Two 2 Side

Two 2 Side
SALI#2 Kunci


__ADS_3

"Selamat pagi, sayang. Nanti malam kita makan yuk, di tempat biasa."


Pagi-pagi sudah disambut ucapan manis dari kekasihku, rasanya sangat menggemaskan.


"Baiklah, jam berapa?"


"Jam, 18.00. Aku tunggu ya."


"Siap, sayang."


Awal pagi yang sangat menyenangkan, ketika seseorang yang istimewa memberikan semangat baru.


Aku kembali duduk, setelah puas mengamati pemandangan luar jendela. Rasanya ini begitu cepat, waktu seolah mempersingkat hidupku. Bagaimana dulu aku ketika bertemu dengan Sandra, sekarang kita begitu erat.


Kembali kumainkan ponselku, membaca pesan-pesan lama yang penuh dengan chat Sandra. Sesekali aku tertawa kecil dan bergumam sendiri, terkadang lucu terkadang pula memicu amarah. Setidaknya hubungan ini tidak pernah ada kata pisah meski terkadang emosi sudah di ujung tanduk, aku luluh dan bertahan. Kesabaran Sandralah yang mampu membuatku tetap menetap, meski kutahu dia terlihat lelah.


Dalam hati kecilku, aku sudah berniat untuk segera menikahi Sandra dalam waktu dekat ini. Entah beberapa bulan lagi, yang jelas niatku sudah bulat dan mantap. Sudah sepantasnya aku memulai hidup baru bersama dengan seseorang yang sempurna--Sandra.


Tok ... tok ... tok ...


"Masuk," perintahku.


"Sim, Simon .... anu ... itu ... "


"Terus terang saja, ada apa. Kenapa kamu ngos-ngosan?"


"Aku bertemu dengan hantu di kamar tadi."


"Kaisar Surya Adi, tidak ada hantu di pagi hari," jelasku padanya.


"Simon, aku jujur. Bahwa aku menyaksikannya sendirii, jika kamu nggak percaya datangi saja sendiri."


"Apa kau mabuk semalam?"


"Tidak, jangan gila. Yang benar saja hari pertama aku melakukan kegiatan bodoh."


"Tenangkan dirimu dulu, ambil minum di meja mini barku."


"Baiklah."


"Apa kamu permisi dulu ketika masuk? atau tanya dengan penjaga meja depan, apakah kamar tersebut ada pemiliknya?"


"Tidak, aku langsung masuk saja dan membukanya."


"Darimana kamu mendapatkan kuncinya?"


"Dua hari yang lalu, saat ada pelanggan yang check out dari kamar. Kebetulan ada aku yang menjaga meja depan."


"Lalu, kamu mencoba melihat dan memastikan apakah benar ada yang berlubang, begitu?"


"Betul sekali, kau memang hebat."

__ADS_1


"Dasar Kaisar, pantas saja si penjaga meja depan bertanya padaku kemarin malam."


"Hah? Kenapa, apa hubungannya denganmu?"


"Tidak ada, hanya sekadar bertanya tentangmu padaku."


"Sudah kuduga, ketampananku ini adalah anugerah yang luar biasa."


"Bertanya padaku, apakah Tuan Kaisar diam-diam mengambil kunci kamar tersebut, untuk tidur bermalam dengan pasangannya."


"Hei, itu terlihat bukan si penjaga meja depan. Tapi kau!"


"Sudahlah, aku tau pikiranmu. Jadi, biar kuperjelas. Di kamar tersebut sudah dipesan oelah seorang wanita muda, dia ingin menikmati liburannya sendirian."


"Sejak kapan? Kenapa kau tidak memberi tahuku?"


"Kau tidak bertanya dan aku sedikit lupa."


"Apa?! Simonn ... lagi dan lagi kau membunuhku."


"Permisi Tuan, eh maaf saya lancang. Sepertinya Tuan sedang sibuk, maaf sekali lagi tuan."


Krik krik krik ... .


Kejadian ini adalah Kaisar mencengrkam kerah kemejaku dan dia ikut terjatuh di dadaku, seolah kita melakukan hal yang tidak senonoh.


"Ada apa Emelia?" tanyaku padanya. Karena keadaan telah kembali membaik.


"Jangan pikirkan soal perkara yang tadi, langsung saja utarakan."


"Kamar 203, pemiliknya mencari Tuan."


Wajah yang memerah karena malu, nada suara yang gugup karena terkejut dan degub jantung yang membuatnya gemetaran.


"Baiklah, saya akan temui dia di lobby."


"Baik, permisi Tuan Simon."


"Ulahmu ada saja, Kaisar."


"Ya, maaf. Ini juga karena kita."


"Hei, tidak ada kata kita setelah kau jelaskan kepada pemilik kamar tersebut."


"Okelah."


Aku dan Kaisar adalah sahabat karib yang sangat dekat, ke mana pun aku pergi pasti ada dia. Begitu juga di resortku, aku pekerjakan dia sebagai asistenku. Dia tampan dan pintar, tapi terkadang sifat konyolnya kambuh.


Ting ... pintu lift telah terbuka, dan tujuanku telah sampai di lobby.


"Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Apakah Tuan ini pemilik resort ini?"


"Tentu, ada yang bisa saya bantu?"


"Begini, apakah kamar yang saya tempati sebelumnya sudah dipesan oleh orang lain lebih dulu?"


"Tidak ada pemesanan untuk kamar 203 sebelumnya, kenapa Nona?"


"Jadi, kenapa ada orang lain yang masuk ke kamar saya? apakah pengamanan di sini itu sangat buruk, kunci bisa diduplikat?"


"Mohon maaf sebelumnya Nona, ada salah satu pegawai saya yang sedikit pelupa. Jadi, dia masuk ke kamar Nona. Niat dia adalah membersihkan kamar lain, rupanya itu kunci kamar Nona."


"Benarkah begitu, Tuan?"


"Benar, mohon maaf atas ketidak nyamanannya sebelumnya Nona. Untuk menebus kesalahan kami, kami akan memberikan sarapan gratis untuk Nona selama liburan di sini."


"Ramah sekali, anda. Baiklah, saya terima. Terima kasih, Tuan."


"Sama-sama, Nona."


Hal yang membuatku pusing tujuh keliling, selalu menyelesaikan masalah onar si Kaisar. Untung saja kali ini pengunjung tidak repot dan cerewet, jika memang begitu sudah pasti si Kaisar yang aku menyelesaikannya sendiri.


Hari yang indah sebelumnya kini kandas hanya karena kunci kamar, aku rindu Sandra. Dia selalu bisa menenangkanku di saat seperti ini, sayangnya dia sedang sibuk dengan pekerjannya.


Aku berniat kembali ke ruanganku, namun aku urungkan niat itu. Aku memilih pergi ke bar, siapa tahu aku akan bertemu dengan Kaisar. Di sana akan aku habisi dia, ini terasa sangat menjengkelkan.


Ting .. bunyi bel di meja bar, menandakan ada pesanan masuk.


Aku duduk tepat di depannya, sambil menunggu pesanan ya kuminta seperti biasa. Kali ini aku tidak memesan minuman yang berakohol, jika Sandra tahu pastilah dia akan marah dan itu lebih parah dari sekadar moodku buruk.


"Satu cappucino latte, siap." suara bartender itu menyodorkan pesananku.


"Terima kasih, Faizal."


"Kembali kasih,Tuan. Apakah anda merasa baik-baik saja hari ini?"


"Tentu, apakah saya terlihat buruk?"


"Ah, tidak. Hanya sedikit terlihat lesu saja, Tuan."


"Terima kasih, saya akan membawa satu cup cappucino ini di ruangan saya."


"Baiklah, Tuan."


Aku berjalan gontai, tanpa tenaga. Sesekali aku bersikap tegap ketika ada pegawaiku yang lain berpapasan, hari pertama sudah berantakan apakabar dengan hari berikutnya.


Kusandarkan tubuhku di kursi singgah sana kebesaran, sembari kupejamkan mataku. Menarik napas dalam dan melepaskannya. Kini aku merasa jauh lebih baik, kusruput cappucino latte yang sedari tadi sudah melambaikan tanggannya padaku.


Hanya karena sebuah kunci, berakibat fatal. Kamar yang sudah berpenghuni malah dibuka dan menyebabkan kebisingan seluruh jagat resort. Beruntungnya, tidak ada kecelakaan serius yang melaporkan kejadian tersebut.


Kaisar yang ceroboh dan senonoh, kau membuatku marah semoga esok kau mampu membayarnya.

__ADS_1


__ADS_2