
Malam telah bercumbu rayu bersamaan rembulan yang begitu indah, angin pantai semilir menari-nari di atas ombak. Simon yang sedari tadi hanya bisa termenung, mengamati apa yang dia lihat. Dia memilih menetap, tinggal di resortnya.
Saat ini dia sedang berada di rooftop, tempat yang paling nyaman dan indah. Di mana dia bisa melihat setiap deburan ombak yang berlarian, sedangkan plankton yang berkelap-kelip pun ikut permainnya.
Sesekali dia menenggak coffe cappuccinonya, yang sedari tadi sudah ada di depannya, sambil menghela napas panjang dia lirih ikut bernyanyi lantunan lagu yang dia dengar.
Simon memilih untuk menenangkan diri sendirian, tidak ada Sandra maupun Kaisar yang menemaninya. Dia bergelayutan dengan semua pikiran kacau yang sedang menerpanya, dia pikir dengan begini akan jauh lebih baik. Namun, nyatanya malah semakin membuat dia frustasi.
Tak kuasa menahan apa yang dia rasakan bersamaan angin malam, dia pun pergi menjauh. Namun, sebelum niatnya terwujud dia melihat seorang wanita yang siap mengahampirinya. Tidak terlihat jelas dari kejauhan, sedangkan kini telah berada di depan Simon duduk manis.
Masih dengan keheningan yang sama, seolah Simon tidak peduli. Karena gejolak yang dia rasakan lebih besar daripada harus tertarik dengan wanita di depannya.
Senyum tipis nan dingin membuat Simon semakin gerah dengan tingkah wanita tersebut, akhirnya dia pun memutuskan pergi meninggalkanmya, begitu tak peduli dengan perasaan orang lain.
"Apakah ini sifatmu, dalam menyambut kedatanganku, Simon?" Lirih wanita itu dengan penuh penekanan yang khas.
"..."
"Bagaimana kabarnya dengan wanita pujaanmu di sana, apakah dia peduli dengan kekasihnya yang resah malam ini?" Sekali lagi dia berucap, mencoba membuka suara Simon.
"Berhentilah, segera pergi dari hadapanku," ucap Simon yang telah berdiri dari wanita tersebut.
"Atau kau akan memanggil pengawal, bukankah sifat kekanak-kanakanmu yang membuat dirimu sendiri kacau, Simon." Semakin jadi,wanita tersebut meremehkan Simon.
"Aku sedang tidak ingin membahas siapa-siapa di sini, selagi aku masih bisa menanganimu maka cepat pergi," tegas Simon sambil merapihkan tuxedonya, yang membelakangi wanita tersebut.
"Sekarang, kau sudah tidak memiliki tatakrama setelah bersama wanita pujaanmu rupanya."
"Terserah, ini bukan urusanmu."
"Baiklah, kali ini silahkan pergi. Tapi sebelum itu, izinkan aku memelukmu sekali ini saja."
"Jangan harap itu akan terjadi, aku tidak akan membiarkan itu."
"Sungguh nyaman, memelukmu dari belakang. Aku sangat merindukanmu,Simon."
Wanita tersebut telah memeluk Simon dengan gesit, kini dia telah mendekap punggung Simon dengan erat. Sedangkan Simon hanya pasrah tak bersuara lagi.
"Simon, pernahkah kau rindu padaku. Atau kau masih sering memikirkanku, atau juga kau masih mengharapkanaku, cepat katakan yang mana?" Rajuk wanita itu pada Simon.
"Uhuk ... uhuk ... cepat lepaskan aku, aku tidak bisa bernapas."
"Apa yang kau katakan Simon, aku memelukmu bukan mencekikmu."
"Cepat lepaskan, ini terasa semakin sesak." Seraya melepaskan tangan wanita tersebut, Simon begitu panik.
"Sayang, kenapa kau tidak mau menerimaku kembali menjadi kekasihmu."
"Kataku uhuk ... uhuk ... ce ... cepat lepaskan a ... aku, Sal ... sa."
"Baiklah, dengarkan baik-baik. Sekali lagi kau mengabaikanku kau akan mati."
__ADS_1
Sedang di sisi lain, wajah Simon begitu penuh keringat dan sangat panik.
"Simon, Simon, bangunlah."
"Aarrrgghhh ... hah, hosh ... hosh ... ."
"Simon, kamu bermimpi buruk lagi?"
"Aku di mana? Aku ... aku di mana?"
"Simon, minumlah. Tenangkan dirimu."
"Sandra, Sandra. Kumohon jangan tinggalkan aku." Sambil memeluk Sandra.
"Simon, apakah kau bermimpi wanita itu lagi?" ucap Kaisar pada Simon.
"Aku mau Sandra, jangan pergi." Sambil menenggak air minum.
"Simon, tenangkan dirimu. Aku tidak akan pergi ataupun meninggalkanmu," lirih Sandra sembari menenangkan Simon yang begitu panik.
Itu semua hanya ilusi semata, yang memang sudah diciptakan oleh orang lain. Sedangkan Simon sering terperangkap di dalamnya, tanpa dia sadari.
"Simon, hentikan ini. Sadarlah, apa yang sedang terjadi. Kita semua begitu khawatir terhadapmu, pintu ruangan kerjamu terkunci rapat. Sedangkan yang kutahu, ruanganmu tidak pernah kau kunci ketika jam kerja. Aku sudah menghubungimu bahkan menggedor-ngedor pintu, hingga tukang kunci pun sudah kupanggil. Namun, tetap tidak bisa dibuka, langsung saja kuhubungi Sandra. Akhirnya dia yang membukakan pintumu ini," jelas Kaisar kepada Simon dam Sandra.
"Aku pun tidak tahu, yang masih kuingat adalah aku sedang berada di rooftop menikmati malam dan secangkir coffe cappuccinoku," jawab Simon yang sudah terlihat baik.
"Sayang, dari tadi kamu hanya kejang-kejang dan batuk-batuk. Aku dan Kaisar begitu panik, sudah 15 menit kamu begitu," ucap Sandra yang begitu panik sekaligus khawatir.
"Memangnya, apa yang terjadi padaku. Kenapa itu semua hanya mimpi, sedangkan begitu nyata," tanya Simon sekaligus menjelaskan.
"Aku tidak tahu, tapi aku rasa ada kaitannya dengan wanita."
"Wanita? Maksudnya bagaimana Kak?"
"Iya, aku ingat. Dia memelukku, namun itu terasa mencekikku. Dia mirip dengan Salsa, ataukah dia memang Salsa."
"Salsa? Mantan kekasihmu?"
"Bukan, dia bukan Salsa. Aku rasa ada orang lain yang sedang mengincar keselamatanmu, Simon."
"Iya, dia mantan kekasihku. Tapi ini begitu mirip, dia bilang dia rindu padaku."
"Jelas, ini bukan Salsa. Dia telah menikah 3 tahun lalu, iya kan Simon."
"Benar, dia telah menikah. Dan aku rasa ini masuk akal."
"Lalu siapa? Wanita itu."
"Aku belum tahu, Sayang. Tapi akan segera aku temukan pelakunya."
"Serahkan semuanya padaku, Simon. Sekarang, pulanglah dan istirahat. Biarkan Sandra yang mengantarkanmu."
__ADS_1
"Terima kasih, Kaisar. Tapi aku memilih untuk tetap tinggal di kamarku, biarkan Sandra pulang bersamamu, aku akan baik-baik saja."
Kaisar dan Sandra saling tatap, mendengarkan ucapan Simon yang tidak biasanya. Ini semakin membuat Kaisar dan Sandra curiga, karena terasa ganjil dan berbeda. Sambil berlalu meninggalkan mereka berdua, Simon pun menutup pintu ruangan kerjanya.
"Sandra, apakah kamu pernah bercerita tentang kita kepada Simon?"
"Aku rasa Kakak sudah menceritakannya."
"Tidak, ini mustahil. Ayo kita pulang saja, biarkan Simon juga istirahat."
Kaisar dan Sandra pun pulang bersama, karena mereka adalah sepupuan, oleh sebab itu mereka tinggal bersama dalam satu atap.
Sedangkan Simon belum tahu perihal tinggal bersamanya mereka. Namun, malam ini Simon berbicara seolah-olah dia sudah mengetahuinya semua.
"Akhirnya kita telah sampai rumah juga, Kak."
"Iya, Sandra. Sekarang istirahatlah saja, jangan pikirkan hal-hal yang aneh mengenai Simon. Biarkan Kakak besok yang berbicara dengannya mengenai kita."
"Baiklah, segera istirahat juga, Kak. Aku tahu Kakak juga lelah, selamat malam Kak."
"Malam juga, Sandra."
Benarkah itu Simon yang berbicara, atau dia sedang dipengaruhi oleh halusinasinya sendiri. Ini tidak mungkin, jika Salsa kembali merebut Simon dari Sandra. Aku harus bisa melakukan sesuatu dan melindungi Simon, dan Sandra adalah mangsa berikutnya bagi Salsa.
Kenapa dia hadir di saat seperti ini, aku tidak akan mengampuni Salsa.
"Sugeng dalu, Mas Kaisar. Pripun pawartose?" Aroma dupa dan suara wanita jawa tiba-tiba terdengar begitu dekat.
"Sugeng dalu, pergilah. Aku tahu siapa kamu, jika tidak pergi sekarang juga maka ... ."
" Aaaaarrrkkkhhh ... Kakak ... ."
Belum sempat melanjutkan pembicaraannya, Sandra berteriak histeris, membuat Kaisar bergegas ke kamar Sandra.
Info Novel*
Sugeng dalu: Selamat malam.
Mas: Sebutan kakak laki-laki.
Pripun pawartose: Bagaimana kabarnya.
Halo Readers apa kabar?
Wah maaf ya nunggu lama, karena masih direfisi.
Terima kasih yang sudah mau mampir, ingat jangan lupa jejaknya yah.
Salam Author,
@beeh_nda
__ADS_1