
" Do, sebenarnya gue...." Calista berhenti sejenak sebelum melanjutkan jawabannya. Dan tanpa diduga-duga oleh Aldo, Calista kembali memukul bahunya.
Plakkk.. bunyi bahu Aldo yang dipukul Calista. " hahah serius banget Lo Do." Calista berusaha mencairkan suasana hatinya sendiri."
"hmm... Cal..?" Nada peringatan dari Aldo.
"iya iya, serius banget. Jadi gini sebenarnya perasaan gue ya, biasa aja. jadi nggak gimana-gimana. Gue nggak punya perasaan apapun ke Al. Gue anggap Al itu teman biasa aja." Jelas Calista berusaha tenang
"Cal, Lo nggak bohong kan?" Aldo kembali mempertanyakan jawaban Calista yang dianggapnya terlalu bertele-tele.
"Iyalah.! Ngapain coba gue bohong ke Lo." Dengan nada ketus Calista kembali menjawab pertanyaan Aldo. Tentu saja jawaban ketus itu sebagai pengalihan dari perasaan aneh yang ia juga tidak tahu itu.
"hmm, santai aja kali Cal. Tapi, kok gue ngga percaya sama Lo." Masih merasa janggal dengan jawaban Calista.
"Ya sudah kalau nggak percaya." pasrah Calista. Di dalam hati Calista sebenarnya gue juga nggak tahu Do bagaimana perasaan gue ke Al, mungkin rasa kagum itu ada tapi kalau rasa suka, gue nggak ngerti.
__ADS_1
Calista tidak tahu saja kalau rasa suka itu berawal dari rasa kagum. Jangan menganggap sepele sebuah rasa karena terkadang ia datang dan menetap tanpa kita duga sebelumnya. Ingin mematikan namun ia terlanjur tumbuh subur dan kuat di sana. Bisa dibayangkan bagaimana rasa sakitnya ketika ingin mencabut sesuatu yang sudah tertanam kuat.
"Cal, tapi bagaimana kalau Al suka sama Lo? gue punya feeling kalau dia tuh sebenernya suka sama Lo tapi belum menyadarinya saja." Aldo kembali menembak
"Cal kalau seandainya Aldo nem..." belum sempat Aldo meneruskan perkataannya Calista sudah memotongnya.
"Yesss sudah sampai ni Do, gue turun dulu. bye Aldo thanks ya. Lo ngga usah mampir langsung pulang gih. itu Tante udah di depan rumah Lo tuh nungguin anak kesayangannya." ledek Calista sambil berjalan masuk gerbang rumahnya.
Saat akan masuk Aldo teriak lagi "gue masih punya pertanyaan Cal, Lo main pergi-pergi aja."
Calista berbalik tapi sebelum menjawab mamanya datang. " Eh nak Aldo mampir dulu nak."
" Aldo sana pulang gue mau istirahat. bye Aldo" Calista menutup pintu rumahnya meninggalkan Aldo dan mamanya.
"Maafkan Calista ya Aldo, anak itu sudah besar tapi masih saja suka semaunya. Belum dewasa juga padahal sudah mau lulus. Ampun mama Do". mama Calista geleng -geleng kepala melihatnya.
__ADS_1
"heheh nggak apa-apa Tan, sudah biasa. saya pamit dulu Tante." Aldo tersenyum dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"iyaa, salam sama mama kamu. Bilang ke mama kamu tungguin masakan buatan Tante ya. Nanti Calista yang bawa ke rumah."
"wahh, pasti enak. ok Tan saya pamit dulu. permisi tan. bye" melambaikan tangan tersenyum sopan.
Begitulah keseharian Calista dan Aldo selalu ada perdebatan kecil namun mereka tetap sahabat sekaligus sepupu yang solid. Calista akan sering membawakan makanan ke rumah Aldo ketika sang mama sudah memasak menu baru.
saat masuk ke dalam rumah Calista sudah berada di meja makan. Memakan masakan mamanya yang enak.
" eh mama, ini menu baru ma? rasanya enak banget. mama yang terbaik deh pokoknya." Calista mengangkat jempolnya dengan mulut masih penuh makanan tapi tetap bisa tersenyum.
"hmm ya sudah, makan yang banyak sudah itu antarkan juga ke Tante Sarah ya." titah sang mama sebelum masuk ke dalam kamarnya.
"iya ma siap." Calista kembali memakan makanannya.
__ADS_1
Setelah Calista makan ia bersiap-siap ke rumah Aldo. Ia belum tahu saja ada siapa di rumah Aldo sekarang.
Beberapa orang sering bertanya, mengapa ketika kita semakin menjauhi seseorang makan orang itu akan sering kita temui. Karena takdir akan menemukan jalannya sendiri.