
Chloe selalu merasa seperti orang asing di sekolah. Meskipun dia memiliki Emma, Mia dan Sarah, tidak satu pun dari mereka yang benar-benar memahaminya seperti Jack, terutama kesulitannya dalam belajar. Emma, Mia dan Sarah pandai. Nilai-nilai mereka selalu di atas Chloe. Tapi mereka tidak pandai mengajarinya. Bagi Chloe cuma Jack yang mampu membuatnya memahami pelajaran.
Chloe dan Jack menjadi akrab setelah secara kebetulan Chloe mendengar Jack bermain gitar di panggung terbuka bersama anak-anak teater. Saat itulah Chloe memulai percakapan dengannya tentang musik. Mereka dengan cepat menemukan kecintaan mereka pada musik, karena Chloe juga bisa main gitar meskipun tidak semahir Jack. Persahabatan mereka pun tumbuh dari sana. Bahkan ketika mereka melewati pasang surut nilai-nilai pelajaran sekolah, ikatan mereka semakin kuat sebab Jack mampu membimbing Chloe mendalami pelajaran sekolah.
Chloe duduk di mejanya, menatap kosong pada nilai ulangan bulanan matematika. Di sini dia tidak pernah menjadi murid yang pandai, terbukti dari nilai 4 yang terpampang dihadapannya. Chloe menghela napas dan bersandar di kursinya, merasa frustrasi dan kewalahan. Hasil ujian hariannya tidak seburuk ini, mengapa hasil ujian bulanan malah sangat buruk?
Saat itu, ponselnya berdengung dengan pemberitahuan. Itu adalah SMS dari Jack, yang duduk tepat di belakang Chloe.
"Hai Chloe, ada apa?" dia menulis.
Chloe tersenyum, bersyukur atas gangguan itu. Dia mengetik kembali balasan dengan cepat, menceritakan tentang perjuangannya dengan matematia.
Beberapa menit kemudian, Jack menjawab, "Aku bisa membantumu. Ingin bertemu sepulang sekolah?"
Jantung Chloe berdetak kencang. Dia sudah sering menghabiskan waktu dengan Jack di luar kelas sebelumnya, tetapi ajakan itu tetap membuat hatinya berdegup-degup. Gagasan untuk mendapatkan bantuan dari seseorang yang memahami materi terlalu bagus untuk dilewatkan. Apalagi oleh cowok tampan dan sebaik Jack.
"Ya," tulis Chloe cepat, jari-jarinya terbang di atas keyboard ponsel.
Sore itu, Chloe bertemu Jack di ruang belajar, tempat Jack memesan ruang belajar pribadi untuk mereka. Jack dan Chloe duduk berhadapan di sebuah meja panjang, buku dan kertas tersebar di antara mereka.
"Oke, mari kita mulai dengan soal ini," kata Jack sambil menunjuk ke salah satu lembar kerja matematika Chloe.
Chloe memperhatikan saat cowok itu menuliskan rumus dan angka-angka, suaranya tenang dan sabar. Saat dia berbicara, Chloe mendapati dirinya semakin terlibat dalam materi. Chloe benar-benar mulai mengerti tentang soal matematika itu.
"Wow, terima kasih, Jack," katanya, menyeringai padanya. "Kamu benar-benar guru yang baik."
__ADS_1
Jack tertawa. "Terima kasih, tidak masalah. Aku senang membantu."
Chloe dan Jack menghabiskan lebih banyak waktu bersama, belajar untuk ujian dan mengerjakan tugas pekerjaan rumah. Saat jam istirahat, mereka berbicara tentang kehidupan mereka, berbagi cerita tentang keluarga, binatang peliharan, hobi, dan buku favorit.
Chloe semakin nyaman berada di dekat Jack, bersyukur atas caranya selalu mendengarkan dan tidak pernah menghakiminya. Dia tidak pernah merasa sedekat ini dengan cowok mana pun sebelumnya, dan rasanya luar biasa.
Suatu hari, saat mereka berjalan pulang dari ruang belajar, Jack menoleh ke Chloe dan berkata, "Kamu tahu, Chloe, aku sangat senang kita bertemu. Kamu salah satu orang paling keren yang aku kenal."
Chloe merasa hatinya membengkak dengan kebahagiaan. "Terima kasih, Jack. Kamu juga keren."
Sejak saat itu, Chloe tahu bahwa persahabatannya dengan Jack adalah sesuatu yang istimewa. Bahkan ketika perjuangan akademisnya berlanjut, dia tahu bahwa dia selalu dapat mengandalkan Jack untuk selalu ada untuknya, membantunya melewati masa-masa sulit dan merayakan masa-masa indah.
Hari demi hari berlalu, Chloe semakin menantikan sesi belajarnya dengan Jack. Dia tidak bisa menyangkal fakta bahwa dia mulai naksir Jack. Bukan hanya kecerdasan dan kebaikannya yang membuatnya tertarik padanya, tetapi juga selera humor dan sifatnya yang santai.
"Seperti… hanya kita?" Chloe bertanya, ada sedikit keterkejutan dalam suaranya.
Jack mengangguk, jantungnya berdegup kencang. "Ya, hanya kita. Kita bisa menonton film atau… duduk berdua di taman menonton anak-anak kelas biola. Kudengar mereka akan mengadakan pesta di taman utama akhir pekan nanti"
Wajah Chloe berseri-seri. "Kedengarannya luar biasa."
Chloe tidak bisa memercayai keberuntungannya. Mereka membuat rencana untuk bertemu pada hari Sabtu. Di hari itu murid-murid Arcadia tidak belajar di sekolah. mereka bebas melakukan kegiatan apa pun.
Hari Sabtu pun tiba. Chloe memutuskan akan menonton film di bioskop. Sebetulnya dia tidak suka menonton film, dia lebih suka menonton pentas seni anak-anak kelas biola. Tapi, menonton film rasanya lebih terlihat ‘wajar’ ketimbang menonton pentas biola. Dan Chloe ingin terus membuat dirinya ‘sewajarnya’ anak-anak seusianya.
Chloe tiba di bioskop lebih awal, dia gugup sekaligus bersemangat. Dia melihat Jack berjalan ke arahnya, dan jantungnya berdetak kencang. Jack mengenakan t-shirt hitam dan celana jeans, dan rambutnya berantakan—tapi anehnya tetap trendi, sehingga membuat jantungnya semakin berdebar.
__ADS_1
"Hai, Chloe," sapa Jack, menyeringai padanya. "Siap menonton film?"
Chloe mengangguk. Saat mereka menonton film, Chloe mendapati dirinya beberapa kali mencuri pandang ke arah Jack, bertanya-tanya apakah cowok itu merasakan hal yang sama dengannya.
Setelah film selesai, mereka berjalan-jalan di taman, berbincang-bincang dan tertawa gembira. Chloe nyama berada di dekat Jack. Kenyamanan yang belum pernah dia rasakan dengan orang lain. Saat mereka duduk untuk makan camilan, Jack menoleh padanya dan berkata, "Kamu tahu, Chloe, kamu benar-benar istimewa bagiku. Aku belum pernah bertemu orang seperti kamu."
Hati Chloe hampir meledak dipenuhi kebahagiaan. "Benarkah? Kamu juga sangat spesial bagiku, Jack."
Mereka menghabiskan sisa hari itu bersama, menikmati kebersamaan satu sama lain. Ketika mereka berpisah di penghujung hari, Chloe merasa seperti melayang di udara.
Selama beberapa minggu berikutnya, Chloe dan Jack semakin dekat. Mereka mulai berkencan lebih banyak, menonton film, menonton konser, dan makan banyak camilan bersama. Chloe merasa beruntung akhirnya menemukan seseorang yang mengerti dan menerimanya.
Saat mereka duduk di tangga menuju gerbang asrama, Jack menoleh ke Chloe dan berkata, "Hei, bisakah kita membicarakan sesuatu yang serius? Sebentar saja?"
Chloe yang hendak menapaki tangga komplek asrama, mengurungkan niatnya dan mengikuti Jack ke sudut tangga ke bagian yang agak tersembunyi dari lalu-lalang siswi yang hendak pulang ke asrama.
Jack menatapnya, kekhawatiran terukir di wajahnya.
Chloe menarik napas dalam-dalam.
"Aku tidak ingin kehilangan kamu."Jack meraih tangan Chloe.
"Kamu tidak akan kehilangan aku.” bisik Chloe. Gadis itu merasakan kelegaan menyapu dirinya. Dia tahu bahwa dia sangat merindukan Jack, dan pernyataan Jack barusan melenyapkan penasarannya.
Selama berhari-hari berikutnya, Chloe dan Jack semakin dekat. Mereka mulai berkencan. Mereka menonton film, menonton konser, dan makin seing belajar bersama. Chloe merasa beruntung akhirnya menemukan seseorang yang mengerti dan menerimanya.
__ADS_1