
"Cal menurut Lo Al itu gimana?" tanya Aldo
"Gimana apanya?" Calista balik bertanya. Bersikap tenang seperti biasanya.
"Ya Lo ada feeling nggak sama si Al? maksud gue Lo ada rasa suka gitu" kembali memelankan motornya agar bisa mendengar jelas jawaban Calista. Karena selama ini Aldo tahu Calista belum pernah dekat sama siapapun atau bahkan tertarik pada siapapun. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk belajar.
Pandangan Calista lurus ke depan. Ia tengah menenangkan hatinya sendiri. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya pada Alvaro. Dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, hidupnya sudah ada pada buku-bukunya. Jadi bagaimana bisa ia menjelaskan perasaannya sedang ia saja tidak paham.
"Cal?" panggil Aldo namun yang punya nama masih terjebak dalam lamunannya. Dipanggil berkali-kali tanpa ada respon membuat Aldo geram sendiri. Ia merem mendadak, membuat orang yang diboncengnya kaget.
"Aldooooo. kok Lo rem mendadak sih ? gue kaget tahu. Kalau gue jatuh gimana?". Calista melayangkan protesnya disertai tangan yang memukul Penggung Aldo.
"Ssstt.. sakit Cal. Tangan Lo itu nggak disekolahin apa, main pukul sembarangan. Lagian gue itu dari tadi ajak Lo bicara tapi Lonya aja yang budek. Lo ngelamunin apa sampai-sampai nggak ngerespon gue?" Aldo memberenggut kesal padahal dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba kesal biasanya kalau Calista memukulnya ia hanya merasa biasa-biasa saja tapi kali ini ia merasa ada hal yang berbeda.
"Apaan sensi banget Lo. Gue nggak ngelamun ya, gue... gue cuma pura-pura nggak denger Lo aja. hahah". elak Calista karena ia juga bingung mau jawab apa.
__ADS_1
"Bilangnya nggak tapi nyatanya memang melamun. Dasar !" kembali melajukan motornya.
"Cal?" panggil Aldo lagi.
"hmm apa?" jawab Calista berharap Aldo tidak bertanya lagi. Calista seprti tidak tahu saja Aldo bagaimana, jika belum mendapatkan jawaban yang puas maka jangan harap ia bisa diam.
"Apa? Lo belum jawab pertanyaan gue." memutar matanya jengah
"Pertanyaan yang mana?" Calista pura-pura lupa
"Oh. yang itu." Calista kembali terdiam setelah ber oh ria.
"Oh doang? jawab Cal! Lama-lama Lo ngeselin juga." kesal Aldo
Calista yang menyadari itu kalau Aldo tengah benar-benar kesal mencoba menenangkan hatinya dan berusaha menjawab pertanyaan Aldo.
__ADS_1
"Ciee yang ngambek, okok gue jawab. Lagian Lo kepo banget padahal itu kan privasi gue." jawaban Calista sambil menoel pipih Aldo.
"Santai seperti di pantai, gue bukan cewek-cewek yang suka ngambek ya. Lagian lo berbelit -belit banget. Gue cuma mau mastiin kalau Lo nggak jatuh pada orang yang salah. Lo sepupu gue dan kewajiban gue jaga Lo. kalau ada apa-apa gue juga yang repot, Tante bakalan marah-marah ke gue kalau sampai terjadi apa-apa sama Lo. Ngerti?" jelas Alvaro panjang lebar dengan nada serius.
"heheh iya iya, serius banget. Jadi Lo mau tahu bagaimana perasaan gue?" tanya Calista lagi yang membuat Aldo harus benar-benar punya stok sabar banyak-banyak.
"Ya elahhh, Lo nanya lagi? gue dari tadi nanya itu Bambang. Lagian lo harus tahu ya Alvaro itu sosok laki-laki baik, bertanggung jawab dan juga penyayang. Banyak yang deketin dia tapi ngga direspon tuh. Lo tahu itu artinya apa? itu artinya Al itu bukan laki-laki yang suka tebar pesona atau ganjen sama cewek, istilahnya playboy." Aldo mendeskripsikan Al dengan begitu baik.
"Trus?"
" hufft... Ya gue ngomong gini bukan berarti karena Al Sahabat gue, bukan. Gue ngomong faktanya dia sosok lelaki yang baik dan tanpan juga. Cocok kok sama Lo yang jelek. Jadi itung-itung memperbaiki keturunan. Jadi kalau Lo suka, itu nggak apa-apa gue dukung kok" Aldo menetralkan kembali perasaannya setelah menjelaskan pada Calista. Rasanya tiba-tiba sesak dan terasa aneh tapi ia mengabaikan rasanya itu.
Mendengar penjelasan Aldo diam-diam Calista membenarkan semua perkataan Aldo kecuali yang mengatakan dia jelek.
" Do, sebenarnya gue....
__ADS_1
"