Unlikely Pair

Unlikely Pair
Masuk Klub Menulis?


__ADS_3

Chloe sedang mengikuti kelas Sastra Inggris. Di Arcadia para siswa bukan belajar Bahasa Inggris seperti kebanyakan siswa SMU lain, tapi Sastra Inggris. Mereka akan mempelajari novel-novel sastra dan buku-buku puisi puncak kegemilangan kesustraan dunia, terutama yang disajikan dalam Bahasa Inggris.


Chloe baru menyadari bahwa buku-buku karya sastra lama dalam kesustraan Inggris pun sama peliknya dengan kesustraan Indonesia. Keduanya sama-sama menggunakan bahasa purba yang sudah tidak digunakan ataupun jarang digunakan di masa kini.


 Mata Claudia terpaku pada halaman novel yang sedang mereka pelajari. Dia selalu menyukai buku dan membaca, tetapi membaca Jane Eyre dalam bahasa aslinya membuat keningnya berkerut-kerut. Bahasanya memang indah tetapi kuno dan berbelit-belit. Chloe suka pelajaran bahasa Inggris Chloe, tapi tetap saja, membaca buku sastra membuatnya pening. Meskipun demikian, Chloe tetap dapat menemukan penghiburan dalam cerita yang dia baca, dan karakternya menjadi seperti teman baginya.


Saat Ms. Wilson guru Bahasa Inggris-nya memberikan materi tentang simbolisme dalam novel, pikiran Chloe mulai mengembara. Dia mulai membayangkan ceritanya sendiri, dengan karakter dan alur ceritanya sendiri. Dia mengambil pulpen dan mulai menuliskan ide-ide di pinggir buku catatannya.


Setelah kelas selesai, Chloe berjalan dalam lamunan ke lokernya. Dia begitu fokus pada tulisannya sehingga dia bahkan tidak menyadari Jack mengiringinya.


"Hai apa kabar?" Jack menyenggol bahunya.


Chloe terlonjak, terkejut dari lamunannya. "Oh, maaf, Jack. Aku hanya sedang sibuk berpikir."


"Tentang apa?" tanya Jack penasaran.


Chloe ragu sejenak, lalu menunjukkan catatan di buku catatannya. Jack memindai halaman itu sejenak kemudian mengangguk-angguk sambil terus membaca.


"Ceritamu benar-benar menarik, Chloe," katanya sambil tersenyum padanya. "Kamu sangat berbakat menulis."


Chloe merasakan pipinya memerah karena senang. Dia selalu suka menulis, tetapi dia belum pernah berbagi pekerjaannya dengan siapa pun sebelumnya. Pujian Jack memberinya kepercayaan diri untuk terus menulis.

__ADS_1


Chloe senang menulis cerita setiap kali dia punya waktu luang. Dia menulis saat istirahat makan siang, sepulang sekolah, atau saat malam menjelang jam tidur. Menulis membebaskan jiwa Chloe sebab dia bisa mencurahkan segenap hati dan jiwanya ke dalam karakter, memberi mereka kehidupan mereka sendiri—kehidupan yang dicita-citakan Chloe.


Chloe sempat meragukan pujian Jack dan sadar diri bahwa tulisannya tidaklah sebagus itu. Tapi antusiasme Jack terhadap tulisannya menular, dan dia tidak bisa menahan diri untuk berbagi lebih lagi pada Jack.


"Ini adalah cerita tentang seorang gadis yang menemukan dunia rahasia yang tersembunyi di dalam kamarnya sendiri," katanya, suaranya nyaris berbisik.


Jack mencondongkan tubuh lebih dekat, ke arah Chloe dan tersenyum lebar. “Bukankah Jane Eyre itu kisah cinta? Bagaimana bisa saat kita membahasnya kamu malah terpikirkan kisah misteri?” Jack menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tapi ini luar biasa, Chloe," katanya lagi. "Aku benar-benar berpikir kamu harus membaginya dengan lebih banyak orang. Mungkin kamu bisa mengirimnya ke tim majalah sekolah atau… kamu sudah bergabung dengan mereka?"


“Tidak. Aku belum memilih kegiatan ekstrakulikuler apa pun.”


“Yah… kita masih punya waktu memilih sampai akhir bulan ini, sih,” sahut Jack penuh maklum. “Atau kamu mau bergabung bersamaku di kelompok seni pertunjukkan? Kita bisa duet gitar bersama.” Jack setengah memberi saran setengah merayu Chloe.


“Kamu kan tahu, kemampuanku main gitar tidak sebaik dirimu,” keluh Chloe.


“Sebetulnya aku lebih suka sains, dan memilih salah satu dari kelompok-kelompok penelitian di laboratorium. Itu cita-citaku dulu, sebelum nilai-nilaiku hancur lebur di sini.” 


“Selalu ada yang lebih istimewa dari yang paling istimewa, Chloe.” Jack menghibur Chloe, dan membuat gadis itu kembali tersenyum. Diam-diam Chloe mulai memikirkan untuk bergabung dengan kelompok jurnalistik. Siapa tahu, Jack benar dan dia benar-benar berbakat menulis cerita.


Hanya dengan memikirkan gagasan itu saja sudah membuat Chloe gembira. Dia selalu menyimpan tulisannya untuk dirinya sendiri, terlalu takut ditolak untuk menunjukkannya kepada orang lain. Tapi dorongan Jack membuatnya berani.


Selama beberapa hari berikutnya, Chloe merevisi dan memoles ceritanya sampai dia puas dengannya. Dia mencetak salinannya dan menyerahkannya kepada Ms Brigita, guru pendamping kelompok jurnalistik.

__ADS_1


Ms Brigita membaca cerita Chloe dengan penuh minat. dengan penuh perhatian, matanya melebar karena terkejut saat dia membalik halaman. Ketika dia selesai, dia menatap Chloe sambil tersenyum.


"Ini sangat bagus, Chloe," katanya. "Aku pikir ini bisa diterbitkan di majalah sekolah, sebagai cerita bersambung. Nanti Ibu akan membahasnya bersama tim redaksi majalah sekolah."


Chloe merasakan air mata menusuk di sudut matanya. Dia tidak pernah merasa begitu bangga pada dirinya sendiri sebelumnya. Dia tidak sabar berlari ke luar ruangan, mencari Jack di kelas atau di manapun dan memberitahu cowok itu tentang kabar baik ini. Chloe terpaksa sekuat hati menahan langkahnya karena Ms Brigita tampak seperti masih ingin membicarakan banyak hal dengannya.


“Kenapa kamu tidak bergabung dengan klub menulis?”


Karena aku anak rata-rata. Bisa mengerjakan semua hal tapi tidak ada kemampuan yang menonjol, keluh Chloe dalam hati. “Saya masih belum yakin. Mungkin saja, cerita saya kali ini bagus. Tapi bisa saja saya gagal membuat cerita kedua dan ketiga dan seterusnya sampai tidak pernah ada lagi cerita bagus yang bisa saya buat.”


Ms Brigita menghela napas. “Tidak apa-apa. Kalaupun kamu tidak bisa menghasilkan tulisan yang bagus, setidaknya kamu mendapatkan ilmu penulisan yang belum pernah kamu dapatkan sebelumnya. Kamu akan mendapat pengalaman memproduksi majalah, buku, atau koran.”


“Humm… akan saya pertimbangkan,” jawab Chloe lirih.


“Ibu sangat berharap kamu mau bergabung dengan kelompok ini.”


Chloe meringis dan berpamitan pada gurunya itu. Kepalanya sudah dipenuhi antusiasme ingin membagikan kabar gembira ini dengan Jack. Bagaimanapun cowok itu punya andil cukup besar dalam debutnya kali ini.


Ketika Chloe melihat Jack di lorong, Chloe spontan berlari ke arahnya. "Jack, kamu tidak akan percaya," katanya, hampir melompat kegirangan. "Ms. Brigita menyukai ceritaku! Dia bilang aku punya bakat menulis!"


“Tuh kan! Apa kubilang!” Jack menyeringai padanya, matanya berbinar bangga. "Aku selalu tahu kamu bisa melakukannya, Chloe. Aku sangat bahagia untukmu."

__ADS_1


Kecintaan Chloe pada sastra dan menulis seketika tumbuh. Dia melahap buku demi buku dalam daftar bacaan kelas Bahasa Inggris-nya. Dia mempelajari kosakata sulit sekaligus menemukan inspirasi dalam cerita yang dia baca. Tentu saja bersama Jack di sisinya, dia merasa tidak ada yang mustahil. Sama seperti saat Chloe harus berjuang mengatasi rumus-rumus Matematika dan Fisika, kali ini pun Jack menjadi kesatria penyelamatnya.


Chloe selalu berseri-seri saat bersama Jack. Segala kesulitan seakan sirna apabila ada Jack di sisinya. Dalam hati kecilnya, Chloe berharap Jack akan terus mendukungnya melampaui segala rintangan yang ada di dunia Arcadia ini. 


__ADS_2