Two 2 Side

Two 2 Side
SALI#3 Seafood


__ADS_3

"Selamat malam, Sayang. Sudah lama menunggu?"


"Malam juga, Sayang. Tidak juga, kok."


"Kamu malam ini begitu terlihat cantik, aku sangat merindukanmu Sandra."


"Jangan menghujatku, aku tahu tidak secantik itu, Simon."


"Jadi, apakah kita sedang merayakan sesuatu malam ini?"


"Tidak ada, hanya ingin menikmati aroma pantai di malam ini," jawab sandra sambil menyibakan rambutnya.


"Oh ya, aku membawakan sesuatu untukmu."


"Apa itu?"


"Ini, mungkin terlihat sederhana. Namun, bunga ini terlihat serasi dengan gaunmu yang berwarna putih."


"Terima kasih, Simon. Kamu begitu manis malam ini."


"Hei, hahaha. Kenapa nada bicara kita begitu canggung, Sayang?"


"Hehehe, entahlah. Oh ya, bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Sadra mulai membuka pembicaraan yang sedikit serius.


"Semuanya, baik-baik saja. Tidak ada yang rumit, iya serumit malam ini."


"Eh, memangnya kenapa malam ini?"


"Rumit, untuk menjawab semua rumus cintamu."


"Jangan menggombal, Simon. Itu tidak romantis tahu."


"Ya, aku tahu. Karena aku, tidak seromantis seorang penyair. Hehehe ... ."


"Tidak, hanya bercanda. Jadi, malam ini kita akan berpesan menu apa?"


"Sayangku kini sudah mulai lapar ternyata."


"Simon, aku sedang bertanya." sandra mendelik padaku, seolah dia gemas dengan jawabanku yang usil.


"Baiklah, di menu ini terdapat. Kerang rebus, kakap bakar, ayam bakar, kepiting saus asam manis, cumi saus padang, udang saus telur asin dan beberapa lalapan. Di sini juga terdapat minuman yang segar, seperti; es kelapa muda, anggur merah, blue sea, cappucino mocca, dan lain-lain," jawabku sembari membaca daftar menu.


"Hehehehe ... . Aku bisa membacanya sendiri dan memesannya, sayang. Bagaimana kalau kita memesan semuanya?"


"Apa? Ah, maksudku semua menu ini?"


"Kenapa, seorang Simon yang hebat begitu terkejut?"


"Maksudku, kita akan memakan semua daftar menu yang di pesan?"


"Sayang, apa aku serakus itu?"


"Baiklah, kamu ingin memesan apa, Sayang?"


"Aku pesan menu seafood yang ada di resortmu, entah mengapa aku malam ini ingin sekali makan seafood."


"Oke, paket lengkap menu seafood akan segera tiba."


Aku memesankan menu yang Sandra pilih, ini memang terlihat berlebihan. Namun, apakah salah jika aku menuruti wanita yang aku cintai. Paket lengkap menu seafood ini terbilang lumayan banyak, ada kepiting, kerang, cumi, ikan kakap dan udang. Dan olahan yang berbeda semakin membuat cita rasa semakin mantap.


Beberapa menit kemudian pesanannya telah sampai di meja kita, dibawakan oleh seorang pelayan dengan meja roda bergelinding.


Berpakaian serba putih dan menggunakan celemek. Satu persatu makanan diletakan di atas meja dengan rapih dan tersusun apik, tak sabar ingin segera menyantapnya. Kini, telah tuntas pekerjaan pelayan tersebut, dan giliran kita yang menikmatinya sambil ditemani angin pantai. Semilir lembut, tenang, dan sesekali gelombang berderu menyanyikan lagu romantis.


Sandra begitu lahap, memasukan makanan satu persatu dari tangannya yang mungil.


Sesekali kupandangi wajahnya yang terlihat fokus dan enggan berpaling, aku menyadari ada yang mengganggunya sedari tadi. Itu adalah rambutnya yang berderai diterpa angin, aku putuskan mencuci tangan dan mendekat pada Sandra.


"Kemarikan ikat rambutmu, biar kurapihkan. Agar kamu lebih nyaman ketika makan."

__ADS_1


"Terima kasih, Simon. Ada di dalam tasku, ambillah."


Segera aku mengikat rambutnya setelah menemukan ikatannya, perlahan kusimpul. Terlihat tidak buruk juga, kini rambutnya telah rapih.


Kembali aku cuci tangan, lalu setelahnya aku kembali duduk di meja makan. Aku hanya fokus pada peredaran mataku yang kini menatap jelas wajah Sandra, enggan berpaling. Betapa cantiknya dia, sangat manis dan begitu lemah lembut. Makananku kini tidak lagi kuhabiskan, bukan karena tidak lagi berselera. Tapi, seleraku berpindah pada wanita di depanku yang begitu asik mengupas kulit kepiting.


Saat aku sibuk memandanginya, tanpa sadar daging kepiting itu berpindah di piringku. Aku heran dengan sikap Sandra, dia yang bersusah payah membuka kini aku yang dipersilahkan makan.


"Aku tahu kamu lapar, dari tadi melihatiku tak henti. Jadi, makanlah daging kepitingnya," ucap Sandra padaku yang sangat polos.


"Maaf, tuan putri. Apakah perlu saya menyuapkan daging kepiting ini kepada tuan putri? Jangan mengkode seorang pangeran yang begitu acuh," jawabku sambil menggodanya.


"Benarkah itu? Baiklah, aku persilahkan."


Malam ini begitu romantis, hanya karena seafood aku bisa segila ini. Sandra yang polos dan begitu manja, sedangkan aku selalu menikmati momen tersebut.


Aku tak pernah menyesal mengenalnya, aku bersyukur dan terus melakukan yang terbaik agar Sandra segera kupersunting. Aku memasukkan daging kepeting tersebut ke dalam mulut Sandra, pelan-pelan dan sangat hati-hati, sedikit demi sedikit. Sepertinya Sandra sangat puas dengan suapanku, dia tidak mengeluh maupun berkomentar. Aku ikut kenyang hanya melihatnya mengunyah setiap makanan, selanjutnya kututup dengan meminumkan blue sea yang dia pesan.


Tuntas tanpa batas, aku tersenyum puas melihat dia kenyang.


"Aku malu!" seru Sandra penuh penekanan dengan intonasi suaru yang masih lembut dan menundukan kepalanya.


"Malu? Kenapa?" balasku keheranan.


"Aku malu, harus disuapi oleh seorang Simon."


"Hah ... , apa aku salah?"


"Tidak, bukan begitu. Aku malu, ketika kamu bersedia menyuapiku. Karena beberapa pasang mata melihat kita."


"Sssttt ... , aku tidak peduli. Toh, kamu adalah pasanganku hingga menua bersama, aku tidak pernah malu ketika bersamamu."


"Terima kasih, Simon. Kamu orang yang baik dan bertanggung jawab, kenapa dari tadi kamu tidak mengahbiskan makanannya?"


"Aku hanya berselera dengan dirimu."


"Maksudmu? Kamu menginginkan apa?"


"Hehehe ... , jangan membuatku semakin tersipu."


"Sudah dari tadi wajahmu seperti kepiting rebuh, memerah tak karuan."


"Simon, please. Aku begitu gugup."


"Baiklah, aku akan muncuci tangan dan segera kembali."


"Iya, aku akan mencuci tangan setelahmu datang."


Kini alunan musik terdengar semakin kencang, semakin malam akan begitu bising di sini. Di resortku tentunya, makan malam ini adalah tempat favorit Sandra. Dia begitu menyukai tempat makan ini, selain nyaman dia selalu bilang bahwa suasana di sini begitu romantis dan indah, karena bisa menikmati pantai di malam hari.


Rooftop, paling yang Sandra sukai. Iya, saat ini kita berada di atas. Setelah selesai cuci tangan aku segera menuju meja Sandra, karena aku tidak ingin meninggalkannya lama-lama sendirian.


"Aku telah selesai, sekarang giliranmu yang cuci tangan."


"Oke Sayang, jangan pergi ya," jawab Sandra sambil memerintahkanku tidak boleh ke mana-mana."


"Siap."


"Separuh nafasku


Terbang bersama dirimu


Saat kau tinggalkanku


Salahkanku


Salahkah aku


Bila aku bukanlah

__ADS_1


Seperti aku yang dahulu


Ada makna tergali dari sini


Dari pertikaian yang terjadi


Kau hancurkan diriku


Bila kau tinggalkan aku


Kau dewiku


Kembalilah padaku


Bawa separuh nafasku


Kau dewiku


Salahkah aku


Bila aku bukanlah


Seperti aku yang dahulu


Ada makna tergali dari sini


Dari pertikaian yang terjadi"


Lagu ini begitu membiusku semakin dalam, tenggelam dalam angan seolah enggan menyadarkan.


"Simon ... Simon ... "


Aku tidak mendengarkan apa-apa, hanya fokus pada anganku.


"S.I.M.O.N!" Teriak Sandra tiba-tiba tepat di wajahku.


"Hei, apa yang terjadi Sandra. Kenapa kamu berteriak padaku?" Aku begitu terkejut ketika Sandra membuayarkan apa yang aku pikirkan.


"Huh. Dar tadi aku memanggil namamu. Tapi kamu diam terus-terusan," gerutu Sandra padaku yang begitu kesal.


"Maaf, Sayang. Aku hanya menikmati lagu barusan yang kudengar."


"Lagu? Seluruh napasku?"


"Iya, lagu mana lagi?"


"Hahaha ... dasar Simon. Pasti kamu berpikir tentang aku, kan?" Celetuk Sandra.


"Sejak kapan kamu pandai membaca pikiranku, mulai curang yah. Hahaha ... ."


"Sejak kamu senyum-senyum sendiri barusan."


"Ya, begitulah. Bagaimana, apa kamu puas malam ini?"


"Iya, aku sangat puas. Tempat favorit, nyaman dan sederhana. Belum pernah aku temukan tempat seperti ini."


"Terima kasih, Sandra. Aku juga puas melihatmu tersenyum bahagia yang begitu lebar. Aku berjanji, malam ini aku akan terus membahagiakanmu."


"Terima kasih sudah berkenan berjanji padaku, tapi aku, tidak menginginkan sekadar janji. Tapi, tindakan nyata."


"Tentu, akan aku wujudkan."


Perjalanan yang sangat panjang, pasang surut dan keyakinan.


Hubungan akan terus diuji, selayaknya kita yang kian melemah. Tidak ada kata yang pantas mengibaratkan, ketika sudah mulai melangkah dengan sebuah pilihan lanjutkan untuk menyelesaikan. Bukan pergi mencari yang lebih dar ini.


Halo, semoga kalian suka dengan cerita author ya. Author akan berusaha keras untuk menyelesaikan cerita kali ini. Dukung terus dan jangan pelit jejaknya. Biar makin semangat.


Terima Kasih.

__ADS_1


Salam Author. 💕🌹


__ADS_2