Unexpected Loves By Kim Honey

Unexpected Loves By Kim Honey
Draft


__ADS_3

"Maksud om?" tanya Al.


"Jika kamu menyukai perempuan yang independen, maka yang menjadi lawanmu bukan lagi orang ketiga, tapi kamu berhadapan dengan egonya," jawab ayah Calista.


Mendengar itu, Al menatap serius ayah Calista. Calista memang wanita dengan karakter kuat, mandiri, dan tegas sehingga tidak semua orang bisa mendekatinya.


"Om tahu kamu suka anak om. Dan om merestui itu. Om melihat kamu sosok yang baik jadi berjuanglah. Al, kamu harus tahu bahwa Calista adalah anak om satu-satunya. Meskipun begitu, dia bukan gadis yang manja. Dia berbeda, gadis yang mandiri, keras kepala, punya pikiran sendiri, punya keinginan yang kuat. Jadi, banyak-banyak sabar. Dan kamu harus tahu juga bahwa Calista begitu karena ingin fokus dengan cita-citanya. Ia akan menyingkirkan semua hal yang bisa mengusik fokusnya."


Ayah Al menjelaskan begitu banyak pada Alvaro, lelaki pertama yang berhasil membuatnya yakin satu hal.


"Tapi Al, sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu. Pergilah raih cita-citamu dan kembali dengan sesuatu yang bisa membuat Calista yakin dengan kamu. Kamu tenang saja, om yang akan menjaganya. Kalau jodoh, nggak bakalan kemana, kan?"

__ADS_1


"Sudah, masa laki-laki cengeng. Pulanglah, benahi semuanya dan persiapkan masa depan yang lebih cerah," lanjut ayah Calista.


Mendengar nasehat dari calon mertua yang jelas-jelas sudah memberi lampu hijau, membuat Al kembali bersemangat. Ia yakin bahwa apa yang ditakdirkan untuknya tidak akan pernah meninggalkannya. Tugasnya adalah berusaha menjadi dan meraih masa depan yang lebih cerah.


"Hmmm, baik om. Dikemudian hari aku akan kembali, om. Terima kasih atas nasehat dan motivasinya," kata Al.


"Iya, sama-sama. Begitu dong, jadi anak muda harus bersemangat. Jangan seperti tadi kehilangan harapan hanya karena satu wanita," jawab ayah Calista.


"Hehe, iya om.. maaf, ini boleh titip kotaknya untuk Calista, om? Soalnya ini memang untuk dia," lanjut Alvaro menyerahkan kotak yang ditolak Calista tadi.


"Baik om. Saya pamit dulu," ucap Al sambil menyalami tangan ayah Calista.

__ADS_1


Hendra, ayah Calista, menatap bangga pada Al dan tersenyum melihat kotak yang ia pegang.


Sementara itu, Calista yang bersama ibunya tengah menangis tersedu-sedu.


"Sudah nak, nanti mata kamu bengkak. Sebenarnya kenapa nggak jujur tadi, nak? Mama lihat Al anaknya baik. Dan kalau mama tidak salah, kamu juga ada rasa dengannya," kata ibu Calista.


Mendengar itu, Calista menatap mamanya dan kembali menangis. "Iya ma, harusnya Calista jujur dengan Al. Harusnya Calista bilang Calista juga suka sama Al. Tapi kenapa, ma? Susah banget bilang itu. Tapi..." tiba-tiba Calista berpikir, "harusnya kan Al sudah tahu, ma. Masa mama bisa tahu, dianya nggak." Tiba-tiba ia bersungut-sungut dan mulai emosi, kembali ke mode Calista sebelumnya.


Mama Calista yang melihat itu, tepuk jidat. Bisa-bisanya anaknya itu berubah ekspresi lagi. "Kamu harus tahu nak, ada beberapa hal yang memang butuh pengakuan, misalnya tentang perasaan seseorang. Meskipun perilakunya mencerminkan dia menyukaimu, jangan pernah menyimpulkan hal demikian sebelum ia mengungkapkan padamu. Karena bisa jadi, ia baik ke semua orang. Jadi, mungkin saja Al merasakan, namun ia ingin tahu langsung dari kamu kebenarannya."


Mendengar nasihat sang mama, Calista tiba-tiba teringat dengan beberapa hari yang lalu saat Al bertanya hal yang sama padanya, namun ia tetap tidak mengakui. Ia sekarang sadar bahwa seharusnya ia mengakuinya sebelum terlambat.

__ADS_1


"Baik ma. Kalau begitu, besok aku akan mengakuinya," kata Calista sambil menghapus jejak air matanya dan kembali bersemangat. Ia sudah tidak tahan, ternyata memendam itu menyakitkan, seperti terjepit.


Namun, Calista lupa akan sebuah hal. Besok, Alvaro sudah tidak akan ada lagi. Besok, sosok yang selalu ia hindari untuk menyembunyikan rasanya. Subuh nanti ia akan berangkat, lalu bagaimana Calista bisa mengungkapkan semua hal yang ia pendam selama ini?


__ADS_2