
"Jangan bergurau denganku soal hati, jika nyatanya masih kau simpan dia di relungmu." Sandra.
Aku terbangun dari tidur siangku yang panjang, aku menyadarkan diri. Mengumpulkan nyawa yang sempat berkeliaran, aku mengamati sekekelingku. Aku sudah berada di dalam kamarku, bukankah tadi aku bersama Simon di ruang televisi.
Aku mencari handphoneku, melihat sudah pukul 18.15 wib. Ternyata tidurku lumayan lama, namun siapa yang memindahkanku di kamar.
Napasku sedikit berat, saat kubuka selimut. Ternyata ada tangan Simon yang menindihi perutku, dia tidur di atas ranjangku. Tidur bersamaku di rumahku, ini sangat tidak masuk akal.
Aku berusaha menenangkan diri, bahwa semuanya tidak seperti pikiranku yang nakal. Aku tahu Simon tidak akan berbuat apa-apa bahkan macam-macam di rumahku, aku mencoba mengalihkan tangannya dari perutku. Namun, pelukannya semakin erat dan enggan berpaling.
Aku menghela napas dalam-dalam dan panjang, sekali lagi aku alihkan tangannya secara pelan-pelan. Akhirnya berhasil, kini aku sudah duduk di sampingnya. Menyandarkan tubuh di sandaran kasurku, lalu beranjak pergi mengambil air minum di meja riasku.
Duduk di depan cermin sambil mengamati wajahku yang penuh tanda tanya, serta aku benci pikiranku yang nakal.
Setelah puas kupandangi, aku meraih handphone yang ada di sampingku. Melihat pesan-pesan masuk, dan kutemukan pesan dari Kak Kaisar. Dia bilang tidak pulang, sedang ada acara bersama teman-temannya. Hanya kubalas sekadarnya saja, dan kuiyakan.
Karena di rumah ada Simon, jadi kurasa ini akan baik-baik saja.
Kini giliran handphone Simon yang bergetar tak henti-henti, kukira hanya sekadar alaram. Ternyata ketika kulihat, itu seorang wanita lagi. Iya, dia adalah mantan kekasihnya. Aku hanya tersenyum sinis, sedikit kurapihkan wajahku lalu aku angkat video call darinya.
Aku mencari tempat yang sedikit jauh dari Simon, agar terlihat tidak mencurigakan.
"Halo ... halo ... , Simon. Kok nggak ada mukanya?" sapa Laras sekaligus rengekan tanya manjanya.
"Iya, ada apa?" Jawabku sambil membuka kamera yang sengaja kututup, karena aku ingin melihat wajahnya.
"Oh, hai. Tumben, Simon lagi sama kamu ya?" Sapa sekaligus tanyanya.
"Iya, kenapa?"
"Simon sedang tidur bersamamu, ternyata sifat dia tidak pernah berubah. Masih suka meniduri banyak wanita."
"Maksud kamu?"
"Tanya saja sama dia, aku nggak mau banyak omong sama kamu."
"Kenapa kamu suka sekali menghubungi Simon, kamu masih suka sama dia?"
"Hahaha ... . Memangnya salah, jika aku tanya kabarnya. Toh, aku hanya silahturahmi dengannya."
"Terus, jika sudah tahu kabar dia. Kamu mau apa?"
"Kenapa? Kamu cemburu?"
"Aku? tidak sama sekali."
"Ya sudahlah, yang penting Simon itu masih belum berubah." Seketika itu juga video call darinya dimatikan.
Tak lama dari matinya video call, dia mengirimi pesan singkat. Menyuruh Simon menjemput di tempat biasa, ini menimbulkan tanda tanya besar untukku. Dan setelahnya itu dia menelpon dengan nomor telpon biasa, saat itu juga kuangkat kembali.
__ADS_1
"Halo, jangan lupa ya. Nanti jemput aku di tempat biasa," ucapnya sambil mendayu-dayu.
"Halo, siapa ya?"
"Aku, Laras."
"Sudahlah, mau kamu apa?"
"Aku cuma mau tahu kabar Simon saja, dan Simon masih sering menghubungiku diam-diam."
"Apakah itu ada buktinya?"
"Tanyakan saja padanya, nanti dikira aku berbohong."
"Kamu yang menelpon dan sekarang malah disuruh tanya Simon."
"Ya sudah kalau gitu." Lagi, teleponnya mati seketika.
Aku hanya bisa merasakan gemetar dan sesak, apakah aku salah jika mengetahui segalanya. Atau aku salah jika mengangkat telepon darinya, tapi kenapa harus dia.
Dia lagi dia lagi, terus-terusan mengusikku dan Simon. Saat semuanya ketika baik-baik saja, Simon berulah. Atau dia sedang merangkai semuanya, bahwa dia sedang terluka.
Saat itu juga handphone Saimon kucek semua pesan-pesannya, terkahir bertelepon dengan siapa saja, bahkan kontak diblokirnya.
Hasilnya nihil, hanya ada pesan baru dari mantannya, yang nomornya saja tidak disimpan. Simon, apa yang sedang kau sembunyikan dariku. Sesakit inikah aku mencintaimu, tidakkah ingat waktu pertama kali kau memintaku.
Haruskah kuulang rasa yang pernah terjalin, lukanya saja belum tertutup sempurna, sedangkan kau masih saja suka bermain-main denganku. Waktu yang kita lalui ini tidak sebentar, haruskah aku kembali mengikhlaskanmu seperti yang sudah-sudah.
"Sayang, Sandra. " panggil Simon padaku.
"Iya," jawabku singkat sambil menghampirinya.
"Jam berapa sekarang?" Tanyanya.
"Jam 19.00, Simon."
"Maaf, aku membawamu ke kamarmu. Aku mengantuk jadi aku ikut tertidur di ranjangmu, aku bersumpah aku tidak melakukan hal yang senonoh," jelasnya padaku seolah meyakinkan. Jika memang terjadi hal senono pun aku tidak tahu bukan.
"Iya, nggak papa kok."
"Kamu kenapa, Sayang?"
"Aku takut."
"Takut kenapa?"
"Takut saja, takut sendirian di rumah." Kualihkan pembicaraan ini.
"Kan ada aku, aku akan menemanimu sampai pagi dan mengantarmu kerja."
__ADS_1
"Benarkah itu?"
"Tentu, oh ya di mana handphoneku?" Tanya Simon yang tiba-tiba.
"Ini," jawabku sambil mengulurkannya.
"Sudah jam segini, apa kamu tidak lapar?" Dia hanya melihat jam, tidak membuka pesan-pesan yang masuk. Atau jangan-jangan pesan yang waktu itu juga dia tidak membacanya.
"Kamu mau makan apa, biar aku yang memasaknya."
"Tidak, aku mau kamu tetap menemaniku."
"Lalu, bagaimana kita makan?"
"Baiklah sayang, ayo kita masak bersama."
"Ayo."
Di sini aku berusaha tetap bungkam dan tegar, membiarkan semuanya berjalan seperti sedia kala. Aku ingin melihat, sejauh mana Simon menutupi apa yang telah terjadi.
Benarkah ucapan Laras, bahwa Simon suka tidur dengan wanita-wanita lain. Aku hanya mencoba menenangkan diri, terus memupuk kesadaranku dengan nalar. Aku berusaha tidak terpancing dengan perasaan, aku mencoba mendewasa.
"Sayang, kamu kenapa. Kok dari tadi ngelamun terus?" Tanya Simon padaku.
"Nggak, Simon. Aku masih menyadarkan diri, harinya hujan deras jadi aku sedikit kedinginan."
"Oh, jadi itu. Baiklah mari kita masak mi soto, aku saja yang masak. Kamu tinggal tunggu di meja makan, mau aku buatin teh juga nggak?" Tawarnya padaku.
"Boleh, jangan terlalu manis tehnya, mi nya juga jangan terlalu lembek. Oh ya, agak pedes ya sama di kasih telur."
"Wah, Sayangku sepertinya kelaparan ini."
"Hehehe, iya. Beneran nggak mau dibantuin, nih?"
"Nggak, kamu duduk saja di meja makan."
"Oke, siap cheff."
Lagi-lagi aku luluh dengan sikap dia yang kadang peduli, yang kadang manis. Ini benar-benar menyiksaku, aku akan menunggu waktu yang pas untuk membicarakan masalah ini.
Aku harus sedikit bersabar, aku akan terus berusaha sabar dengan dia. Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya, dan aku akan melihat hasilnya dari penantian ini.
"Taraa ... mi nya sudah matang, sesuai pesanan kamu. Dan ini teh hangatnya untukmu." Simon telah datang membawakan mi kuah yang dimasaknya beserta teh hangatnya.
Aku benar-benar tidak sanggup, ketika melihat wajahnya yang begitu tulus melayaniku. Ingin sekali aku berteriak memakinya, kembali lagi kupendam dan kuurungkan niatku.
"Wah, terima kasih, Simon. Yuk kita makan bersama, sudah lama aku tidak makan masakanmu."
"Ayo, kita habiskan semuanya."
__ADS_1
Aku mohon, sudahi drama ini secepatnya, Simon.