
"Tapi Tan, nggak apa-apa kalau saya Yang antar? Tante kan tahu keponakan Tante itu keras kepala?" Al ragu karena selama ini Calista selalu cuek. Al yang mengatakan itu tidak sadar bahwa Calista mendengarnya.
"Sudah nggak apa-apa. Ayo kita temuin Calista." ajak Tante Sarah. Di ruang tamu Calista tengah bersiap-siap.
"Eh Tante mau pamit dulu Tan, takut keburu larut malam." pamit Calista menyalami tangan Tante Sarah. Melihat itu Alvaro juga mengulurkan tangan namun langsung ditepis oleh Calista. "Ngapain sih pake ngulurin tangan juga."
"Belajar jadi calon istri yang berbakti." iseng Al
"boooosann"
"Tan pamit dulu sehat-sehat ya Tante. salam sama Aldo kalau dia sudah pulang." Lanjutnya.
"Cal, tunggu nak. kamu ngga baik pulang malam-malam sendiri biar Al yang antar karena Aldo nggak ada." tawar Tante Sarah.
"nggak usah Tante makasih. Tadi saya datang sendiri juga kok Tan."
"iyaa tapi beda nak ini sudah malam, waktu kamu datang tadi itu masih ada matahari, sedang ini sudah gelap gulita. pokoknya kamu diantar Alvaro saja ya ngga boleh nolak. bahaya anak gadis keluar malam-malam sendiri ." Tante Sarah panjang lebar menasehati.
Calista berpikir, ingin menolak tapi tidak enak hati. Apalagi tadi ia juga sebenarnya takut waktu Tante Sarah mengatakan bahwa anak perempuan tidak baik jalan sendirian meskipun jaraknya lumayan dekat.
__ADS_1
Disisi lain ia juga tidak mau dibonceng oleh Al padahal harusnya ia senang bisa berdekatan dengan orang kita sukai.
karena melihat Tante Sarah ia pun menurut saja. begitulah Calista yang selalu luluh dengan perkataan orang tua.
"Iya deh Tante saya ikut Al saja." melirik Al yang tersenyum simpul.
Al pun pamit "saya antar di tuan putri dulu Tante"
"Iya hati-hati kalian"
tanpa diduga Al langsung menggenggam tangan Calista membawanya ke motornya namu ditepis lagi oleh Calista.
"Dasar gadis jutek." cicit Al namun masih didengar Calista.
"Biarin aja" jawabnya santai
Saat sampai di dekat parkiran Calista melihat motor Alvaro dan langsung bertanya. "Mobil Lo dimana?"
"Mobil gue? gue nggak bawa mobil ke sini Cal, gue naik motor"
__ADS_1
"tapi gue nggak bisa naik motor itu, terlalu tinggi buat gue dan lagi itu di belakang tempat duduknya perhatikan deh kok dikit banget mana miring lagi. Lo mau modusin gue?" tebak Calista melihat jok motor Alvaro padahal motor gede memang seperti itu.
Alvaro yang mendengar itu langsung tepuk jidat bisa-bisanya Calista bisa berpikir sampai segitunya padahal di otak Alvaro tidak ada pikiran modus sedikit pun..
Menarik nafas "hufft Cal gue ke sini sebelum Lo datang dan ngga pernah tahu kalau gue bakalan anterin Lo? jadi darimananya gue mau modusin Lo?"
Mendengar itu Calista membenarkan, dengan tersenyum paksa "hehe iya juga ya. Maaf mana gue tahu. Tapi gue tetep ngga bisa ikut Lo ngga apa-apa kan ? Tante Sarah juga sudah masuk."
Mendengar itu Al tetep kekeh mau mengantar Calista karena sejujurnya ia juga khawatir dengan gadis itu di saat malam begini.
Saat Calista sudah bejalan keluar garasi , Alvaro tidak kehabisan ide ia menawarkan hal Yang sedikit gila. "Bagaimana kalau gue antar Lo jalan kaki saja Lo berjalan di depan gue di belakang? Dengan begitu Lo aman." Al mengalah demi kenyamanan Calista
"Gue bisa sendiri Al, nggak usah khawatir deh. Nanti Lo capek balik lagi." jujur Calista
" sudah nggak apa-apa, ayo jalan!"
Malam sudah semakin berlalu jika berdebat terus kapan sampainya. Akhirnya Calista mengalah dan mereka jalan berdua dengan Alvaro yang mengikut di belakang Calista.
Dan kejadian itu disaksikan oleh sepasang mata yang tengah tersenyum getir, Aldo tengah memperhatikan mereka. Iya Aldo sebenarnya tidak sedang keluar ia hanya meminta mamanya berpura - pura. Ia tahu kalau kedua sahabatnya itu memiliki rasa yang sama meskipun Aldo bisa saja egois tapi ia sadar bahwa Cinta tidak bisa dipaksakan.
__ADS_1
"