Two 2 Side

Two 2 Side
1 Pose#2 Pesan yang Sesak


__ADS_3

Apa yang telah kita lewati barusan sungguh membuatku berapi-api, aku tidak tahu kenapa hanya dengan hal sepele emosiku memuncak. Apakah Sandra baik-baik saja dengan sikapku tadi sore, atau dia berusaha tegar di hadapanku sedangkan di helakang punggungku dia melemah dan berderai air mata.


Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, padahal semua emosi selalu bisa kuredam dengan baik. Aku merasakan, bahwa ada suara yang terus memprovokasiku ketika emosi naik. Selalu saja aku abaikan, namun tanpa sadar dia telah mengendalikan diriku tanpa henti.


Ataukah mungkin selama 2 tahun terakhir aku sudah begitu, tanpa sadar aku telah berubah. Apakah aku baik-baik saja, setiap aku sendirian aku selalu berbicara pada diri sendiri. Merenungkan semua masalah yang silih berganti hinggap, lalu menenggelamkan pikiran ini hingga jatuh ke dasar alam.


Atau mungkin ini hanya aku yang terlalu lelah, menanggung beban hidup sendirian. Atau mungkin aku masih terbawa pada masa laluku, meninggalkam diriku sendiri di sana dan berubah menjadi Simon yang baru.


Kenapa Sandra tidak pernah peduli padaku sedikit saja, mempertanyakan keadaanku selama ini. Apakah Sandra telah memiliki seseorang yang baru, atau dia benar-benar sibuk bekerja. Yang jelas aku tidak bisa melihat dia dengan kaca mata yang jelas, aku selalu melihat dia dengan kaca mata di sisi lain. Sandra, apakah aku begitu buruk di matamu.


Atau aku sebatas pelampiasanmu di masa lalu juga, atau aku hanya tamengmu sebagai pelindung. Yang mana itu semua, segera beri tahu aku, agar aku tidak menebak-nebak dugaanku yang salah.


"Selamat pagi, Simon," sapa Sandra padaku yang terlihat begitu cantik.


"Pagi juga, Sayang. Apa tempat ini nyaman?"


"Aku suka tempat ini, apartemennya begitu bagus. Nyaman dan pemandangnya sangat indah."


"Apa kamu mau memilikinya, biar aku yang urus pembayarannya."


"Tidak usah repot-repot, Tuan Simon. Aku bisa memilikinya sendiri dengan uang tabunganku."


"Hemh. Sarapan apa kita hari ini?"


"Sederhana, roti tawar telur sosis. Apa kamu suka?"


"Menu western?"


"Iya, ini sangat mudah. Apa kamu mau aku masakan yang lain?"


"Tidak, Sayang. Kenapa kita harus tidur beda ranjang?"


"Lalu, kamu mau kita tidur bersama dan mengasilkan seorang bayi, begitu?" ucap Sandra sembari melahap roti tawarnya.


"Kenapa tidak, bukankah setiap wanita menginginkan bayi?" jawabku dengam mulut penuh roti tawar.


"Tunggu, tidak semua wanita menginginkan seorang bayi. Mereka juga butuh kasih sayang penuh dan mewujudkan semua cita-citanya."


"Layaknya kamu, bukan begitu?"


"Hehehe, bagaimana kamu bisa menebaknya- itu aku?"


"Jelas, terpampang di keningmu. Bahwa kamu wanita pekerja bukan ibu rumah tangga."


"Humh, tidak juga kok."


"Lalu, kamu ingin menjadi keduanya?"


"Betul sekali."


"Sandra, itu akan terlihat sedikit rumit. Kamu harus mengurus keluargamu terlebih dulu, lalu kamu mengurus pekerjaan lain. Itu akan berantakan," jelasku pada Sandra.


"Apa gunanya kita memiliki uang, jika kita tidak bisa membuka lowongan kerja untuk orang lain."


"Membuka pekerjaan atau memperkerjakan orang lain itu juga tidak mudah, karena kamu dan orang lain beda kepala. Bagaimana jika kamu mendapat kritikan dari bawahan, mendapatkan ide baru dari bawahan. Semua tidak mudah, perlu kesiapan mental."


"Kamu menceramahiku, lalu bagaimana dengan toko kueku. Aku memiliki karyawati yang baik dan penurut."

__ADS_1


"Itu bisa dibilang keberuntungan. Apakah kamu setiap hari datang ke sana, mengecek kinerja mereka? Atau kamu turut terjun langsung ke sana, tidak kan."


"Baiklah, aku masih kecil."


"Aku tidak bilang kamu masih kecil, tapi tolong dengarkan baik-baik setiap ucapanku. Semoga bisa membantumu nanti."


"Terima kasih, Tuan Simon." diakhiri dengan senyumnya yang merekah.


Celotehan yang kuutarakan pada Sandra itu benar, membangun usaha di tengah-tengah keluarga itu mustahil. Jika tidak ada tekad yang kuat serta kerja keras, maka semuanya akan jatuh dan gagal.


Sarapanku dengan Sandra berakhir dengan segelas susu putih dingin, yang siap-siap membuat perutku meraung-raung pergi ke toilet. Harusnya aku membeli air mineral tadi malam, untuk meredam yang akan terjadi hari ini. Aku lupa jika Sandra tidak tahu alergiku terhadap susu pagi-pagi, dan ini pertama kalinya aku dan Sandra menginap berdua dalam satu atap.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya," ucapku pada Sandra dengan wajah yang sudah kumanipulasi.


"Oke, Sayang."


***


Pov Sandra


Aku tidak menyangka, jika malam tadi aku tidur dengan Simon. Untuk pertama kalinya dalam satu atap bersama, aku begitu grogi. Kupikir Simon tidak menyukai masakanku yang sederhana barusan, ternyata dengan mudahnya dia melahap habis sarapan yang kubuat. Beginikah rasanya tinggal berdua, apakah dia merasakan perasaan yang sama. Atau dia sudah pernah tidur bersama wanita lain sebelum aku, dulu bersama mantan kekasihnya-misalnya.


Pikiranku tolong, jangan memulai dengan sesuatu yang tidak masuk akal. Ini gila, jika aku bertanya masa lalunya pun dia akan marah besar. Meski hubunganku sudah berjalan 2 tahun, aku tidak banyak tahu tentang masa lalunya dan beberapa sifat aslinya.


Terkadang aku merasa gagal, sesekali aku mencari tahu dari teman dekatnya seperti Kaisar. Iya, Kaisar adalah kakak sepupuku yang tinggal bersamaku. Mungkin Simon sudah tahu atau belum tahu, aku pun tidak tahu soal itu. Jika aku jujur mungkin ini akan membuat dia marah atau justru menyuruhku pindah.


Aku yang sedari tadi memikirkan banyak hal kini mulai beranjak dari tempat duduk, aku mulai membersihkan sisa piring sarapan dan mencucinya. Aku pun mulai merapihkan barang-barang yang kita beli tadi malam dari mall, karena siang ini kita harus check out dari apartemen.


Agar barang bawaan mudah di bawa maka lebih baik di satukan saja dengan jenisnya, seperti makanan ringan, baju baru dan alat make upku. Semuanya tuntas dalam sekejap, karena Simon ketika dia di toilet itu lama.


"Hai, bagaimana kabarnya?" Pesan masuk di handphone Simon.


Aku lemas ketika mengetahuinya, apakah Simon belum bisa melupakan dia atau wanita itu yang belum bisa melupakan Simon. Aku hanya mampu menahan emosi, seketika juga air mataku mentes. Ini menyesakan, memang benar, semakin lama hubunganmu terjalin akan ada badai yang siap merobohkan, akan ada gelombang yang mengahantam secara tiba-tiba hingga kau larut dibawanya.


Apakah aku salah ketika memilih Simon sebagai pasanganku waktu itu, atau memang ini hanya kebetulan. Dewasalah dalam berpikir Sandra, aku pasti kuat dan aku tidak akan mau merelakan Simon ke wanita itu lagi.


Sudah cukup Simon terluka, bahkan aku pun merasakan kesakitannya tanpa kesudahan. Aku yang menyembuhkan Simon, aku juga yang harusnya layak dalam mendapatkan cinta Simon.


Segera kututup kembali handphone Simon, seolah tidak terjadi apa-apa, seketika itu juga dia telah kembali dari bilik termenungnya.


Aku akan berusaha untuk tetap tenang, menjadi bodoh dan mengamatinya dulu.


#Simon


"Akhirnya, begitu lega perutku, Sandra."


Tiba-tiba semua hening, ruangan pun mejadi rapih dan bersih. Apakah Sandra yang membersihkannya atau ada petugas yang masuk, karena panggilan Sandra.


Aku mencari-cari Sandra di setiap sudut ruangan, layaknya kucing yang sedang bermain petak umpet.


Sebelum itu aku mengambil handphone yang sedari tadi aku tinggalkan di atas meja makan, aku tidak tahu apakah ada pesan masuk atau tidak. Namun, langsung aku masukan kantong celana dan mencari Sandra.


Suara pintu terbuka, aku sangat was-was dan menyiapkan pisau di tanganku. Jika saja itu adalah orang jahat, sepanik itu ketika aku bersama kekasihku.


"Aaarrgghh ... . Simon! Apa yang kamu lakukan?"


"Aarrgghhh ... . Sandra. Kamu?"

__ADS_1


"Aduh, kamu membuatku jantungan. Kamu kenapa sih, kok seperti orang ketakutan begitu."


"Kamu dari mana?"


"Aku membelikan kamu air mineral, tadi malam aku lupa. Kalau kamu ternyata itu alergi susu putih pagi-pagi."


Tunggu, Sandra tahu tentangku perihal alergi ini. Benarkah ini Sandra, yang kutahu dia cukup dingin dengan hal-hal kecil bahkan sepele.


"Kamu, kenapa pergi sendirian. Tidak menungguku, kalau kamu kenapa-kenapa di bawah kenapa?"


"Sstt. Im not a little gurl, dont worrie about me, okey."


"Hahaha, baikalah. Ayo sini, duduk berdua sambil menonton televisi." Sambil kutepuk-tepuk sofanya, mengisyaratkan Sandra untuk duduk di sebelahku.


"Simon, apa kita tidak bergegas pulang saja?"


"Kenapa buru-buru, apa besok kamu sibuk?"


"Emm. Tentu aku harus bekerja," jawab Sandra yang sedikit ragu, seolah menyembunyikan sesuatu dariku.


"Kemarilah sayang, kenapa kamu begitu ragu?"


"Degh. Aku tidak ragu, Simon. Hanya saja, waktu kita di sini sangat sedikit. Sebentar lagi waktu sewa kita juga akan habis, jika kita terlambat keluar maka aka mendapatkan denda." sambil melangkah ke arahku dan duduk.


"Apa Sayang, denda. Dengarkan, tidak ada denda lagi di sini." sambil memeluk Sandra.


"Maksud kamu?"


"Aku sudah membelinya."


"Apa?" Sandra terkejut dan melepaskan pelukanku.


"Iya, jadi bebas. Kita mau sampai kapan pun di sini tidak masalah."


"Sebanyak itukah uangmu, Tuan Simon?"


"Tentu, aku mampu membelikanmu apa saja yang kamu sukai."


"Kenapa?"


"Karena aku sangat mencintaimu, aku sudah terlalu jatuh ke dalam hatimu Sandra."


"Apakah ini caramu menggombal dengan seorang wanita, Simon?"


"Kenapa, apakah ini terlalu kaku?"


"Tidak, hanya membuatku sedikit mual."


.


.


Aku harap, kamu mau membuka semua yang kamu sembunyikan dariku Simon.


Hai Hai, Author kembali.


Ada yang suka dengan cerita Author,please tinggalkan jejak. Biar Author semakin bersemangat. Terima Kasih.

__ADS_1


Salam Author,


@beeh_nda


__ADS_2