di kamarku?"


Deg ... suara wanita, kamarku katanya.


"Jika kau penguntit, aku akan melaporkan pada pemiliknya. Cepat katakan,kau siapa?"


Entah sihir apa yang dia buat, aku mematung dan tak dapat melihat.

__ADS_1


"Buka matamu Tuan, aku bukan hantu. Aku hitung sampai tiga jika tidak pergi ... ."


__ADS_2