Unlikely Pair

Unlikely Pair
Seleksi Tim Basket


__ADS_3

Jack tidak hanya pintar dan jago main gitar, dia juga atlet basket berbakat. Ketika SMP, Jack tim inti basket sekolah yang mengharumkan nama sekolah di berbagai tanding basket antar sekolah.  Dia kuat, cepat, dan sangat fokus, dan dedikasinya terbayarkan dalam bentuk berbagai penghargaan dan tentu saja sanjungan cewek-cewek.


Terlepas dari kesuksesannya di lapangan, Jack tidak pernah menjadikan prestasi atletiknya sebagai ajang menyombongkan diri. Dia tetaplah Jack yang rendah hati dan pekerja keras, selalu berusaha meningkatkan kualitas dirinya baik di dalam maupun di luar lapangan.


Suatu hari, saat Jack mengantarkan Chloe kembali ke asrama sepulang sekolah, Chloe menoleh padanya dan berkata, "Jack, selamat ya. Nilai-nilai ulangan harianmu sempurna. Kamu benar-benar hebat." 


Tadi di sekolah guru baru saja membagikan hasil ulangan harian. Jack mendapat nilai 100 untuk semua pelajaran, sedangkan Chloe nilai paling tingginya 80, untuk pelajaran Bahasa Inggris, lainnya di bawah itu, antara 60 atau 70. 


Jack tersenyum. "Terima kasih, Chloe. Tapi sejujurnya, aku tidak bisa mendapat semua itu tanpa kerja keras. Bagiku, itulah kunci kesuksesan, baik dalam pelajaran sekolah maupun kehidupan."


Chloe mengangguk. Dia selalu mengagumi kemampuan akademis Jack, tapi sekarang dia juga mulai melihat kedalaman karakternya.


"Aku tahu," kata Chloe, menyenggolnya main-main. 


Jack tersipu-sipu malu. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan. “Hum… Chloe. Sabtu nanti aku ada tanding basket. Semacam tes untuk untuk membentuk tim basket sekolah. Kamu mau lihat?”


“Kamu ikut tim basket sekolah?” Chloe terpana. Jack hebat dalam pelajaran, hebat pula dalam musik, dan sekarang cowok itu tengah menjajal seleksi tim basket sekolah.


Jack nyengir. “Awalnya aku hanya mencoba mendaftar, ikut tes mandiri dan diterima. Sabtu nanti, kami yang lolos tes akan dibentuk tim kemudian uji tanding sungguhan dengan tim basket sekolah.”


Tiba-tiba Chloe teringat Tyler. Dulu cowok itu pernah mengajaknya menonton timnya latihan tanding basket. Dari seragam yang digunakan, itu bukan seragam kelas, jadi kemungkinan Tyler tim inti basket sekolah. 


“Timmu lawan siapa?”

__ADS_1


“Aku tidak tahu pasti. Ada yang bilang melawan tim sesama peserta tes tapi ada juga yang bilang para peserta tes melawan tim inti basket sekolah.”


“Apa tim inti memakai seragam biru tua dengan tulisan Arcadia berwarna oranye cerah?”


“Setahuku iya. Waktu aku tes mandiri, kakak-kakak tim inti memakai seragam itu. Kenapa?”


“Kupikir kamu harus berlatih ekstra keras. Mereka sangat mahir.”


“Oh ya? Kamu pernah melihat mereka berlaga?”


“Belum sih. Aku pernah melihat mereka latihan bertanding. Kak Tyler mengajakku melihatnya bertanding.”


Jack berjenggit. “Tyler? Tyler kelas XI?”


Chloe mengangguk.


"Jadi… tadi kapan pertandingannya? Aku tidak ingin melewatkannya."


Mata Jack berbinar, tidak percaya bahwa Chloe masih antusias mengikuti kegiatan yang sudah pernah dilakukan. "Sabtu ini. Kamu harus datang. Seperti yang kamu tahu, aku akan melawan rival terbesarku, dan aku jamin itu akan sangat seru!"


Chloe mengangguk penuh semangat. "Oke."


Sabtu yang dinanti-nantikan Jack pun tiba. Chloe duduk di bangku penonton bersama ketiga sahabatnya. Ketika kedua tim memasuki lapangan, cewek-cewek berseru-seru meneriakkan nama “Tyler… Tyler…!”

__ADS_1


Chloe menegakkan badannya dan melihat Tyler berjalan paling depan memasuki lapangan. Dengan muka lucu, cowok itu bergaya bak idola, melambaikan ke dua tangannya ke arah cewek-cewek yang berteriak-teriak itu. Dan dengan konyolnya para gadis itu pun berlagak fans berat Tyler. Para gadis itu sesungguhnya teman-teman seangkatan Tyler.


Tanpa sadar, Chloe tertawa. Kebahagiaan Tyler dan teman-temannya menularinya. Ekspresi tertawa Chloe tertangkap Tyler. Cowok itu sejenak kaget dan setelahnya tampak sangat bahagia. Dia menjentikkan tangannya membentuk love ke arah Chloe. Gadis itu tersentak dan kikuk. Apalagi ketika segerombolan cewek-cewek kelas XI itu kompak menoleh ke arahnya—atau lebih tepatnya ke arah tangan Tyler terulur. Mereka tidak menemukan seorang pun cewek yang mereka kenal sedang dekat dengan Tyler sehingga mereka kembali berpaling dan menganggap Tyler cuma asal menjentikkan jari saja.


Padahal Chloe setengah mati menahan pipinya yang memerah. Emma berbisik, “Kamu naksir Tyler?” Emma mengira Chloe hanya geer melihat tingkah Tyler. Chloe pura-pura cemberut dan menyuruh Emma diam.


Di sisi berlawanan, tim Jack memasuki lapangan. Rupanya Jack juga ditunjuk sebagai kapten. Dia berjalan paling depan memimpin teman-teman sekaligus saingannya itu. Momen Tyler menjentikkan jari kepada Chloe tadi cukup membuat hatinya berdesir marah. Tapi dia bertekad menyingkirkan masalah itu untuk sementara. Lagi pula di sisi kanan dan kiri Chloe ada gerombolan cewek-cewek lain seangkatan Tyler. Bisa jadi, Tyler menujukan aksinya untuk mereka dan bukan untuk Chloe.   


Jack berjalan ke lapangan basket, merasakan berat bola di tangannya. Dia telah berlatih, mengasah kemampuannya dan menyempurnakan pukulannya. Dia bertekad masuk tim sekolah tahun ini. Tidak boleh ada seorang pun mengacaukannya.


 Dari tempat duduknya, Chloe menyaksikan Jack terus mendominasi lapangan membuat tim Tyler kewalahan. Chloe melihat Jack tersenyum bangga di wajahnya. Dia senang melihat kelebihan Jack lainnya. Jack bergerak dengan anggun sekaligus gesit saat dia men-dribble bola meliuk menghindari tim Tyler dan menembak.


Dengan tembakan sambil melompat yang mulus, dia memasukkan bola ke keranjang lawan. Aksinya itu mendapat sorak-sorai dari rekan satu timnya dan penonton, termasuk Chloe.


Gadis itu bertepuk tangan dan bersorak, merasa bangga dengan prestasi temannya. Dia sendiri tidak pernah tertarik pada olahraga, tetapi dia senang melihat semangat dan keterampilan Jack.


Kali ini giliran tim Tyler yang menguasai bola. Tyler berusaha keras menerobos pertahanan Jack, berkelit-kelit menghindari pemain tim Jack. Ketika akhirnya dia berhasil memasukkan bola dalam keranjang tim Jack, Tyler langsung beraksi. Dia menandak-nandak dan berputar-putar di sekitar pemain lain. 


Cewek-cewek seangkatannya tertawa riuh melihat tingkah Tyler. Chloe akui, Tyler lucu dan konyol. Tyler tahu lelucon tepat untuk menghibur Chloe. Gadis itu diam-diam merasakan hatinya menghangat melihat tingkah Tyler. Dia tahu benar, Tyler melakukan aksi itu demi mengekspresikan keberhasilannya sendiri, tapi Chloe merasa, Tyler melakukan aksi itu untuk menghiburnya dan membuatnya cerah.


Setelah pertandingan, Jack menghampiri Chloe dengan seringai di wajahnya. "Apakah kamu melihat aksiku tadi?" dia bertanya, masih terengah-engah dari permainan.


Chloe tertawa. "Tentu saja. Kamu luar biasa di luar sana. Jack menjadi pemain bintang, mencetak poin demi poin memimpin timnya menuju kemenangan.

__ADS_1


Ketika Chloe dan Jack berbincang, dari kejauhan Tyler menatap sedih. Bukan karena kalah, toh ini hanya pertandingan pura-pura. Kekalahan timnya justru mempermudah dirinya mencari pemain-pemain terbaik untuk bergabung dengan tim inti. Tyler sedih karena sesungguhnya dia berencana berbagi kemeriahan pertandingan hari ini dengan Chloe.


__ADS_2