
Setelah makan malam Calista membantu bibi mencuci piring.
"Neng tidak usah. Biar bibi saja." tolak bibi tidak enak hati membiarkan keponakan majikannya melakukan itu meskipun sudah menjadi hal biasa baginya.
"Tidak apa-apa bi saya sudah biasa kok. " tidak berselang lama Aldo dan Al menyusul. "hai bi biar kami yang bantu Calista aja bi. Bibi kerjakan yang lain saja."
"Tapi den, "
"Tidak apa-apa bi. Ada kami berdua kok."
Melihat itu Calista menjadi malas sendiri apalagi tadi saat makan ia menjadi kekenyangan.
__ADS_1
"Cal sini gue bantuin Lo itung-itung permintaan maaf kita. iya kan Do?" bujuk Al karena melihat wajah Calista yang tidak bersahabat.
Aldo mulai mendekat karena melihat Calista tidak merespon. Saat sampai di dekat Calista Alvaro langsung mengambil kain yang dipakai untuk mencuci piring dan tanpa sengaja ia memegang tangan Calista. Pandangan mata mereka bertemu. Aliran darahnya kian meningkat seperti detat jantungnya saat ini.
Melihat itu Aldo sadar bahwa mereka memiliki rasa yang sama hanya saja gengsi keduanya begitu kokoh. Aldo yang memang baru-baru menyadari juga perasaannya lekas menghapus semuanya. Mereka sepupu dan mereka tidak bisa jika ingin menikah mengingat prinsip Calista.
"Hmmm.... sampai kapan kalian mau pegangan tangan? " tegur Aldo
"Alvaroooooo, dengan mata melotot. "ngapain Lo perciki gue air? kan basah. Awas Lo ya, nih rasain. haha tuh rasain Al" Calista berusaha membalas Alvaro hingga membuat suasana tempat cuci piring itu semakin berantakan oleh sabun dan percikan air dimana-mana.
"Cal sudah, sudah. Gue nyerah." Alvaro berpura-pura menyerah melihat Calista begitu riang membalaskan dendamnya. Alvaro berfikir "Cal jika saja Lo selalu seperti ini ke gue? kenapa sih Lo hanya bisa begini jika nggak sadar?" tanyanya lagi dalam hati.
__ADS_1
Calista memang akan mencair ketika ia tidak sadar. Ia sebenarnya begitu nyaman berada di dekat Alvaro seperti saat ia dekat dengan Aldo. Hanya saja rasa untuk keduanya berbeda. Di dekat Aldo ia merasa selalu dilindungi dan nyaman karena sepupunya sedangkan bersama Alvaro ada rasa nyaman juga dengan waktu yang bersamaan ia selalu ingin bersama dalam waktu yang lama. Lagi ia akan merasa jengkel ketika Alvaro berbicara dengan cewek lainnya.
Tapi lagi-lagi rasa gengsi yang membuatnya menghindar. Ia terlalu pemalu untuk mengakui. Ini adalah kali pertama ia tertarik dengan seorang laki-laki. Dan juga sebenarnya ia takut jatuh cinta yang bisa membuatnya tidak fokus atau bahkan menjadi sebab luka dalam hatinya.
Menyarari mereka bercengkrama ria buru-buru Calista kembali ke mode cuek. " Al, sudah biar gue aja yang terusin Lo cari Aldo sana dan bilangin ke dia sudah ini anterin gue pulang."
Al yang tidak ingin menambah masalah ia pun bergegas ke kamar Aldo. Tapi belum sampai di kamar Aldo ia bertemu dengan Tante Sarah. "mau kemana Al?"
"mau ke kamar Aldo Tan soalnya katanya Calista mau diantar pulang selesai habis cuci piring." jelas Alvaro sebenarnya
"Aldonya lagi keluar nak, Tante suruh beli sesuatu dulu dan kemungkinan agak lama jadi kamu saja ya yang antar Calista pulang." jelas mama Aldo.
__ADS_1
"tapi Tan,