Two 2 Side

Two 2 Side
Who Are You#4 Teriakan Sandra!


__ADS_3

"Sandra ... Sandra, buka pintunya!" Perintah Kaisar pada Sandra yang panik, karena mendengar teriakan Sandra.


"Sandra ... cepat buka!" Sekali lagi perintah Kaisar sambil mendobrak-dobrak pintu kamar Sandra.


"Ka ... Ka ... Kak ... ." Suara Sandra terbata-bata dari balik pintu kamar.


"Sandra, mundur. Biarkan Kakak yang membukanya."


"Brak ... . Sandra?" Kamarnya kosong dan hening. Tidak ada sosok Sandra di dalam kamar.


Kaisar yang nampak kebingungan mulai lemas, dia panik tak karuan. Mencari-cari sosok Sandra di setiap penjuru kamarnya yang luas, dimulai dari lemari, kasur dan bawah kasur, balkon jendela, serta kamar mandi. Hasilnya nihil, tak ada sosok Sandra sama sekali. Lantas, dari mana suara itu berasal, sedangkan Kaisar jelas mendengarnya dari arah kamar Sandra.


Kaisar kembali turun ke ruangan bawah, dia menuju dapur untuk minum. Mencoba menenangkan diri dan sedikit meredam rasa paniknya, sesampainya di dapur lampunya mati. Sedangkan sedari tadi dia tidak ada sama sekali menuju dapur, harusnya tetap menyala.


Setiap lampu di rumah ini selalu menyala ketika Kaisar dan Samdra tidak berada di rumah, baru ketika mereka berada di rumah beberapa lampu akan dimatikan.


Kaisar mencoba menyalakan saklar lampu dapur dan terlihatlah di sana sosok Sandra, yang tengah membuka kulkas.


"Sandra?" ucap Kaisar yang sedikit heran.


"Kakak?" jawab Sandra sedikit bingung.


"Kamu sedang apa di sini?"


"Tentu saja aku haus, sebelum aku masuk kamar aku turun lagi dan berniat mengambil air minum."


"Benarkah?"


"Memangnya kenapa, Kak?"


"Ah, tidak," jawab Kaisar yang sedikit menutupinya.


"Hemh, ya sudah. Aku kembali ke kamar dulu, Kak."


"Tunggu," cegah Kaisar yang sedikit takut.


"Ya?"


"Lebih baik kita menonton televisi dulu, Kakak sedang tidak bisa tidur. Maukan kamu menemani Kakak?"


"Tumben, okelah kalau begitu. Tapi, aku mau ganti baju dan menaruh tasku ke kamar dulu."


"Pakai baju Kakak saja, biar kakak yang mengambilnya di kamar."


"Hahaha ... . Kakak kenapa?"


"Sudahlah, tunggu saja di ruang keluarga. Kakak akan segera menyusulmu."


"Baiklah."


Sandra pergi menuju ruang televisi sambil menunggu Kaisar, sedangkan Kaisar peegi meuju kamarnya untuk mengambil pakaian.


"Ini, pakaiannya. Segera ganti, agar kamu merasa nyaman," suruh Kaisar kepada Sandra, yang tengah duduk di sofa.

__ADS_1


"Oke, tunggu ya, Kak." Sambil berlalu pergi, menuju kamar mandi tamu.


Selang beberapa menit, Sandra telah kembali dan duduk di samping Kaisar.


"Sandra?"


"Iya, Kak?"


"Tidurlah jika kamu mau tidur, biar Kakak yang menjagamu."


"Maksud Kakak, apa?"


"Tidak, Kakak sedang ingin menemanimu saja."


"Kakak, takut ya. Atau kenapa?"


"Iya, Kakak takut. Jadi temani Kakak di sini, Kakak akan tunggu sampai pagi."


"Hemh, aneh. Tumben sekali kakak merasa begini, biasanya nggak pernah melakukan hal yang disembunyikan."


"Ssttt ... . Tidak ada, sudahlah istirahat saja. Biar kakak matikan lampunya, kita menggunakan lampu redup saja."


"Kak, kalau ada apa-apa cerita. Biar aku nggak menerka-nerka dengan hal yang mengerikan, misalnya berkaitan dengan Simon."


"Sandra, kita bicarakan besok saja. Kakak tahu kamu lelah, istirahatlah." Sambil menepuk-nepuk punggung Sandra, yang menyandarkan tubuhnya di tubuh Kaisar.


"Selamat malam, Kak."


"Malam, Sandra."


***


Sandra dan Kaisar tengah terlelap dalam tidurnya, sisa semalam hanya tinggal kenangan. Kini, wajah Sandra dan Kaisar saling beradu bertatap meski terpejam.


Sofa yang mereka sandari kini telah berganti fungsi menjadi kasur yang membentang, televisi yang semalam suntuk menyala menemani mereka dalam lelap. Sekarang, biarkan mereka tersadar dari mimpi indahnya semasing, yang sebentar lagi akan menyadarkan mereka.


Benturan adu kepala saling bunyi, hanya erangan kecil yang mereka suarakan. Masih saja enggan terbangun, sekali lagi tangan Sandra mendarat tepat di wajah Kaisar. Dan inilah momen di mana mereka harus disadarkan, saling berteriak terkejut dan panik.


"Aaaaarrrkkkk ... Sandra, Kakak ..."


Pagi yang indah dengan nada yang merdu dari mereka.


"Aduh, kenapa kakak harus tidur denganku?" Gerutu Sandra.


"Maaf, kakak tadi malam lelah harus menopang badanmu yang semakin lama semakin berat."


"Sepertinya aku harus pergi bekerja, aku terlambat, Kak. Dah Kakak, nanti Sandra pulang sama Simon," ucap Sandra sambil buru-buru pergi meninggalkan Kaisar, yang masih setengah sadar.


"Iya, hati-hati," lirih Kaisar sambil menatap kepergian Sandra.


***


Kenapa ini bisa terjadi, jika Simon tahu kejadian pagi ini pastilah aku mati dibuatnya. Aku harus tetap diam, karena ini rahasia kecil di antara aku dan Sandra. Sambil kulalui lorong resort, menuju ruangan Simon.

__ADS_1


Harusnya pagi ini dia sudah ada di ruanganya, menunggu laporanku. Harusnya dia bisa tidur dengan nyenyak, kecuali aku.


"Selamat pa ... gi ... ." Kosong, ruangan Simon kosong.


"Halo, selamat pagi. Simon, kaudi mana?" tanya Kaisar lewat handphonenya.


"Iya, tentu saja aku di kamar," jawab Simon yang masih serak.


"Kaubelum bangun?"


"Tunggu sebentar lagi."


"Sudahlah, cepat buka kamarmu. Aku sudah di depan kamarmu ini."


"Apa? Bagaimana kautahu jika aku di sini?"


"Cepat, buka sekarang."


Pintu terbuka lebar, di sana Simon terlihat jelas. Badan atletis, tinggi tegap dan kekar. Tidak ada sedikit pun besetan di tubuhnya, setiap wanita yang memandang pastilah kepincut. Sayangnya Kaisar yang melihatnya, jadi semua itu tidak akan terjadi.


"Apa kabar, sayang. Apa tidurmu nyenyak malam tadi, tunggu biar kutebak. Pasti ada sesuatu," ucap Kaisar pada Simon.


"Begitulah, aku rasa kaupun juga."


"Humh, jika benar. Berarti ini ada kaitannya dengan Salsa, mantan kekasihmu."


"Semalam, aku diingatkan oleh wanita kamar 203. Dia bilang, aku harus mandi dengan air garam dan bunga. Namun, aku tidak percaya hal semacam itu."


"Terserah kausaja. Yang jelas, wanita itu bukan sekadar wanita biasa. Pasti ini ada apa-apa, apa kausudah menghubungi Sandra pagi ini?"


"Belum, dia pun juga belum menghubungiku. Aku rasa dia sibuk."


"Bergegaslah mandi, satu lagi; Sandra bilang dia akan pulang bersamamu. Jadi jemputlah dia."


"Baiklah, tunggu aku di sini. Aku sedikit takut."


"Hahaha ... ternyata seorang Simon, takut."


"Diamlah!" Sambil melempar bantal ke arah wajah Kaisar.


***


Mereka kini sudah berada di ruangan kerja Simon, mengerjakan beberapa laporan dan mengecek semua keadaan resort. Setelah dua jam berlalu, akhirnya selesai juga.


"Akhirnya, selesai juga pekerjaan kita. Aku akan pergi ke cafe belakang, apa kaumau ikut, Simon?"


"Pergilah dulu, aku akan menyusulmu."


"Baiklah, sampai bertemu di sana."


"Ya."


"Sayang, kamu di mana. Sebentar lagi aku akan menjemputmu," pesan Simon pada Sandra.

__ADS_1


"Aku di toko kue, baiklah aku bersiap-siap." Balas Sandra pada pesan Simon.


"Ketika sebuah hubungan yang penuh misteri dan belum terpecahkan, di sana hanya ada dugaan-dugaan yang bergelayutan tak menentu."


__ADS_2