Unlikely Pair

Unlikely Pair
Teman-Teman Baru


__ADS_3

Chloe dan Jack bersama-sama mengikuti kelas ecoprinting. Ketika mereka tiba di studio seni itu, mereka berdua disambut oleh Mrs Hubert, seorang guru wanita muda nyentrik. Mrs Hubert menjelaskan tentang teknik ecoprinting yang melibatkan pencetakan motif dari daun dan bunga ke atas kain. Chloe dan Jack mendengarkan dengan saksama, dan kemudian mulai mengikuti langkah-langkah yang dijelaskan oleh Mrs Hubert.


Chloe dan Jack memperhatikan beberapa teman sekelas mereka yang sedang mencoba mencetak kain dengan pola yang berbeda-beda. Mereka melihat Hugo yang sedang mencetak menjadikan daun palem sebagai cetakan, sedangkan teman sekelas mereka yang lain, Lisbet, sedang mencoba mencetak pola dengan bunga mawar.


"Idemu boleh juga! Bagaimana kamu bisa terpikirkan cara ini?" tanya Chloe dengan antusiasme pada Hugo. Oarng-orang dengan kreativitas tanpa batas selalu membuat Chloe kagum.


Hugo tersenyum dan menunjukkan prosesnya pada Chloe dan Jack. Mereka berdua memperhatikan dan mengikuti instruksinya, memperhatikan setiap detail agar hasilnya terlihat lebih baik.


Dari mejanya, Lisbet menoleh dan berkata, “Chloe! Lihat deh, aku membuat pola dengan bunga mawar. Ini rumit tapi hasilnya sepadan,”


Chloe mendatangi meja Lisbet dan melihat hasil karya temannya itu. " Cantik sekali! Bagaimana kamu membuat mawar merah itu mengeluarkan warnanya?" tanya Chloe, sambil mengagumi pola yang dibuat Lisbet.


"Aku menumbuk bunga mawar itu dengan lumping batu. Kalau dengan mortar dan pestle, yang terbuat dari porselen, warnanya hanya merah saja. Pasir-pasir bebatuan dari lumping batu turut memberi warna, sedangan mortar porselen tidak.” Jelas Lisbet. Gadis itu memang mengambil ektrakulikuler penelitian kimia.


Lisbet melanjutkan penjelasannya, “Lalu, aku mengikat kain dengan benang dan mencelupkannya ke remukan bunga mawar itu," jelas Lisbet bangga.


Teman-teman Chloe lainnya mulai berbagai pengalaman bagaimana mereka bisa menggunakan teknik ini dalam pekerjaan seni mereka. Mereka antusias mengajari Chloe dan Jack—Si anak baru di kelas ecoprinting ini. Mereka saling bertukar ide dan menunjukkan hasil karya mereka satu sama lain.


"Aku mencoba mewarnai kain dengan menggunakan bunga matahari," kata Sarah. “Kebun Botani sekolah sedang musim bunga matahari. Kupikir sayang sekali bunga matahari itu akan layu begitu saja.”


"Ide bagus! Bagaimana kalau untuk proyek di panti asuhan, kita membuat proyek kolaborasi menggunakan warna bunga matahari dan mawar?" celutuk Emma antusiasme.


“Lalu untuk memberikan gambaran pada teman-teman panti asuhan, karya mereka akan digunakan sebagai apa?” tanya Chloe. Dia masih sedikit pesimis, ecoprinting tidak menarik bagi anak-anak remaja di luar sana. Mungkin sedikit memberikan gambaran adanya nilai ekonomis dari project ini bisa membangkitkan semangat para remaja itu.


“Kupikir anak-anak kelas desain yang akan mengolahnya. Tapi memang sebaiknya mulai kita ceritakan juga manfaat ekonominya, agar para peserta workshop tertarik,” Emma sebagai pemimpin proyek ini meminta saran dari teman-temannya. 


"Kita bisa membuat tas bekal dengan pola yang dibuat oleh kita semua," ujar Dena.


“Dibuat menjadi pashmina atau scarf juga bisa. Mudah pula menjahitnya,” sahut Letta.

__ADS_1


“Dan sisa-sisa kainnya bisa dibentuk bulatan kecil-kecil atau dibungkuskan pada manik-manik. Jadilah kalung, anting atau gelang,” cetus Jack tiba-tiba.


“Wuihh… hebat juga ide itu!” seru Emma takjub. “Sepertinya anak kelas desain pun belum pernah memikirkan ide ini. Nanti akan aku informasikan pada mereka,” kata Emma senang. “Bagaimana kamu bisa terpikirkan hal itu?”


Jack mengangkat bahu, “Entahlah. Terlintas begitu saja di benakku.” Sesungguhnya, sedari tadi Jack berpikir keras ingin memberikan kenang-kenangan untuk Chloe sebagai penanda mereka pernah bersenang-senang bersama di kelas ecoprinting.


Teman-teman klub ecoprinting terlihat antusias dengan ide kolaborasi ini. Mereka memutuskan untuk memulai proyek kolaborasi tersebut dan membuat rencana lebih detail agar mudah diterapkan oleh para remaja di panti asuhan nanti.


Setelah kelas berakhir, Chloe dan Jack pulang dengan semangat dan ide-ide baru untuk proyek kolaborasi mereka. Mereka berbicara tentang proyek tersebut dan tak sabar menunggu esok sore.


Keesokkan harinya, Chloe, Jack, dan teman sekelas mereka bertemu di Taman Botani. Taman Botani Sekolah Arcadia adalah taman yang luas dan rindang tempat koleksi tanaman Arcadia yang digunakan untuk menunjang pendidikan dan penelitian. Taman itu dikelilingi pepohonan tinggi nan rimbun dan berbagai jenis bunga-bungaan yang mekar cantik, serta ada area khusus tanaman-tanaman langka dan eksotis.


Chloe dan teman-temannya berjalan di jalan setapak terbuat dari lempengan batu alam yang disusun sedemikian rupa.  Jalan itu diapit oleh pohon bunga nusa indah pink dan putih, di bagian bawahnya, bunga matahari berbaris rapi. Ada bangku-bangku kecil yang tersebar di beberapa tempat di Taman Botani, tempat sempurna untuk menikmati keindahan Taman Botani.


Susana Taman Botani sangat tenang dan damai. Terdengar suara gemercik air dari sebuah kolam kecil, yang dihiasi oleh batu-batu besar dan lotus pink, kuning, ungu dan putih. Di sudut-sudut taman, terdapat lampu-lampu taman bulat dengan tiang-tiang tinggi.


Chloe dan teman-temannya merasa sangat terpesona dengan keindahan Taman Botani tersebut. Mereka berjalan dengan santai, sambil memperhatikan dengan saksama setiap tanaman dan bunga yang tumbuh di sana. Walaupun tujuan utama mereka adalah memetik bunga matahari, mereka juga mencari-cari siapa tahu ada bunga lain yang warnanya bagus digunakan sebagai pewarna alami.


" Itu bunga kenanga. Apa bunga kenanga juga bisa digunakan untuk pewarna?" tanya  Chloe, sambil menunjuk ke arah bunga kenanga yang berguguran di taman.


“Entahlah. Dicoba saja. Kita tidak tahu hasilnya jika tidak mencoba, kan?” sahut Jack sambil memungut sekuntum bunga kenanga kuning dan memberikannya kepada Chloe.


“Tidak horor?” Chloe bergidik.


Jack tertawa, “Kalau kamu memakannya sambil menyalakan dupa, itu baru horor.”


Chloe tertawa lepas. Ini untuk pertama kalinya Jack melihat Chloe melepaskan beban nilai-nilai pelajarannya. Rupanya tidak sia-sia mengajak Chloe mengikuti kelas ini. 


"Apa aku harus mencoba mencetak pola dengan menggunakan daun pisang?" tanya  Pascal menunjuk pohon siang di depannya.

__ADS_1


“Ketimbang daunnya, kupikir lepih baik kamu menggunakan batang pelepahnya. Dia memiliki rongga. Kalau kamu menggunakannya seperti kita menggunakan cap, kita akan mendapatkan pola unik dari rongganya. Tinggal dibentuk sesuai gambar yang kita mau,” Emma menjelaskan.


“Sepertinya kamu tahu banyak, Em,” puji Chloe.


“Aku pernah bermain-main cap batang pelepah pisang dengan nenekku,” sahut Emma. Disambut anggukan Chloe dan Pascal.


"Ide cap batang pelepah pisang itu bagus juga! Kita bisa mencobanya. Bagaimana, Em? Kupikir hasilnya akan sangat bagus," ujar Pascal.


“Boleh juga. Nanti aku akan minta tolong tukang kebun mengambil batang pelepah pisang,” kata Emma.


Mereka pun terus berjalan dan mencari bahan-bahan alami yang dapat mereka gunakan. Sementara itu, mereka juga terus berbicara tentang ide-ide mereka dan saling memberikan dukungan satu sama lain.


"Sepertinya kita perlu daun pandan untuk membuat warna hijau" ujar Sarah.


“Oh ya, betul juga,” kata Emma. Sarah pun memetik sepuluh lembar daun pandan. Tanaman pandan itu sudah tua usianya sehingga menjulang tinggi dan pucuk-pucuk daunnya telah dipenuhi pagoda kuncup-kuncup bunga. Nanti malam, kuncup-kuncup itu akan mekar dan menyebarkan aroma sangat harum. Menjelang pagi, bunganya akan kuncup dan gugur. Di bagian lain, ada bulata-bulatan kecil berwarna hijau dan merah. Itu biji pandan.


"Aku menemukan daun jati! Daun jati pasti bisa digunakan untuk mencetak pola yang indah," kata Jack.


“Kupikir lebih baik digunakan sebagai pewarna, akan bagus sekali. Warnanya akan menjadi cokelat kemerahan,” Emma menjelaskan.


“Astaga… Emma, kamu benar-benar tahu banyak tentang ecoprinting! Kamu benar-benar pantas memimpin proyek ini,” puji Jack tulus.


Emma tersipu-sipu malu dan merendah, “Aku cuma membacanya di internet.” 


"Ayo, kita gunakan daun jati," kata Chloe, sambil mengambil beberapa lembar daun jati untuk digunakan nanti.


Setelah beberapa saat berjalan-jalan dan mencari bahan-bahan alami, mereka akhirnya berhasil mengumpulkan banyak dedaunan, dan bunga yang dapat digunakan untuk mencetak kain. Mereka semua merasa senang dan terus berbicara tentang ide-ide mereka untuk menciptakan karya seni yang unik dan menarik.


"Terima kasih, teman-teman! Kalian semua hebat," kata Emma, sambil tersenyum pada teman-temannya.

__ADS_1


"Sama-sama, Em! Kita semua bekerja sama menciptakan karya seni yang indah dan ramah lingkungan," ujar Sarah.


Chloe merasa senang bisa menjadi bagian dari tim kreatif ini dan berinteraksi dengan teman-temannya. Mereka semua berbagi minat yang sama dalam seni dan lingkungan, dan Chloe merasa semakin dekat dengan mereka setiap kali mereka bekerja bersama-sama.


__ADS_2