
Dengan dukungan dan dorongan Tyler, Chloe mulai mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Dia fokus pada kelasnya, impian, hobi dan ciri khasnya sendiri. Dia mengelilingi dirinya dengan pengaruh positif dari para sahabatnya dan melakukan aktivitas yang memberinya kegembiraan dan keceriaan, dalam klub jurnalistik.
Saat Chloe terus memprioritaskan kebahagiaannya sendiri, dia melihat perubahan dalam hubungannya dengan Jack. Cowok itu justru menjauh darinya. Sikap Jack membuat Chloe bingung. Dia tidak ingin terkekang dengan teman-teman Jack, dia punya teman-temannya sendiri dan punya minatnya sendiri.
Hari-hari diisi Chloe dengan mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Jack tentang kekhawatirannya. Dia mengatakan kepadanya bahwa dia telah terlalu banyak berubah dengan menyenangkan Jack dan kelompoknya, dan itu membuatnya kehilangan jati dirinya. Dia ingin tampil apa adanya saat bergaul dengan mereka.
Suatu hari, Chloe sampai pada satu kesimpulan bahwa dia harus berbicara dengan Jack, agar dapat mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya dan menegaskan arah hubungan mereka.
Beberapa hari kemudian, Chloe menghubungi Jack, untuk mengajak cowok itu bertemu di taman, di kursi taman tempat favorit mereka. Jantungnya berdegup kencang karena gugup saat menunggu Jack datang. Dia tahu bahwa percakapan ini akan menjadi sangat penting dalam perjalanan mereka bersama. Chloe mengambil napas dalam-dalam, saat Jack tampak dari kejauhan.
Ketika akhirnya Jack tinggal beberapa langkah lagi darinya dan melihat Chloe duduk di sana, Jack merasakan campuran keterkejutan dan cinta. Sudah lama mereka tidak mengkhususkan diri bertemu berdua saja, selalu ada ada teman-teman Jack. "Cloe, apa kabar?" dia bertanya, suaranya terdengar waswas.
Chloe menatap langsung ke mata Jack, tatapannya penuh tekad. "Aku perlu berbicara denganmu tentang sesuatu yang sangat membebani pikiranku."
Jack duduk di sebelah Chloe. Beragam emosi mereka beterbangan berputar-putar di sekitar mereka; cinta, harapan, takut, khawatir, sesal dan juga marah. Dedaunan dari pohon- tanjung yang menaungi mereka bergemerisik tertiup angin. Bunga-bunga tanjung berjatuhan di pangkuan mereka. Bunga-bunga putih, mungil, dan bersudut-sudut mirip bintang, dengan wangi semerbak. Bunga-bunga itu bunga-bunga tua yang habis mekar sempurna semalam.
Jack menatapnya, alisnya berkerut karena khawatir. "Tentu saja, Chloe," jawabnya, lembut. "Kau bisa membicarakan apa saja denganku."
__ADS_1
Chloe menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan pikirannya. "Akhir-akhir ini, aku merasa seperti kehilangan diriku dalam hubungan kita," akunya, pandangannya tertuju pada titik nun jauh di sana."Jack, aku banyak berpikir," Chloe memulai, suaranya terdengar rapuh. "Aku menyadari bahwa aku telah berusaha terlampau keras menyesuaikan diri dengan kelompokmu agar cocok dengan duniamu. Tapi kupikir-pikir lagi, itu tidak adil bagi kita berdua."
Jack mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya tertuju pada Chloe, mencari tahu arah pembicaraan Chloe. “Aku tidak sepenuhnya paham, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mendukungmu dan keinginanmu.”
Chloe mengangguk, merasa lega sekaligus khawatir. "Aku ingin hubungan kita tumbuh bersama-sama dengan lingkungan pertemanan kita," lanjut Chloe. "Aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri dalam prosesnya. Dan aku juga tidak ingin kamu merasa tertekan untuk berubah. Tapi lebih dari itu, aku ingin teman-teman kita juga tidak berubah.”
Jack menarik napas dalam-dalam, hatinya berat dengan beban pemikirannya sendiri. "Chloe, aku minta maaf jika aku membuatmu merasa harus berubah. Itu bukan niatku. Aku mencintaimu apa adanya, dan aku ingin kita tumbuh bersama, sebagai individu dan sebagai pasangan." Jack mengulurkan tangan dan dengan lembut meraih tangan Chloe, sentuhannya menenangkan. "Aku juga mencintaimu, Chloe," katanya dengan sungguh-sungguh.
“Tapi, teman-temanmu menjauhiku saat kita bersama. Mereka bersikap canggung. Ketika aku sudah mencoba membaur dengan mengobrol tentang hal-hal umum, mereka sepertinya sengaja kembali lagi membahas hal-hal tentang klub basket yang tidak kumengerti! Bahkan mereka terang-terangan mengejekku karena aku pendek dan gendut!”
Jack mendengarkan dengan penuh perhatian, ekspresinya serius. "Chloe, aku tidak pernah bermaksud membuatmu merasa harus berubah demi aku atau teman-temanku," katanya. "Aku mencintaimu apa adanya, dan aku ingin kamu bahagia."
Ekspresi Jack melembut saat dia menyadari betapa dia telah menekan Chloe untuk menyesuaikan diri dengan lingkaran sosialnya. "Chloe, maafkan aku. Aku tidak menyadari betapa aku memintamu berubah untukku," katanya, mengulurkan tangan untuk meraih tangannya. "Aku mencintaimu apa adanya, dan aku tidak ingin kamu merasa harus menjadi orang lain agar cocok dengan teman-temanku."
Chloe mengangguk, pandangannya tertuju ke tanah. "Aku tahu kamu tidak bermaksud begitu," jawabnya pelan. "Tapi sikap mereka membuatku terbebani. Aku ingin tampil sebagai diriku sendiri dan mereka sebaiknya menerima apa adanya aku."
Jack mengulurkan tangan dan dengan lembut meletakkan tangannya di tangan Chloe, menawarkan dukungan padanya. "Chloe, aku sangat peduli padamu," katanya dengan tulus. "Aku ingin kamu merasa nyaman dalam hubungan kita."
__ADS_1
Chloe menatap Jack, matanya penuh kerentanan. "Aku takut kehilanganmu," akunya, suaranya nyaris berbisik. "Tapi aku juga tidak ingin kehilangan diriku."
Ekspresi Jack melembut, ibu jarinya dengan lembut membelai punggung tangan Chloe. "Aku juga tidak ingin kehilanganmu," katanya penuh cinta. "Aku ingin kita saling mendukung untuk menjadi diri kita yang sebenarnya tanpa mengorbankan hubungan kita."
Campuran kelegaan dan harapan menyelimuti Chloe. Dia menyadari bahwa Jack memahami kekhawatirannya. Ini adalah langkah penting dalam perjalanan cinta mereka menuju hubungan yang lebih sehat dan lebih tulus.
Chloe lega, beban di pundaknya telah sirna. Dia bahagia mengetahui bahwa Jack benar-benar menyayanginya dan bersedia bekerja sama untuk mengatasi tantangan mereka dan membantu Chloe beradapatasi dengan teman-teman Jack.
"Aku senang kita melakukan percakapan ini," kata Chloe, senyum kecil terbentuk di bibirnya. “Penting bagi kita untuk terbuka dan jujur satu sama lain. Mari berjanji untuk selalu mengomunikasikan keinginan kita.”
Jack meremas tangan Chloe pelan, matanya dipenuhi dengan cinta. "Aku berjanji, Chloe," jawabnya.
Chloe menyandarkan kepalanya di bahu Jack. "Terima kasih kamu mau memahamiku," bisiknya.
Jack merangkul Chloe, menariknya lebih dekat. "Aku di sini untukmu, Chloe," katanya, suaranya penuh ketulusan. "Aku hanya ingin kita sama-sama bahagia."
Chloe sangat lega saat dia menyadari bahwa Jack benar-benar peduli padanya. Mereka berbicara selama beberapa saat tentang harapan dan impian mereka, ketakutan dan kekhawatiran mereka. Dan ketika semua isi hati sudah diungkapkan, mereka mereka duduk dalam keheningan, saling bergenggaman tangan erat, menikmati angin sejuk menggoyang-goyangkan dedaunan di sekitar mereka.
__ADS_1
Saat dia berjalan pulang malam itu, Chloe tahu bahwa hubungannya dengan Jack jauh dari sempurna, tapi itu layak dipertahankan. Chloe menemukan bahwa hubungannya dengan Jack bukan lagi sumber ketidakamanan atau keraguan. Hubungan mereka telah berubah menjadi relasi yang dibangun di atas kepercayaan, pengertian, dan janji untuk tumbuh bersama-sama baik sebagai individu maupun sebagai pasangan.