Two 2 Side

Two 2 Side
Who Are You#9 Puncak Pecah


__ADS_3

Hari ini aku memutuskan akan pergi berlibur bersama Sandra, aku sangat merindukannya. Pagi ini aku menghubunginya tepat di depan rumahnya, karena kejutan. Oleh sebab itu aku tidak memberi tahunya akan pergi ke mana, yang jelas dia akan ikut.


Sesampainya di rumah Sandra, aku di sambut dengan wajahnya yang ceria. Sungguh membuatku semakin berbunga-bunga, setelah masuk di dalam rumah aku disuruh duduk dan menunggunya bersiap-siap.


"Hai, tumben pagi-pagi ke sini?" Tanya Kaisar padaku yang menyambut kedatanganku.


Aku sudah tidak takut lagi dengannya, aku tahu dia adalah kakak sepupu yang menjaga Sandra di sini. Bukan takut karena apa, hanya khawatir ketika seseorang yang kau cintai ternyata satu atap dengan pria lain, meskipun itu hanya saudara sepupu.


"Iya, aku berencana mengajak Sandra pergi berlibur."


"Ke mana?"


"Tempat yang istimewa, dan pastinya belum pernah Sandra temui."


"Begitu, kau yakin?"


"Ya, aku sangat yakin."


"Jagalah Sandra baik-baik, aku tidak akan segan-segan merebutnya darimu. Jika kutemui dia menangisimu di depanku." Ini sebuah peringatan yang Kaisar lontarkan padaku. Sedikit kaget, namun aku yakin semua ini adalah ulah Salsa.


"Wow, aku sangat terkejut mendengarnya. Rebut saja dariku jika kau bisa melangkahi mayatku Kaisar." Balasku balik padanya.


"Hah, jangan terlalu sombong. Jika sekali lagi aku melihat Sandra terluka, aku akan merebutnya tanpa ada sepatah kata yang akan Sandra ucapkan padamu, meskipun kata perpisahan."


"Baiklah, aku rasa sudah waktunya aku harus pergi. Karena suara langkah Sandra sudah terdengar."


"Camkan itu baik-baik, Simon."


"Tentu."


"Aku sudah siap, apa kakak juga diajak?" Tanya Sandra padaku.


"Tidak perlu, biarkan kalian yang menikmatin


ya berdua," jawab Kaisar langsung.


"Tentu, aku akan membuat dia bahagia hari ini. Tenang saja Kaisar, aku akan menjaganya," ucapku pada Kaisar yang tak mau kalah juga.


"Apa-apaan ini, kalian sedang berbicara masalah apa. Seolah-olah aku sedang diperebutkan," celetuk Sandra yang sesikit sebal.


"Tidak ada, Sayang. Kamu sangat cantik hari ini, ayo kita pergi sebelum harinya semakin memanas."


"Kakak, aku pergi dulu. Aku akan segera pulang cepat, see you Kak."


Aku dan Sandra pun pergi, setelah berpamitan dengan Kaisar.

__ADS_1


Di setiap perjalanan aku selalu memikirkan ucapan Kaisar, yang menyangkut soal Sandra.


Aku sedikit tersinggung dan panas, aku tidak rela jika Sandra direbut olehnya, aku sangat yakin bahwa Kaisar mampu meluluhkan hati Sandra. Karena sifat dia yang begitu lembut serta penuh cinta, sangat berbeda denganku yang kasar, keras dan mudah tersulut emosi. Sudah kucoba merubahnya, namun sedikit sulit bagiku.


"Sayang, kamu kenapa dari tadi melamun terus?" Tanyaku pada Sandra, yang mengalihkan pikiranku sendiri.


"Emm ... tidak ada. Oh ya, aku lupa. Kita sebenarnya mau ke mana?"


"Aku akan membawamu ke tempat yang istimewa, dan aku yakin kamu belum pernah ke sana."


"Ayolah, katakan saja kita mau ke mana. Karena aku takut jika salah memakai pakaian," rengek Sandra padaku yang tidak terima dibawa begitu saja.


"Hahaha ... sudah cantik dan sudah pas. Tenang saja, kita akan menikmatinya bersama."


"Hih, awas saja jika aku tidak nyaman dengan lingkungannya."


"Tentu saja, aku sudah mempersiapkannya dengan matang."


"Hem, baiklah."


Sesampainya di sana, Sandra begitu kagum dan sangat menikmatinya. Aku sangat bersyukur, karena ini kali pertama dia berkunjung di sini. Aku tidak salah tempat membawanya di sini, mungkin ini pertam kalinya juga buatku.


Karena hanya dengan Sandra aku merasakan kebebasan yang liar, ke mana pun aku ingin pergi pasti aku ingat Sandra untuk mengajaknya.


"Sayang, kapan-kapan aku akan ajak kamu ke tempat yang jauh lebih indah dari ini."


"Banyak stok yang kusimpan hanya untuk membuatmu bahagia."


"Terima kasih, Simon. Hanya ucapan ini yang mampu kuberi, maaf belum bisa membalas setiap kebaikanmu."


"Ssttt. Sudah, aku melihatmu tersenyum bahagia saja sudah membuatku ikut senang. Tetaplah bersamaku, Sayang. Aku janji, aku tidak akan membuatmu menangis lagi." Tiba-tiba aku mengucapkan kata-kata itu, yang mungkin akan membuat Sandra sedikit curiga.


"Aku tidak pernah menangis, aku bukan wanita cengeng." Aku bersyukur dia tidak curiga dengan ucapanku barusan.


Setiap perjalanan yang kulalui bersama Sandra seolah melambat, membiarkan kita saling menyatu dalam larut bahagia. Kami bertemu dengan hewan-hewan liar yang terlihat nyata di mata kepala kami, berusaha menjaga agar kami tidak mengganggu mereka.


Sesekali aku mengambil foto tempat ini dan beberapa hewan, untuk diabadikan sebagai kenang-kenangan.


Setelah puas bermain di tempat ini, aku pun memutuskan keluar dari area dan berniat untuk pergi ke toilet.


"Sayang, aku mau pergi ke toilet sebentar ya. Ini handphoneku, aku sudah tidak tahan."


"Hati-hati, Sayang."


***

__ADS_1


Simon kini telah pergi meninggalkanku sendirian di dalam mobil, dia pergi ke toilet dan memberikan handphonenya padaku. Aku sedikit tergoda dengan handphonenya, aku masih memiliki rasa janggal dengan mereka.


Akhirnya aku pun membukanya, aku hanya mengamati pesan-pesannya dari luar. Saat aku berhenti pada satu nama "Null", sedikit mencurigakan. Saat kubuka tidak ada pesan masuk, hanya sisa bekas chat yang terhapus dari dalam. Aku sesdikit tersenyum kecut, memang benar aku rasa. Mereka masih memiliki sesuatu yang sedang ditutupi, aku menghela napas panjang dan berat.


Simon terlihat sangat lama, entah apa yang sedang dia lakukan. Aku hanya menunggunya dengan perasaan yang memanas tiada henti, aku berusaha menenangkannya, namun mash saja enggan mereda. Saat aku hendak meletakan handphone ke kursinya, tiba-tiba bunyi dering, saat kulihat itu pesan masuk dari Salsa.


Sekali lagi Salsa masih menghubungi Simon yang tak pernah jenuh bahkan lelah, aku tahu dengan jelas itu Salsa karena foto yang dia gunakan itu adalah foto pribadinya. Sekali lagi dengan nomor yang berbeda, aku rasa sudah cukup menunggu waktu.


"Simon, sedang di mana, sibukkah?"


"Ada apa?"


"Aku rindu, aku ingin bertemu."


Sekali lagi, ini membuatku sesak.


"Kamu blokir terus nomor aku, jangan blokir terus."


Aku hanya tersenyum sinis melihat tingkahnya. Akhirnya dia pun tidak sabar untuk melakukan video call lagi.


"Hai, Simon."


"Ada apa, Salsa?"


"Kamu lagi, kamu lagi. Ke mana Simon, cepat berikan padanya!"


"Dia tidak ada di sini, mau apa. Katakan saja maumu sekarang."


"Aku rindu Simon, bisakan kasih handphonenya pada dia."


"Tunggu saja, sebentar lagi dia datang."


"Ke mana sih, memangnya?"


"Dia sedang di toilet umum."


"Yaampun, kasihan sekali dia bersamamu."


"Berhentilah omong kosong, ketika tidak tahu apa-apa yang sedang terjadi."


"Mana, cepat."


"Ini."


Langsung saja kuberikan pada Simon, dia sudah datang dengan wajah yang berseri-seri, sedangkan aku menahan perih.

__ADS_1


"Bicaralah, dia sedang rindu padamu. Selesaikan apa yanh ingin kalian selesaikan, setelahnya antar aku pulang. Aku muak dengan kalian," ucapku pada Simon yang tengah kebingunan melihat tingkahku.


Kini air mataku jatuh bebas, melihat dua orang yang sekaligus sedang memagut rindu. Setelah ini, aku akan menjaga jarak di antara mereka, aku hanya ingin tenang.


__ADS_2