Unlikely Pair

Unlikely Pair
Memaafkan dan Dimaafkan


__ADS_3

Chloe berbaring di tempat tidur. Dia sibuk membuka gallery ponselnya yang penuh tumpukan foto-foto lama dia dan Jack. Saat dia berulang-ulang men-swipe foto, kenangan yang ditangkap di setiap foto berkejaran dalam kenangan. Hatinya terasa berat tetapi penuh harapan. Dia telah menempuh perjalanan jauh sejak awal hubungannya yang penuh gejolak dengan Jack. Air mata dan tawa mewarnai hubungan mereka. 


Tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan VC dari Jack. Chloe memencet tombol answer, tapi dia diam saja untuk beberapa saat, membiarkan Jack mendengarkan keheningan kamar.


"Chloe," Jack berbicara pelan, memecah kesunyian yang menyelimuti ruangan. "Aku tidak bisa mengungkapkan dengan benar betapa menyesalnya aku atas kesalahan yang pernah kulakukan. Aku menyakitimu, dan aku akan selalu menyesalinya. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku sungguh menyesal. Kedepannya, aku berjanji akan menjadi orang yang pantas kau banggakan."


Chloe mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan mata Jack. Segudang kemarahan berputar-putar di dalam dirinya, tetapi di antara itu semua, dia mencoba memaafkan dan memahami Jack. "Jack," dia memulai, suaranya mantap tetapi penuh kejujuran. "Aku telah belajar bahwa memaafkan bukanlah tentang menghapus masa lalu atau berpura-pura bahwa itu tidak pernah terjadi. Memaafkan adalah tentang mengakui rasa sakit, merangkul kesalahan, dan memilih untuk maju dengan lapang hati."


Jack mengangguk, ekspresinya merupakan campuran rasa terima kasih dan kerendahan hati. "Aku berjanji padamu, Chloe, aku akan menghabiskan sisa hidupku menebusnya untukmu. Aku akan menjadi pendukungmu yang tak tergoyahkan, orang kepercayaanmu, dan rekanmu dalam semua petualangan yang diberikan kehidupan."


Mata Chloe melembut, hatinya mendambakan cinta dan hubungan yang pernah dia ragukan. "Aku percaya padamu, Jack," bisiknya, kata-katanya membawa beban betapa beratnya memaafkan itu. "Aku percaya padamu dan pada setiap momen yang telah kita lalui bersama. Tapi kepercayaan adalah sesuatu yang perlu kita bangun kembali, selangkah demi selangkah."


Jack menarik napas dalam-dalam, memahami keseriusan kata-kata Chloe. "Aku bersedia melakukan apa pun," sumpahnya dengan sebulat tekad. "Aku akan lebih sabar dan jujur. "


Chloe menarik napas dalam-dalam dan menatap Jack. Dia bisa melihat ketulusan di matanya, dan itu membuat hatinya dipenuhi cinta. Dia tahu bahwa memaafkan adalah satu-satunya cara untuk maju, tetapi itu tidak akan mudah.


"Jack, aku mengerti kita berdua punya banyak kegiatan yang harus dilakukan, dan kita berdua akan sibuk." Chloe memulai. "Tapi aku ingin melangkah maju bersamamu. Bisakah kamu berjanji padaku bahwa kamu akan jujur padaku mulai sekarang?"


Jack mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Aku berjanji, Chloe. Aku akan selalu jujur padamu."

__ADS_1


Chloe merasakan beban terangkat dari pundaknya. "Aku memaafkanmu, Jack. Kita perlu membangun kembali kepercayaan dan memperbaiki komunikasi kita."


Jack tersenyum, kelegaan menyapu dirinya. "Aku mengerti, Chloe. Aku akan melakukan apa saja untuk memperbaiki hubungan kita."


Saat malam semakin larut, Chloe dan Jack terlibat dalam percakapan yang menyentuh hati. Mereka saling berbagi harapan, ketakutan, dan impian mereka. Mereka saling mengungkapkan kekhawatiran mereka. 


Keesokkan harinya, Chloe seorang diri berjalan melewati taman, dari ruang kelas menuju kantin. Jack tidak bisa menemaninya karena dia harus bertemu dengan guru matematika untuk mempersiapkan keikutsertaannya dalam olimpiade matematika. Chloe di tengah jalan berpapasan dengan Tyler. Chloe menoleh ke arahnya dan berkata, "Terima kasih telah ada untukku, Tyler. Kamu telah menjadi teman yang luar biasa."


Tyler tersenyum hangat padanya. "Tentu saja, Chloe. Itulah gunanya teman. Tapi kau tahu, aku harus mengakui sesuatu."


"Apa itu?" Chloe bertanya, penasaran.


Chloe melongok ke arah kantin. Seluruh bangku di kantin hampir seluruhnya terisi. Murid-murid tampak mengantre di stan-stan makanan yang ada di kantin. Suara-suara gelak tawa dan obrolan menguar di udara. Sama sekali bukan suasana yang tepat untuk obrolan penting dan serius. 


Akhir Chloe mengikuti ajakan Tyler duduk di taman di sekitaran kantin setelah mereka mengambil makanan. Chloe memilih sandwich ayam dan jus sayuran sebagai menu makan siangnya, sedangkan Tyler memilih burger daging ekstra keju dan segelas teh lemon. Mereka membawa menu makan siang mereka dan duduk di salah satu bangku taman.


Selama beberapa menit, mereka tidak berbicara dan sibuk menelan makanan mereka. Kelas di Arcadia terlalu mengerikan apabila dijalani tanpa secuil makan siang. Setelah makanan mereka habis, Tyler menatap lekat-lekat gadis di hadapannya, memohon perhatiannya dengan sangat. Dia berdeham, dan berkata, “Chloe….”


Chloe menatap Tyler menemukan sosok Tyler yang lain dari yang dikenalnya. Tyler di hadapannya tampak ringkih dan rentan, bukan Tyler yang tampak bisa menanggung segala beban dan sanggup menyelesaikan semua masalah.

__ADS_1


"Aku mulai menyukaimu, Chloe," kata Tyler. Matanya mencari-cari tanggapan dari Chloe.


Jantung Chloe berdetak kencang. Dia selalu menganggap Tyler sebagai teman, tapi sekarang dia merasakan percikan sesuatu yang lebih. Di sisi lain, baru semalam dia menyatukan janji dengan Jack untuk memperbaiki hubungan mereka. Chloe menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan pikirannya.


"Tyler, kamu orang yang luar biasa," kata Chloe, suaranya terdengar sedih. "Tapi aku masih mencintai Jack. Aku harus mengutamakan Jack sebelum aku bisa memikirkan hal lain."


Tyler mengangguk mengerti. "Aku menghargai itu, Chloe. Aku hanya ingin jujur padamu."


Chloe tersenyum padanya dengan rasa terima kasih. "Terima kasih, Tyler. Kamu adalah teman yang luar biasa."


Jantung Chloe berdetak kencang, tatapannya terkunci dengan mata Tyler. "Tyler, aku menghargai kejujuranmu. Memang benar perjalananku dengan Jack penuh tantangan, tapi kami telah mengatasinya. Aku butuh waktu untuk memilah perasaanku, tapi aku ingin kamu tahu bahwa kamu sangat berarti bagiku."


"Chloe, kamu tidak tahu betapa berartinya kata-kata itu bagiku," Tyler mengulurkan tangan dan dengan lembut meraih tangan Chloe, sentuhannya menghibur dan meyakinkan. "Chloe, gunakan semua waktu yang kamu butuhkan. Aku akan berada di sini, mendukungmu, apa pun keputusanmu. Persahabatan kita adalah yang terpenting.”


"Kau tahu, Tyler, betapa lucunya kehidupan bekerja," renung Chloe. "Ketika aku pertama kali saat tersesat di lobi, aku sangat senang ada yang membantuku di lingkungan yang asing ini. Dan lagi-lagi kau hadir saat aku tersesat dalam kehidupan percintaanku. Aku tidak pernah membayangkan betapa dasyat dampak yang kauberikan dalam hidupku. Kamu telah menjadi bagian perjalanan hidupku." Chloe memandang Tyler, “Terima kasih.”


Tyler tersenyum hangat pada Chloe, matanya dipenuhi kasih sayang yang tulus. "Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, Chloe. Itulah gunanya teman. Aku senang bisa mendukungan selama masa-masa sulit itu."


Selama beberapa saat, mereka berdua duduk dalam keheningan yang nyaman, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Chloe bertanya-tanya dalam hati apakah dia membuat keputusan yang tepat. Untuk saat ini, dia tahu bahwa dia perlu berfokus pada hubungannya dengan Jack.

__ADS_1


__ADS_2