
"Cal, itu si Al uuu..-" Aldo berteriak dan langsung dibekap mulutnya oleh Alvaro. Aldo melihat sipelaku sedang melototkan matanya.
"huss, okok gue turutin mau Lo." Aldo yang melihat itu tersenyum senang. "Nah gitukan enak." segera melepaskan tangannya.
"apa mau Lo? cepat bilang." Alvaro tidak sabar mendengar permintaan Aldo.
"kerjain tugas matematika gue selama seminggu.". mendengar itu Alvaro kembali melototkan matanya.
"Gue ngga salah dengar? apa-apaan Lo, seminggu itu bukan waktu sebentar bege." protes Al
"Ya gimana dong gue kan capek Al ngerjain soal matematika itu. semuanya ribet." keluh Aldo
Aldo memang tidak suka matematika. Menurutnya matematika itu mempersulit hidupnya. Harus menghafal banyak rumus padahal kan yang dipakai di dunia nyata itu cuma penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Jadi untuk apa banyak-banyak tahu rumus ngga kepake juga di dunia nyata. Apalagi Fisika yang berkerabat dekat dengan matematika, bahkan kelapa yang jatuh pun mau dihitung. menurut Aldo untuk apa? menguras tenaga saja.
"Mending Lo berhenti sekolah aja deh Do. " saran untuk sahabatnya yang tidak ingin repot
__ADS_1
Aldo mendengar itu langsung meninju pelan lengan Alvaro. " Gila Lo. Ngga gitu juga kali Al. Gue juga masih mau sekolah. lagian kalau ngga, mau jadi apa gue di masa depan. Jadi pengemis di elo? mau?"
"ya enggak lah." dijawab langsung oleh Aldo .
"makanya belajar. kalau Lo ngga belajar hari ini mau jadi apa Lo besok-besok. Lagian ya Lo ngga pernah dengar apa pepatah yang mengatakan jika hari ini kamu tidak bisa menahan lelahnya belajar maka di masa depan kamu harus tahan perihnya kebodohan." Alvaro tiba-tiba menjadi penasihat bijak karena tingah absurd temannya itu.
"Iya. iya tahu. Gue akan rajin belajar tapi untuk seminggu ini gue rehat dulu deh. Mumpung ada aja kesempatan." kata Aldo tersenyum lebar.
"Dasar. ok cuma seminggu doang ya setelahnya Lo harus rajin belajar. Lihat tuh sepupu lo jadikan dia contoh nilainya selalu bagus. Juara umum trus lagi. Gue jadi ragu kok Lo bodoh ya padahal punya sepupu yang pintar banget." Alvaro pura - pura berpikir.
sementara mereka terus berdebat Tante Sarah memanggil mereka untuk makan malam bersama.
"Aldo panggil Alvaro makan nak, semuanya sudah siap."
Aldo yang mendengar itu langsung menarik sahabatnya.
__ADS_1
sementara itu di ruang makan Calista ingin berpamit pulang setelah membantu mama Aldo menyiapkan makanan. "Tan, karena semua sudah siap saya pamit dulu."
Alvaro dan Aldo yang baru sampai mendengar itu. "Makan bareng dulu Cal baru Lo pulang." suara Aldo
"Iya nak ayo makan dulu, lagian kamu ngga usah malu toh hanya ada mereka berdua. Dan kebetulan papa Aldo ada di luar kota jadi Tante ngga merasa sepi deh ada kamu." Ajak Tante Sarah
Calista yang mendengar itu juga tidak enak hati menolak meskipun ia tidak suka berdekatan dengan Alvaro karena merasa tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
saat di meja makan Aldo dan Alvaro kembali usil pada Calista.
"Cal ini nasi buat Lo, dan juga ikannya" Aldo memberi piring yang sudah diisi. Melihat itu Alvaro juga tidak ingin ketinggalan mengusili Calista.
"ini juga cal ayam gorengnya enak banget plus acarnya Tante Sarah bbehh enak banget." Melihat tingkah mereka membuat Calista membulatkan matanya. Mau menolak tidak enak pada Tante Sarah yang hanya tersenyum dan menegur anaknya.
Alhasil penuhlah piring. Mereka makan dengan tenang meskipun sekali Aldo mengusili Calista dibantu Alvaro. Membuat Calista marah-marah adalah hal yang menyenangkan apalagi dalam kondisi seperti ini ada Tante Sarah jadi Calista harus menekan egonya, memaksakan senyum manisnya.
__ADS_1