
Telah sampai aku pada tujuan, toko kue Sandra. Kuparkirkan mobilku tepat di depan tokonya, aku menunggunya di dalam mobil. Karena pesan yang kukirimkan pada Sandra telah di iyakan, sekarang tinggal giliran Sandra yang menghampiriku.
"Hei, sudah lama menunggu?"
"Baru juga sampai, meskipun seribu tahun lamanya, aku tetap akan menungumu, Sayang."
"Gombal terus, jadi gerah cuacanya," ledek Sandra pada Simon yang telah masuk ke mobilnya.
"Saatnya kita meluncur, jangan lupa pakai sabuk pengamannya."
"Eh, kita mau ke mana?"
"Terserah kamu, siang begini enaknya yang dingin-dingin, kan."
"Bagaimana, jika kita pergi ke tempat wisata," ajak Sandra tiba-tiba.
"Lagi?"
"Tentu tidak, aku bercanda. Ke mana saja, bagaimana makan siang?"
"Mau makan di mana?"
"Ikan bakar."
"Oh Sayang, ini akan bolak balik."
"Maksud kamu?"
"Tidak, biarkan aku memilih tempat yang pas untuk kita makan siang."
"Huhm, terserah saja kalau begitu. Yang penting, aku mau makan ikan bakar," pinta Sandra.
"Baiklah, Sayang."
***
Rumah makan Bakar-bakar, itu adalah nama tempatnya. Kami berhenti dan masuk, memilih tempat duduk dan memesan ikan bakar serta beberapa menu lainnya. Setelah menunggu cukup lama, pesanan kami telah tiba. Kini saatnya kami menikmatinya, ditemani oleh lantunan musik serta angin yang mendayu-dayu. Tak ada percakapan yang pecah, hanya saling bersantap semasing.
"Berapa totalnya Mbak?" Ucapku pada seorang kasir wanita.
"Semuanya, 150.000,00. Pak," jawabnya.
"Baiklah, ini Mbak uangnya."
"Kembaliannya, Pak."
"Tidak usah, ambil saja Mbak."
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama." Setelah selesai membayar, aku pun berlalu menghampiri Sandra yang sudah berada di dalam mobil.
"Cantik, ya Mbak-mbak kasirnya," celetuk Sandra.
"Iya, cantik. Tapi sayang ... "
"Sayang kenapa?"
__ADS_1
"Masih banyak kamu cantiknya, Sayang."
"Ih, bisa saja. Kamu kenapa, dari tadi kok gombal terus. Habis kesambet setan apa?"
"Loh, kok kamu gitu. Nggak suka?" dengan wajah memelas.
"Tumben saja, kan aku merasa ada sesuatu."
"Sayang, aku akhir-akhir ini sering mimpi buruk dan aku sangat takut."
"Kita cari tempat yang nyaman, setelah itu kamu ceritakan semuanya padaku."
"Kamu yakin?"
"Kenapa, kamu nggak percaya sama aku?"
"Baiklah, kita ke rumahmu saja. Sekalian aku antar pulang."
"Ya, sudah, sekalian nanti aku akan buatkan kamu teh madu."
"Terima kasih, Sayang."
"Sama-sama."^^
Akhirnya kini aku bisa berduaan dengan Sandra di rumahnya, sudah lama aku tidak pulang ke rumahnya. Ada rindu di sana, rumah Sandra berbeda dengan rumahku.
Rumahnya begitu hangat serta terlihat lebih cerah, banyak bunga-bunganya dan apik.
Sesampai di rumahnya, yang kutuju adalah ruangan televisi, karena dulu kita sering menghabiskan waktu di sana. Entah sekadar menonton drama, karaoke ataupun bermain gim.
"Sayang, aku akan buatkan teh madunya dulu," ucap Sandra.
Aku pun duduk di sofanya, lalu menyalakan televisi. Sambil kupilih-pilih chanel yang ada, akhirnya aku berhenti di chanel televisi yang berisi sinema keluarga, itu adalah kartun.
Meski usiaku sudah cukup tua, namun seleraku masih suka dengan kartun.
"Sayang, ini teh madunya. Masih panas, hati-hati ya." Suara Sandra mengalihkan pandanganku, kini dia sudah duduk di sebelahku.
"Terima kasih, Sayang. Aku sangat merindukanmu, jangan pergi."
"Kamu ngomong apa sih, aku nggak akan pergi. Sekarang ceritakan, apa yang kamu takutkan," pinta Sandra padaku.
"Sayang, akhir-akhir ini aku bermimpi buruk. Aku selalu memimpikan seseorang, yang dulu pernah singgah sebelum kamu. Dia berusaha memisahkan kita, sedangkan aku tak berdaya."
"Simon, berdoa dulu sebelum tidur. Kamu terlalu banyak pikiran yang nggak karuan, makannya kamu mimpi dia."
"Mungkin, tapi akhir-akhir ini sering sekali aku bermimpi tentang dia. Aku takut, Sandra."
"Sudahlah, jangan terlalu dibawa hati. Mimpi hanya bunga tidur, jika kamu terus memikirkannya nanti tidak baik buat kamu dan pekerjaanmu."
"Sandra, jangan pergi. Aku mohon, apapun yang terjadi, tetaplah denganku."
"Aku selalu tinggal, entah denganmu."
"Aku akan terus berada di sisimu, aku janji. Kuatkan aku jika aku mulai melemah bahkan lupa diri."
"Tentu, Sayang. Aku akan terus membersamaimu, aku akan pegang kata-katamu itu. Dan jika kamu meleset, akan aku tagih terus-terusan."
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang." Sambil memeluk Sandra.
Dengan sedikit aku bercerita ke Sandra, maka aku akan merasa baik-baik saja.
"Jangan lupa di minum teh madunya, agar lebih baik perasaan kamu."
"Iya, Sayang. Oh ya, apa tadi malam tidurmu nyenyak?"
"Tentu, bagaimana denganmu?"
"Ya, seperti yang kukatakan. Selalu mimpi buruk, sepertinya aku membutuhkan pelukan darimu."
"No."
"Ayolah, Sayang. Peluk aku, aku rindu," rengek Simon pada Sandra.
"Baiklah, kemarilah."
"Kenapa, pelukanmu begitu hangat. Sungguh membuatku nyaman dan enggan pergi."
"Entahlah, aku kan orang-orang baik. Hehehe ... ," jawab Sandra sambil cengengesan.
"Dasar, kamu kira aku bukan orang baik-baik?"
"Sudahlah, duduk sendiri. Aku sedikit lelah, sekarang giliranku yang bersandar pada dada bidangmu itu. Harusnya aku yang manja, bukan kamu Simon," gerutu Sandra sambil manyun-manyun.
"Hahaha ... . Baiklah, kemari."
Kini posisi kita telah berubah, giliran Sandra yang berada di pelukanku. Dia meringkuk seperti anak kecil, sambil berselimut.
Kami habiskan waktu hanya menonton televisi, dengan posisi yang bertahan.
Sesekali kueratkan pelukanku dan kukecupi ujung kepalanya, entah mengapa rasa ini berbeda dari sebelumnya. Wanita ini telah merebut hatiku, dia mampu meluluhkan egoku serta merubah sifat burukku.
Sandra, bersabarlah sedikit lagi, aku akan segera menikahimu. Aku janji, aku akan bekerja lebih keras lagi dan menyelesaikan masalah-masalah kecil yang menimpa kita.
"Sayang," panggilku sambil mengelus-mgelus punggungnya.
"Emm ... ," erangnya.
"Apa kamu tidak lelah, biarkan aku membantu meluruskan sofanya."
"Emm ... ." Sekali lagi dia menjawab hanya dengan erangan.
"Sayang, bangun sebentar."
Sepertinya Sandra enggan kuubah posisi tidurnya, malah dia merapatkan pelukannya padaku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, apakah dia selelah itu dengan pekerjaannya atau dia sedang merindukanku.
Cuaca hari ini terlihat memihak kepadaku, lagi-lagi hujan mengguyur kota kecil. Tanpa ada peringatan, langsung saja menari-nari sambil bersuara begitu nyaring. Hawa dingin kini merasuk ke tulang-tulangku, menembus jiwa yang hangat.
Sandra semakin merapat kepadaku, wajahnya yang begitu terlelap tak henti kupandangi. Wanita yang manja, kenapa aku begitu jatuh sejatuhnya. Aku harapa dia tidak seperti yang sudah-sudah, datang hanya untuk pergi.
Sedangkan aku, berusaha mati-matian mempertahankan. Aku bodoh, kenapa tidak dari dulu bertemu dengan Sandra, mungkin akan jauh lebih baik dan mungkin aku sudah memiliki bayi-bayi mungil.
Sandra, aku sangat mencintaimu, maafkan aku jika terkadang sifat ini terlalu mengekang ataupun menyakitimu.
"Tawamu mampu membalut duka yang menganga, setiap kata yang kau ucap mampu memberikanku energi, meski sederhana namun sanggup mengubahku."
__ADS_1
SALI_