Two 2 Side

Two 2 Side
Lord of the Rings#1 Aku Lapar!


__ADS_3

Pepohonan trembesi yang begitu teduh bagaikan payung untuk kita, dulu tempat ini adalah sebuah bangunan tua yang difokuskan untuk pengelolaan tranportasi kereta api. Dan di sekitar bangunan juga difungsikan sebagai area resapan air serta tempat penimbunan kayu jati yang berkualitas.


Dengan seiring berjalannya waktu, pohon trembesi inilah yang menjadi spot khusus bagi para pengunjung. Pantas saja Sandra begitu ingin pergi ke sini, karena tempatnya yang teduh, nyaman dan masih asri.


Aku sangat menikmati liburan ini bersama Sandra, aku mengamati setiap tingkahnya yang kagum dengan tempat ini. Sesekali dia memuji sesekali dia menggerutu, aku hanya bisa tertawa kecil.


Bagaimana dia bisa menemukan tempat ini, sedangkan satahuku dia sibuk bekerja-mengurusi toko kuenya. Sedangkan jawatan benculuk ini terbilang cukup jauh dari resortku, tak habis pikir jika dia diam-diam merencanakan liburan kali ini sendirian.


"Simon ... . Sini, ayo foto bersamaku."


"Baiklah, mau di mana. Di sini apa di sana?"


"Eh, di sana mana?"


"Mari kutunjukan tempat yang jauh lebih bagus dari ini."


"Serius, masih ada tempat yang jauh lebih bagus dari ini?"


"Iya, ayo."


Kita menyusuri setiap perjalanan, terus berjalan dan akhirnya pun sampai tujuan.


"Wah, tempat ini bagus sekali. Seperti hutan fangorn lord of the rings."


"Oh ya, kamu menyukainya?"


"Sangat, aku sangat menyukainya."


"Baiklah, mari kita ciptakan sebuah kenangan yang indah di sini."


"Waktunya mengabadikan foto bersama."


Setelah puas berjalan-jalan dan berfoto-foto, kini giliranku yang mencari tempat makan.


Hari sudah semakin sore, terlalu sulit untuk mencari makan yang sesuai selera Sandra.


"Sayang, kita makan di luar saja ya," ajakku pada Sandra yang semakin cemberut.


"Kenapa nggak makan di sini saja?"


"Aku nggak terbiasa makan di sini, Sayang."


"Kamu itu sukanya pilih-pilih makan ya."


"Bukan begitu, aku cuma mau kamu nyaman dan enak."


"Aku itu lapar, bukan nyaman apa nggaknya."


"Aku nggak mau, ya. Intinya kita cari makan di luar, kamu harus nurut."


"Eh, kok kamu malah jadi nyuruh aku harus nurut."


"Sudah Sayang sudah, jangan berantem. Kita pulang sekarang, cari makan di perjalanan pulang, hari juga sudah semakin sore. Nanti kamu kecapai an."


"Yaudah, terserah kamu. Pokoknya, nanti turunin aku di toko super."


Obrolan kami berakhir menegang, hanya karena makan. Mungkin aku terlalu berlebihan dalam memilihkan tempat makan untuk Sandra, niatku selalu baik. Aku tidak ingin dalam melayani pasangan dalam keadaan kurang, seperti kurang nyaman dan puas.


Dalam perjalanan pulang setiap rumah makan tutup, entah mengapa rasanya ini aneh. Sedangkan sedari tadi Sandra semakin murung, seperti anak kecil yang tidak diberi permen. Ini membuatku semakin frustasi.

__ADS_1


"Berhenti di depan sana!" Perintah Sandra tiba-tiba, yang mengagetkanku.


"Kalau mau bilang berhenti jangan mendadak gitu dong, Sayang," jawabku lirih padanya.


"Kenapa?"


"Kasian orang yang di belakang kita ikut kaget."


"Owh, jadi kamu lebih kasihan sama orang lain dari pada sama aku. Sebagai pasanganmu ini, iya?"


"Bukan gitu, Sayang. Ini jalan raya, bahaya kalau tiba-tiba belok."


"Udah ah, aku lapar." Sandra menutup pintu mobilku dengan kasar.


Rupanya seperti ini, ketika seorang wanita lapar maka dia akan berubah menjadi singa.


Aku menunggu Sandra di dalam mobil, membiarkan dia sendirian di dalam toko tersebut. Sambil kuawasi dari dalam, aku memerhatikan dia memilih-milih makanan ringan. Ternyata dia selapar itu, aku sangat merasa kecewa pada diri sendiri.


Sudah 15 menit berlalu, tapi Sandra tak kunjung kembali. Sedang apa yang dilakukannya di dalam, apakah dia sedang meraju meminta untuk dijemput atau memang sengaja berlama-lama di dalam.


"Kau tidak mau turun dari mobil?"


Pesan dari Sandra masuk.


Yang benar saja, sekarang apa yang dia inginkan. Sedangkan dia bilang dari tadi lapar, ingin makan. Sekarang, dia malah seenaknya menyuruhku turun.


"*Mau apa?" Jawabku.


"Owh*," balasnya singkat.


Jawabannya semakin membuatku bertanya-tanya, seolah ini rumus matematika dicampur rumus fisika dan kimia. Yang hasilnya, hanya dia dan para wanita lain yang tahu.


"Mau apa kamu?"


"Loh, katanya disuruh turun?"


"Nggak usah, lama. Sudah dari tadi, tapi nggak peka."


"Hemh, oke. Sekarang mau kamu apa?"


"Nggak ada."


"Kamu kenapa sih?"


"Pikir saja sendiri, aku capek."


"Sandra ... ."


"Apa?"


"Aku tahu kamu lapar, aku sedang berusaha mencari tempat makan yang buka."


"Yasudah, cari saja sampai ketemu. Aku sudah kenyang."


"Owh, jadi sudah kenyang. Baiklah, kita pulang sekarang. Pakai sabukmu, aku antar secepat mungkin sampai di rumahmu."


" ... "


Langsung aku tancap gas, selaju mungkin aku mengantar dia pulang. Agar kita selesai dalam acara anak kecil ini, aku cukup lelah dan pusing. Aku sudah berusaha, tapi tak dihargai bahkan tak dilihat.

__ADS_1


Aku terus fokus dalam perjalanan, tak peduli lagi ada Sandra di sebelahku. Aku muak ketika seorang wanita tak bisa berterus terang dan tak bisa memahami keadaan.


Sandra yang kulirik dia hanya terpaku membisu, seolah pasrah dalam mautku.


Telah sampai pada tujuanku, rumah Sandra. Aku berhenti tepat di depan pagarnya, menurunkannya dan membiarkan dia masuk sendirian.


"Selamat malam, Sayang," ucapku dingin.


"Malam juga, terima kasih," jawabnya yang semakin dingin.


Liburanku kali ini hancur, benar sekali aku salah. Aku benar-benar tidak mengajaknya makan, sedangkan aku tahu dia begitu lapar.


Malam ini aku pulang ke rumahku sendiri, aku sedang ingin sendrian. Menenangkan semua pikiran jahat ini. Sakit sekai rasanya ketika aku tidak peduli, namun aku juga marah padanya.


Sebelum aku keluar dari mobil, aku tamatkan kembali di kursi sebelahku. Sosok Sandra yang tadi ada kini hanya aroma parfumnya yang tertinggal, dan dia meninggalkan beberapa bungkus roti untukku atau ketinggalan.


"Selamat malam, Tuan."


"Malam, Bi."


"Apakah mau saya rebuskan air hangat untuk mandi, Tuan?"


"Tidak usah."


"Baik."


Aku masuk ke dalam kamar dan hal lain yang mengejutkanku adalah Kaisar.


"Kejutan ... . Hey, aku datang."


"Pergilah."


"Hey, hari ini kamu tidak masuk kerja."


"Tidak ada."


"Apakah kamu pergi berlibur dengan Sandra?"


"Tidak."


"Jadi, kamu keluar dengan wanita lain. Selain Sandra begitu?"


"Maksudku bukan begitu. Pergilah!"


"Tidak. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Pergilah, sebelum aku memanggil pengawal."


"Ceritakan apa masalahnya. Jika kamu tidak bisa menjaga Sandra, biarkan aku yang menjaganya. Dan jika kamu membuat Sandra menangis, aku yang akan memeluknya. Dah Simon, hahaha." Kaisar pergi berlalu meninggalkan kamarku.


"Pergi dari rumahku sekarang juga!"


Halo readers.


Aaa... author telat up nih..


Terima kasih untuk kalian yang bersedia menyempatkan waktunya. Jangan lupa, tinggalkan jejaknya. Itu sumber energi untuk Author.


Salam Author,

__ADS_1


@beeh_nda


__ADS_2