Two 2 Side

Two 2 Side
Who are you#1 Wangi Dupa dan Salsa


__ADS_3

Telah kuhabis waktuku 2 hari bersama Sandra, selama di Surabaya. Aku sangat menikmatinya, begitu pun dengan Sandra. Dia tak henti-henti mengatakan senang dan bahagia, meski aku tahu ada yang dia sembunyikan. Berusaha membuatku tetap terlihat bahagia, sedangkan dari cara bahasa tubuhnya dia menutup diri seolah baik-baik saja.


Kini aku sudah kembali ke Banyuwangi, bekerja seperti biasa. Mengontrol segala sesuatunya, entah dari keluhan pengunjung, kerusakan kecil, hingga masalah keuangan.


Aku ingat, saat Kaisar mengatakan sesuatu malam lalu. Ada yang aneh setelahnya, dia sedikit menjauh dan sedikit was-was padaku.


Setidaknya nanti siang aku akan ajak dia makan bersama di kafe belakang, mempertanyakan pekerjaan yang kutinggal selama 2 hari dan langsung menembaknya.


Perihal apartemenku yang sudah kubeli, aku serahkan kepada anak buahku yang di Surabaya. Aku menyuruhnya untuk menyewakan apartemenku, selama aku tidak di sana. Begitu pun untuk pelangganya, aku yang memberìkan persyaratannya.


Agar kamarku tetap aman dan bersih, karena aku menyewakan hanya untuk mingguan dan tidak sembarang orang bisa menyewanya.


Tentu saja aku tidak ingin rugi dalam menyewakan, karena kamar itu cukup mahal.


Demi Sandra, apa pun yang dia sukai maka dengan mudah aku membelikannya, meski Sandra tidak tahu perihal sewa ini.


Sebentar lagi akhir tahun, aku perkirakan akan ke Surabaya lagi untuk merayakan tahun baru bersama Sandra. Semoga niatku ini berjalan dengan lancar, karena tahun baru itu momok bagi setiap pasangan. Pasti kalian tahu apa yang kumaksudkan, rawan dalam berakhirnya sebuah hubungan.


Jam istirahat telah dimulai, aku bergegas pergi ke kafe belakang dan mencari Kaisar.


Tak sabar dalam menembakinya dengan peluru-peluru mematikanku, sebelum itu aku mengirimkan pesan kepadanya, untuk datang menemuiku di tempat yang sudah nantikan.


"Hei, Faizal. Apa kabar?" Sapaku pada pelayan bar tersebut.


Dia adalah bartender yang bekerja sudah lama di sini, aku menyukai cara kerja dia. Oleh sebab itu dia bertahan dan banyak belajar di sini.


"Halo, Tuan Simon. Saya sangat baik, bagaimana dengan anda? Apakah semuanya baik-baik saja, Tuan?"


"Hahaha, kau selalu tahu apa yang ada di wajahku sepertinya. Apakah kamu tukang ramal, Zal?"


"Maaf, Tuan. Jika itu membuat anda tersinggung."


"Hei, ayolah. Aku pesan seperti biasa ya."


"Baik, Tuan. Pesanan anda akan segera tiba."


Aku tidak tahu kenapa Faizal begitu suka menebak raut wajahku, apakah ini pertanda bahwa dia mampu melihat keadaan orang lain tanpa bercerita terlebih dahulu. Ataukah dia hanya sekadar menebak-nebak berhadih kepadaku, yang jelas aku tertarik dengannya.


Mungkin suatu hari nanti dia bisa aku andalkan dalam keadaan yang tak terduga, itu terlihat lebih baik.


Sembari menunggu pesananku, di sisi lain juga aku sedang menunggu Kaisar. Dia tak kunjung datang juga, tidak ada tanda-tanda batang hidungnya yang kelihatan.


Kembali kukirimi dia pesan untuk segera datang dalam waktu 5 menit, jika tidak ini akan menjadi urusan yang panjang.


"Permisi, Tuan. Coffe Cappuccino telah siap untuk dinikmati," ucap Faizal kepadaku, sembari dia meletakan di depanku.

__ADS_1


"Terima kasih, Zal. Ngomong-ngomong, apa kamu tahu Kaisar di mana?"


"Wah, sepertinya ada yang sedang bergosip tentangku di belakangku," sindir Kaisar padaku dan Faizal.


"Maaf, saya tidak bermaksud bergosip tentang anda, Pak."


"Apa, Pak? Aduh, aku kalah dalam kasta ini rupanya."


"Sudahlah, kamu menggangguku menikmati secangkir coffe."


"Permisi, Tuan Simon. Saya pamit melanjutkan pekerjaan saya."


"Terima kasih, Faizal. Lanjutkan saja,biar orang ini aku yang urus." Sambil mengedipkan mataku kepada Faizal, seolah menandakan percakapan kita belum selesai.


" Hei, apa-apaan itu acara pakai mengedipkan mata," rajuk Kaisar padaku.


"Dari mana saja kamu, aku sudah menunggumu 30 menit di sini. Waktuku terbuang hanya untuk orang penting."


"Hahaha, apakah liburanmu menyenangkan?"


"Sangat."


"Aku ingin berlibur denganmu juga, akhir tahun ini bersama Sandra juga."


"Tidak bisa, liburanku hanya berdua dengannya."


"Ayolah, aku menyewa apartemen di sebelah kamarmu juga."


Dia tahu perihal apartemenku, tidak mungkin jika Sandra memberi tahunya.


"Hei, sejak kapan kamu tahu perihal apartemenku."


"Kau menghilang selama 2 hari, mustahil bagimu menyewa sebuah hotel. Aku hanya menebak, ternyata dugaanku benar. Banyak sekali masalah di sini, terutama pada kamar 203."


"Huh, begitu rupanya. Ada apa dengan kamar itu lagi, apakah lantai kamar mandinya masih cuil?"


"Hahaha, tidak mungkin. Sudah aku perbaiki, karena wanita itu takut jika ada hewan kecil berwarna hitam masuk lewat sana."


"Lalu, tentang apa?"


"Yang benar saja kamu tidak memperhatikan setiap pengunjungmu, yang menyewa kamar. Apa kamu tidak aneh dengan bau tubuhnya?" bisik Kaisar padaku.


"Kaisar, jelaskan saja. Mana mungkin aku menciumi bau tubuh pengunjungku setiap kali mereka datang, konyol sekali itu." lirihku pada Kaisar yang begitu polos.


"Hemh, baiklah. Lebih baik ini kita bicarakan di ruanganmu."

__ADS_1


"Apakah ini rahasia?"


"Simon!" Suara Kaisar menekan tepat di wajahku, membuatku merinding dan meneruti perkataanya, semoga ini tidak seburuk pradugaku.


"Baiklah, ceritakan sedatail mungkin," ucapku pada Kaisar yang sudah duduk di ruanganku.


"Sebenarnya ini sulit bagiku, namun setelah aku menunggumu selama 2 hari ini. Perubahan tidak ada padanya, sampai kapan dia akan menyewa kamar tersebut?"


"Yang jelas sampai tanggal 13 Oktober, setahuku. Dia di sini hanya untuk berlibur, terutama di pulau merah ini."


"Apakah kamu tahu, bahwa dia memiliki dupa dan sesajen di dalam kamarnya. Apakah kamu ingat yang kataku ada hantu di kamar tersebut?"


"Tunggu, apa hubungannya dengan ini semua?"


"Ayolah, Simon. Aku berharap kamu paham, meski hanya secuil serpihan lantai yang berlubang."


"Sungguh membuatku tidak bisa berpikir, mungkin ini terlihat aneh. Namun, biar aku cek kembali dia mulai menginap tanggal berapa."


"Aku tidak mempermasalahkan dia menginap atau tidaknya, ini tentang komplain pengunjung lain. Mereka tertanggu dengan aroma dupa yang dia miliki, itu berlebihan dan konyol. Apakah dia akan memanggil arwah untuk melindungi dirinya atau dia sedang melakukan ritual di pulau ini. Aku tidak tahu yang mana, ini peringatan untuk kita, Simon," gerutu kaisar yang kesal.


"Dia menginap mulai tanggal 1 Oktober, dia lebih lama dalam berlibur dibandingkan dengan pengunjung lain, hampir 2 pekan. Ini terbilang cukup unik, tidak biasanya di bulan ini pengunjung lama-lama dalam liburan."


"Dan, ada apa di malam tanggal 13 tersebut. Ini adalah pertanyaannya, sedangkan ini sudah masuk dalam malam kedua belas dia menginap."


"Tunggu, apakah kamu pernah menegurnya. Ketika pengunjung lain merasa tertanggu, atau itu hanya asumsimu saja."


"Tentu, sudah aku mengingatkannya. Dan itu hanya bertahan 1 malam saja, lalu pengunjung lain mereka check out besoknya. Sebenarnya, apa yang sedang dia rencanakan pada resortmu, Simon?"


"Aku juga tidak tahu, apakah ini sebuah lelucon tahayul yang mereka katakan. Atau memang ini yang dia lakukan padaku secara terang-terangan. Terserah, aku tidak peduli, besok kita lihat apa yang dia cari dan apa yang dia inginkan. Terus awasi dia, dan satu hal berhati-hatilah padanya."


"S*al, kamu membuatku takut."


"Sudahlah, kita berdoa saja semoga ini hanya firasat yang salah atau dugaan yang tidak mendasar. Terus cari tahu, karena dia penduduk lokal yang sama-sama jauh tempatnya, dia berasal dari Jember."


"Baiklah, semoga harimu menyenangkan, Simon."


"Tentu, begitupun denganmu, Kaisar.


Degh ... perasaan macam ini, setiap ucapan yang dia katakan selalu berakhir dengan perasaan tak karuan. Apakah ini hanya halusinasiku saja, ataukah memang sedang terjadi sesuatu diantara dia dan dia.


"Hai, apa kabarmu, Simon?" Video call masuk dari seseorang.


Tidakkah cukup bahwa hari ini terlalu memberiku banyak kejutan, oh Tuhan, kenapa ada lagi dia yang terus saja hadir tanpa aba-aba.


Sebenarnya hubungan kalian apa dan maunya apa, Salsa itu adalah dia.

__ADS_1


__ADS_2